Sudut Medhureh

Tak Tennang, Pekkeran Enga’ ka Anak

KRAKSAAN – Kecelakaan yang menewaskan 6 warga Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, di jalur Pantura Desa Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (23/3) lalu, menyisakan trauma berat pada Wiwik (33). Salah satu dari 3 korban yang selamat dari kecelakaan itu mengaku cukup trauma dengan peristiwa nahas yang ia alami itu.

Mon trauma ghnekah pasteh. Keng tak oneng ghi’ bengal nompa’ mobil poleh napah enten. Jhe’ mangken bheih kuleh ghi’ enga’ bektonah nabrak kakruah (Pasti trauma. Nggak tahu apa masih berani naik mobil lagi atau tidak. Sekarang saja saya masih ingat peristiwa kecelakaan itu, red),” ujar warga Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang ini, Minggu (24/3).

Saat ditemui Koran Pantura di RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Wiwik mengungkapkan, ingatan yang paling kental dalam benaknya, adalah tangisan Alfian (8) anak keduanya. Nyawa Alfian sendiri terselamatkan. Namun kondisi Alfian saat ini kritis dan harus dirujuk ke RS Soebandi Jember.

Ketika kecelakaan terjadi, Wiwik sempat tak sadarkan diri. Namun ia sempat sadar ketika mendengar tangisan Alfian ketika masih berada di lokasi kecelakaan. Wiwik kemudian pingsan lagi.

Kuleh trauma sarah mon enga’ ka tangessah anak. Pekkeran ka’ruah langsung enga’ ka bektonah tabrakan (Saya sangat trauma kalau ingat tangis anak saya. Ingatan saya langsung terbayang kecelakaan itu, red),” kata Wiwik.

Menurut Wiwik, begitu dirinya siuman di rumah sakit, orang yang pertama kali dicarinya adalah Alfian. Setelah tahu Alfian dalam kondisi kritis, pikirannya semrawut.

Mangken pon bek tenang. Bedeh lakeh kuleh se ajegeh Alfian neng Jember (Sekarang lumayan tenang. Sudah ada suami yang menjaga Alfian di Jember, red),” terangnya.

Wiwik mengaku tidak punya firasat buruk sebelum rombongan keluarganya berangkat ke Probolinggo. Namun hanya merasakan ada keanehan yang terjadi pada Alfian sebelum rombongan berangkat. Anak keduanya itu rewel.

Bektoh neng mobil Alfian mabuk. Tak biasah ka’ruah mabuk. Ri’-beri’nah, nye-nganyeh, mentah nekah, mentah reng shbereng. Mon tak emelleaghi nanges. Tak engak biasanah (Waktu di mobil Alfian mabuk perjalanan. Tidak seperti biasanya anak itu mabuk. Sebelumnya, dia rewel. Minta ini, minta itu. Kalau tidak dibelikan, dia menangis. Tidak seperti biasanya, red),” ungkap Wiwik. (yek/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan