Lain-lain

Kiai Mutawakkil: Tidak Ada KLB di NU


KRAKSAAN – Kabar negatif cukup kencang menerpa Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kraksaan dan PCNU Kabupaten Probolinggo beberapa waktu terakhir. Yakni setelah ada pihak-pihak tertentu yang mendesak agar kepengurusan di 2 PCNU tersebut harus dirombak.

Hal tersebut mendapat perhatian khusus dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Dua pengurusnya, yakni Wakil Rais PWNU KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah dan Katib Syuriah PWNU KH. Syafruddin Syarif menyampaikan sikap PWNU.

Keduanya hadir dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan resepsi Hari Santri Nasional (HSN) 2021 di kantor PCNU Kota Kraksaan, Selasa (26/10). Dua ulama ini sama-sama memberikan ceramah secara bergantian.

Syafruddin Syarif menerangkan, PCNU Kota Kraksaan maupun PCNU Kabupaten Probolinggo adalah pengurus yang sah secara aturan organisasi. Sehingga tidak ada alasan untuk merombak kepengurusan PCNU secara menyeluruh. Kiai Syafruddin juga mengaku mendengar muncul isu KLB (Konferensi Luar Biasa) dua PCNU tersebut.

“KLB itu tidak ada ada dalam AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) Nahdlatul Ulama. Kalau ada pergantian pengurus, ada mekanisme PAW (Pergantian Antar Waktu) dalam kondisi-kondisi tertentu,” terangnya.

Kiai Syafruddin berharap nahdliyin (warga NU) tidak termakan isu maupun gerakan yang menyesatkan NU secara organisasi. Ia menyatakan NU lahir dari ikhtiar dan perjalanan panjang ulama Nusantara terdahulu. Keberadaan NU telah nyata menghadirkan manfaat besar terhadap sejarah panjang Indonesia. Sehingga muncul pengakuan dari Negara terhadap peran besar NU berupa penetapan Hari Santri Nasional.

“Pengakuan dari Negara ini harus dijawab dengan pengabdian yang nyata oleh pengurus NU. Mari bersama-sama menjalankan roda organisasi dengan baik agar NU senantiasa memberikan manfaat seluas-luasnya,” tegasnya.

Ia meminta pengurus NU Kraksaan maupun Kabupaten Probolinggo untuk tetap bergerak sesuai aturan dan amanat organisasi. Ia meminta pengurus NU tidak terpengaruh ‘ancaman serangan’ dari pihak-pihak di luar kepengurusan yang berpotensi mengganggu jalannya organisasi.

“Anjing menggonggong kafilah berlalu,” tegasnya.

Sementara itu, KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah menuturkan bahwa selama ini PCNU Kota Kraksaan telah berjalan di rel yang benar. Khususnya secara organisasi. Sehingga tidak ada alasan untuk menggelar mekanisme KLB yang nyata-nyata tidak ada dalam AD/ART Nahdlatul Ulama.

“Tidak ada istilah KLB di NU. Itu tidak perlu dilaksanakan. Sudah, pengurus NU jalan saja. Omongan orang di luar sana tidak perlu didengarkan,” tutur Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Pajarakan Probolinggo ini.

Kiai Mutawakkil mengungkapkan, selama ini memang banyak pihak yang tidak senang kepada NU. Sifatnya personal, namun dikait-kaitkan dengan urusan organisasi. Sebab menurut Kiai Mutawakkil, NU tidak seharusnya disangkut-pautkan dengan hal-hal semacam itu.

“Kalau mengganggu NU, ini tidak dapat dibenarkan. Sekarang ini banyak orang mengaku ingin menyelamatkan NU, mengaku ingin membesarkan NU, tapi caranya keliru. Umat harus jeli memperhatikan model-model yang begini,” tegas Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur ini.

Oleh karena itu, Kiai Mutawakkil meminta pengurus NU untuk tetap melaksanakan program-program yang telah direncanakan. Tujuan utamanya adalah untuk membesarkan organisasi NU.

“Demi menuju NU Mandiri, pengurus NU harus terus bergerak. Semakin besar NU, maka tantangan di masa depan akan semakin besar. Oleh karenanya kita bersama-sama harus menjaga kekompakan dan mempertebal keinginan kita untuk mengabdikan diri kepada NU,” tegas Kiai Mutawakkil. (ra/eem)


Bagikan Artikel