Lain-lain

Pedagang Bawang Acuhkan Teguran Petugas


PROBOLINGGO – Bukan sekali atau dua kali petugas sentra Pasar Bawang Dringu menegur aksi pengenaan plasi (potongan timbangan) yang dilakukan oleh para pedagang kepada petani bawang. Hal tersebut bahkan telah dilakukan berulang kali namun tetap saja diacuhkan oleh para pedagang bawang.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Pasar Bawang Dringu Sutaman. Ia mengungkapkan bahwa para petugas termasuk dirinya kerapkali menemukan adanya praktek pengenaan plasi di atas ketentuan yang telah ditetapkan sejak tahun 2015, yakni batas plasi maksimal 10 persen. Namun dirinya seakan tak berdaya akan hal itu, lantaran praktek tersebut. Dilakukan oleh nyaris seluruh pedagang dengan alasan yang sama yakni mereka tidak mau rugi.

“Seharusnya dari Pemkab Probolinggo, plasi timbangan maksimal 10 persen. Namun pedagang bawang kalau ditegur alasannya bawangnya kotor atau ada yang busuk. Jadi kalau plasi timbangannya 10 persen, saya tekor timbangan. Alasan itu yang dipakai pedagang untuk membeli bawang di pasar bawang,” ungkapnya, Kamis (7/10).

Dijelaskan bahwa para pedagang bawang sebenarnya sadar bahwa praktek yang mereka lakukan itu menyalahi aturan. Namun karena kondisi pasar yang sepi akibat pandemi Covid-19, sehingga para pedagang nekat menaikkan plasi hingga diatas 15 persen. “Semenjak pasar sepi dan stok bawang mulai melimpah, praktek plasi di atas ketentuan ini semakin marak. Kita pun tak bisa berbuat banyak selain hanya menegur dan memberikan himbauan,” jelasnya.

Disebutkan pula bahwa ada tiga jenis pedagang di Pasar Bawang Dringu. Pertama, pedagang yang nyerang, yaitu membeli bawang merah langsung ke petani di sawah dan selanjutnya dibawa ke pasar bawang. Kedua, pedagang yang menjualkan bawang milik petani dari sawah di pasar bawang. Ketiga, pedagang yang membeli, kulak bawang di pasar bawang untuk selanjutnya dioper/dijual lagi di pasar bawang.

“Jadi, ada beberapa macam pedagang bawang disini. Semuanya mencari untung dengan menerapkan praktek pengenaan plasi tadi. Antara satu pedagang dengan yang lainnya kadang tidak sama, tapi lebih sering plasinya di sama ratakan dan itu diatas normal,” sebutnya.

Bahkan disebutkan Sutaman, pihaknya sudah beberapa kali mengundang para pedagang untuk urun rembug soal plasi ini di Polres Probolinggo. Namun hasilnya tak sesuai ekspektasi, karena yang diundang dan yang datang berbanding terbalik, “Yang diundang banyak, yang datang cuma sedikit. Itu pun hanya diwakili oleh para kulinya. Sedangkan para pedagangnya lebih memilih absen,” katanya.

Sementara itu, junaidi salah seorang pedagang mengaku bahwa plasi yang dikenakannya memang di atas 15 persen. Hal itu pun secara terang-terangan ditawarkan kepada para petani bawang yang hendak menjual bawang kepadanya. “Kalau mau, monggo. Kalau keberatan yang silahkan cari yang lain. Yang jelas kami langsung cash tidak pakai DP apalagi berhutang,” ujarnya.

Dikatakan bahwa plasi dipakai oleh para pedagang untuk meminimalisir potensi kerugian. Karena pada dasarnya bawang dari petani yang di sawah itu masih bawang kotor dan perlu diproses lagi agar bersih dan layak jual.

Di dalam proses inilah pedagang mengeluarkan biaya ekstra untuk menjadikan bawang layak jual. “Kalau tidak diambilkan dari plasi, lantas dari mana? Kalau dari selisih harga juga sangat tipis keuntungannya. Belum lagi penyusutan bawang kalau tidak segera laku terjual. Biar sudah mau ditegur atau diapakan juga saya tidak peduli, asalkan tidak merugi itu sudah lebih dari cukup,” katanya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel