Lain-lain

Gara-Gara Kamera Jahat, Nyaris Gagal Ujian CPNS


PROBOLINGGO – Ada saja kisah unik dan menggelikan yang terjadi selama perhelatan tes CPNS tahun 2021 di lingkungan Pemerintah (Pemkab) Kabupaten Probolinggo. Salah satunya seperti yang dialami Linatin Qoimah (24), peserta SKD CPNS asal Kecamatan Tegalsiwalan. Ia nyaris tak diperbolehkan ikut ujian lantaran wajahnya yang tak sesuai dengan foto.

Kejadian unik dan menggelikan dialami Linatin Qoimah, salah seorang peserta tes CPNS Kabupaten Probolingo. Ini terjadi saat dirinya melakukan Face Recognition (alat pendeteksi wajah). Itu merupakan tahap pemeriksaan terakhir bagi peserta sebelum memasuki ruang ujian sistem Computer Assisted Test (CAT). Beberapa peserta biasa menyebutnya sebagai ruangan keramat.

System face recognition itu berfungsi saat peserta melakukan registrasi. Sistem deteksi wajah itu akan memindai dan membandingkan dengan foto dalam kartu peserta yang telah terverifikasi sebelumnya. Jika sistem telah mendeteksi wajah yang bersangkutan merupakan orang yang sama. Maka sistem ini akan bisa membuka sistem seleksi berikutnya.

Bagi sebagian besar peserta, pada tahap ini bukanlah menjadi persoalan. Tidak sampai satu menit proses pendeteksian ini selesai setiap peserta. Namun akan beda cerita bagi peserta jika perawakan wajah dan foto diri pada formulir onlinenya memiliki perbedaan yang signifikan.

Seperti yang dialami oleh Linatin Qoimah itu. Wanita berusia 24 tahun itu harus berdiri cukup lama di depan camera face recognition. Sebab hasil pindai yang dilakukan alat pendeteksi wajah itu selalu miss-match.

Lantaran tak kunjung terverifikasi, wanita yang biasa disapa Lina itu harus mengulangnya berkali-kali. Namun, hasilnya tetap sama. Sampai-sampai, kejadian itu mengundang perhatian oleh sejumlah petugas yang berjaga di sekitar.

Kejadian yang mengherankan itu membuat panitia harus turun tangan melakukan pemeriksaan. Khawatir alat tersebut bermasalah, panitia sempat mencobanya dengan alat berbeda. Namun, hasilnya tetap sama. Wajah Lina tetap tak terdeteksi oleh system.

Akhirnya, panitia mencoba dengan memberikan cahaya ekstra pada wajah Lina menggunakan sejumlaj lampu senter seluler milik petugas. Baru lah, setelah usaha yang cukup berat, wajah Lina dapat terverifikasi oleh system.

Undetection yang terjadi pada wajah Lina itu akhirnya diketahui penyebabnya. Bukan karena alat tersebut rusat ataupun bermasalah, melainkan, warna kulit pada foto yang dilampirkan Lina terlalu terang. Sedangkan pada foto itu, Lina sedang memakai lensa kontak. Sehingga, system tak berhasil mendeteksinya.

Kejadian itu berlangsung cukup lama. Para peserta yang mengantre di belakang Lina terpaksa harus dialihkan pada barisan sebelahnya. Wajah panic Lina mulai tampak saat itu. Sebab, beberapa pesarta lainnya sudah memasuki ruangan. Sementara Lina masih sibuk mengurus wajahnya yang tak kunjung berdamai dengan face recognition camera itu.

“Alhamdulillah akhirnya bisa, hampir menangis rasanya melihat peserta yang lain sudah mulai memasuki ruang tes, sedangkan saya masih harus tetap mencoba mengulang deteksi wajah,” kata Lina selepas wajahnya dikenali oleh sistem.

Koordinator Verifikator Face Recognition Roni Harianto menjelaskan bahwa sistem tersebut juga merupakan pintu masuk untuk mendapatkan Nomor PIN peserta tes CPNS. Nomor PIN tersebut merupakan kunci awal untuk mengerjakan soal-soal ujian online.

Roni mengemukakan selama pelaksaan SKD CPNS di Kabupaten Probolinggo, pada setiap sesi minimal belasan peserta ditolak oleh sistem ini. Mulai dari karena adanya kumis, warna tone kulit wajah yang tidak sama, bentuk wajah terlalu tirus sampai iris mata yang berbeda karena efek dari lensa kontak.

“Jika hasilnya tetap miss macth kami terpaksa menghubungi petugas BKN untuk membuka kuncinya, namun sebelumnya harus kita pastikan dulu bahwa orang tersebut merupakan orang yang sama dan bukanlah joki yang sedang menyamar,” tuturnya.

Rata-rata, peserta yang bermasalah adalah mereka yang foto dirinya telah diedit sedemikian rupa atau make up yang terlalu tebal. “Ada juga yang bilang kepada kami ini gara-gara kamera jahat,” imbuh Roni setengah tertawa. (yek/iwy)


Bagikan Artikel