Sudut Medhureh

Dianggap Tabu, 19 Pasangan Menikah Selama Dzulqa’dah


BESUK – Di kalangan masyarakat Madura, menikah pada bulan Dzulqa’dah adalah sesuatu yang tabu. Namun pandangan itu mulai berubah. Faktanya, sepanjang Dzulqa’dah 1440 Hijriah yang bersamaan dengan Juli 2019, ada 19 pasangan asal Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo yang melangsungkan pernikahan.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Besuk Abd. Nasir mengatakan, pandangan bahwa menikah di bulan Dzulqa’dah mulai memudar seiring perkembangan zaman. Padahal kata Nasir, Dzulqa’dah adalah bulan yang suci. Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah melakukan pernikahan di bulan tersebut.

Saonggunah Dzulqa’dah nika bulen se socce. Hajji jhughen bede neng bulen nika. Gusteh Nabi jhughen pernah menikah neng bulen nika. Deddhi, masyarakat tak usah kok takok. Kabbhi areh ben bulen nikah saonggunah mapan. Keng mun miliah se otamah, engghi ngalak areh Jumat (Sesungguhnya Dzulqa’dah adalah bulan yang suci. Nabi Muhammad SAW juga pernah menikah di bulan ini. Jadi, masyarakat jangan terlalu takut. Semua hari dan bulan itu sebenarnya baik. Tapi kalau mau memilih yang utama, lebih baik ambil hari Jumat, red),” terang Nasir, Kamis (1/8).

Ia mengakui ada pandangan di mana pasangan yang menikah pada Dzulqa’dah, pernikahannya akan bernasib sial. Sebab menikah pada Dzulqa’dah dianggap tidak tepat momentumnya.

Ghen skonik pandangan nika bhekal sobung. Pendidikan masyarakat sajen tengghi, deddhi pendidikan pon sajen mapan. Dhimin, sobung oreng akabin neng bulen pasah, tape mangken pon benyak (Sedikit demi sedikit pandangan ini akan terkikis. Pendidikan masyarakat semakin tinggi, jadi pendidikan sudah semakin bagus. Dulu, tidak ada orang menikah di bulan puasa, tapi sekarang sudah banyak, insyaallah seperti itu juga ke depannya),” terangnya. (ay/eem)


Bagikan Artikel