Lain-lain

Area Tanam Tembakau Menyusut


PROBOLINGGO – Hujan yang kerap turun pada pekan lalu membuat Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DPKP) Kabupaten Probolinggo melakukan pendataan luasan area tanam tembakau. Pasalnya, hujan memang berpotensi membuat area tanam tembakau berkurang. Hasil pendataan, ada 0,2 hektar lahan yang mengalami penyusutan.

Kepala Bidang Perkebunan pada DKPP setempat Nurul Komaril Asri mengatakan, akibat hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, ratusan meter area tanam tembakau mengalami kerusakan. Hal ini membuat luasan area tanam tembakau tahun ini mengalami penyusutan.

“Untuk saat ini, dari laporan teman-teman yang di lapangan, baru ada 0,2 hektare (200 meter, red) penyusutannya. Alasannya karena tanaman tembakaunya rusak karena intensitas hujan yang tinggi,” katanya, Senin (20/9).

Meski begitu, penyusutan area tanam tembakau tersebut masih bisa bertambah. Pasalnya, hingga kini pihaknya masih terus melakukan pendataan-pendataan di 7 kecamatan yang menjadi sentra penghasil tembakau. Ditambah 2 kecamatan yang menjadi daerah penunjang penghasil tembakau.

“Data penyusutan ini masih belum final. Karena petugas hingga saat ini masih terus melakukan inventarisir kerusakan-kerusakan yang terjadi,” ujarnya.

Ia menyebut, sebelum kerusakan ini pihaknya sudah melakukan pendataan terhadap luasan area tanam tembakau se-Kabupaten Probolinggo. Totalnya, ada sekitar 8.824 hektare sawah petani yang ditanami tembakau.

“Target kami 10.744 hektare. Tapi mungkin karena tahun ini masuk kategori kemarau basah, akhirnya ada beberapa petani yang tidak menanam tembakau pada tahun  ini,” paparnya.

Pada masa tanam lalu, pihaknya gencar melakukan sosialisasi kepada petani guna mengantisipasi datangnya musim hujan pada saat proses pemanenam belum tuntas. Namun, masih banyak petani yang tetap melakukan penanaman seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Kami sadar ini musim kemarau basah. Makanya saat sosialisasi itu kami sarankan agar petani itu membuat gulatan,” ungkapnya.

Ia menerangkan, gulatan dapat mampu mengantisipasi kerugian yang dialami petani ketika terjadi hujan lebat pada saat masa panen belum tuntas. Pasalnya, dengan adanya gulatan, kondisi akar tanaman tembakau tidak akan basah dalam waktu lama meski terjadi hujan lebat.

“Gulatan itu membentuk struktur tanah yang lebih tinggi. Tanahnya denan memanfaatkan penggalian untuk jalan penyiramannya. Kalau struktur tanahnya lebih tinggi, tentu air itu tidak akan lama membasahi tanah lokasi akar tembakau berada,” terangnya.

Nurul berharap proses panen tembakau ini bisa tuntas di bulan ini. Pasalnya, pihaknya memperkirakan musim hujan sudah akan kembali terjadi pada Oktober nanti. “Sesuai dengan yang dulu kami sampaikan agar menanam pada Mei hinngga Juni, karena kami prediksi musim hujan atau musim yang kurang menguntungkan bagi petani tembakau, akan terjadi mulai dari Oktober,” paparnya. (ay/eem)


Bagikan Artikel