Lain-lain

Proyek Rp 12 Miliar Disoal Warga


PROBOLINGGO – Proyek pembangunan dan peningkatan drainase pada program Kotaku (Kota tanpa Kumuh) di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, diprotes warga. Alasannya, pagar milik warga jadi miring dan bahkan nyaris roboh. Belum lagi proyek senilai Rp12 miliar itu justru dinilai hanya akan memperparah banjir.

Hal itu terungkap saat Komisi III DPRD Kota Probolinggo melakukan inspeksi mendadak (sidak) Kamis (28/10) siang. Sebelum sidak, Komisi III mendapatkan pengaduan dari warga. Salah satunya karena proyek Kotaku itu ada pagar milik warga yang nyaris roboh.

Selain itu, adanya tambahan drainase box culvert justru berpotensi memicu banjir di saat turun hujan. Alasannya karena permukaan lahan warga dan jalan justru lebh rendah dibanding dengan adanya proyek tersebut.

Saat tiba di lokasi, rombongan Komisi III DPRD langsung mendapatkan pengaduan warga. Salah satunya ialah warga bernama Muhammad. Warga asli Mayangan itu mengatakan bahwa adanya proyek itu justru menyusahkan warga. “Sudah laporan ke Pak Lurah, tapi tetap saja proyek ini dilanjut dan warga yang bangunannya rusak tidak ada kepastian perbaikan,” katanya.

Sementara, Ketua RT 1 RW 5 H. Adi mengatakan, sebenarnya permasalahan utama dalam proyek itu yakni besaran drainase yang dibangun tidak dijelaskan dalam sosialisasi pada tahun 2019 lalu. “Sudah ada sosialsiasi kalau jalan ini dan drainasenya akan dibangun, tapi tidak menjelaskan seberapa besar. Setelah proyek ini berjalan, ternyata box culvert-nya tinggi banget,” katanya.

Karena ketidak-sesuaian itu warga jadi kaget. Terlebih, fasilitas warga juga ikut rusak, seperti tembok rumah yang nyaris roboh. “Ya kalau seperti itu, bagaimana? Kalau bisa nanti menyesuaikan yang ada saat ini, dan justru memudahkan, bukan menyusahkan. Kami sendiri senang dengan adanya proyek ini. Cuma ya begitu, jangan tambah menyusahkan,” kata Adi. 

Permasalahan lainnya ialah drainase yang terlalu tinggi itu membuat air pembuangan warga juga akan memicu banjir di kala hujan. “Persoalannya begitu, karena drainase tinggi, otomatis kalau air hujan, banjir kan masuk ke saluran air warga. Justru tambah banjir,” jelasnya.

Sementara itu, Amirul selaku pelaksana lapangan dari PT Gala Karya mengatakan, proyek ini dilakukan di wilayah Mayangan. Salah sau pengerjaannya yakni  peningkatan drainase di kawasan kumuh. “Jadi kami memperbaiki saluran eksisten yang tersumbat, diperbaiki. Termasuk untuk pebebasan sampah,” terangnya.

Amirul mengatakan, proyek ini alokasi anggarannya Rp 12 miliar. “Dengan anggaran itu semua wilayah di Mayangan diperbaiki. Karena sebelumnya macet, tersumbat dengan sedimentasi sampah,” katanya.

Tidak hanya drainase, dalam proyek ini juga peningkatan jalan. Termasuk di Gang Ikan Belanak yang drainasenya terlalu tinggi dibanding badan jalan. “Tetap ada perbaikan jalan, sehingga ketika drainase itu sudah selesai dibangun, akan dilanjutkan dengan peningkatan jalan.  Sehingga, ketika hujan datang, air itu tetap masuk pada drainase yang kami bangun,” terang Amirul.

Target pengerjaan itu dideadline awal Februari 2022 mendatang.  “Pengerjaan ini dimulai Juni 2021,” tandasnya.

Sedangkan, Kabid Perkim pada Dinas PUPR Kota Probolingo Muhammad Kholik memastikan adanya proyek itu tidak akan menyusahkan warga dan akan berdampak banjir yang leih parah dibanding sebelum adanya bangunan itu. “Sudah kami hitung debit air hujan selama sepuluh tahun terakhir. Karenanya, warga tidak perlu khawatir akan banjir. Tapi, adanya proyek Kotaku ini jangka panjangnya tidak akan banjir,” katanya.

Kholik mengungkapkan proyek Kotaku ini berasal dari dana Bank Dunia dengan menelan anggaran kurang lebih Rp 12 miliar. Besaran anggaran itu karena memang proyek ini salah satu tujuannya untuk memperbaiki seluruh drainase di Mayangan. “Jadi bukan parsial, tapi secara keseluruhan digarap, Dari Kelurahan Sukabumi sampai ke Mayangan. Jadi, ada lima saluran yang semuanya nanti bermuara di laut utara,” katanya.

Ia pun memastikan, semua keinginan warga termasuk soal banjir dan kesulitan pembuangan akan tetap diperbaiki sesuai dengan ketentuan. “Ketika banjir pun, semuanya sudah disiapkan alat penyedotnya. Termasuk ketika ada fasilitas warga yang rusak, tetap diperbaiki. Kalau misalkan ada hal yang tidak sesuai, laporkan ke saya untuk kami tembuskan ke pelaksana proyek,” tandasnya. (rul/iwy)


Bagikan Artikel