Sudut Medhureh

Seddhi Ekoca’ Ajhuel Bakso Bebih

PAKUNIRAN – Kabar busuk menimpa pasangan suami istri (pasutri) Mashudi (49) dan Hatija (48), warga Dusun Bayur 2, Desa/Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo. Pasutri ini dikabarkan menjual bakso menggunakan bahan dasar daging babi. Mereka dengan tegas membantah isu tersebut.

Kuleh sakeluarga nekah Islam, Mas. Empian kan oneng dhibi’ jhe’ padeh reng islammah mon ngangghuy dheghing bebih nekah elarang. Nyeddhing beih pon tak kerah (Kami sekeluarga ini Islam, Mas. Sampean kan tahu sendiri sesama orang Islam kalau menggunakan daging babi itu dilarang. Menyentuh saja tidak mungkin, red),” tutur Mashudi kepada Koran Pantura, kemarin (26/2).

Mashudi mengatakan, meskipun dituduh menggunakan daging babi, namun pelanggan tak menurun. Yang terjadi justru sebaliknya, pembeli semakin banyak berdatangan. “Makkenah ekoca’en dheghing bebih, benynyak riah ghi’ se melleh (Meskipun dibilang daging babi, tapi masih banyak yang beli, red),” terangnya.

Mashudi dan istrinya ini sudah cukup lama berjualan bakso. Tepatnya sejak 2006. Mereka menyajikan bakso berukuran raksasa. Akhir-akhir ini, warung tersebut diisukan menjual bakso dengan bahan dasar daging babi. “Kuleh seddhi ekocak ajhuel bakso angghuy bebih (Saya sedih dibilang menjual bakso memakai daging babi, red),” ungkapnya.

Meski demikian, isu tersebut wajar muncul di tengah-tengah masyarakat. Ia menganggap itu merupakan musibah yang menimpa keluarganya. “Engghi biasa bhei pon. Semangken nekah teppa’ pe-seppenah pesse (Anggap saja hal biasa. Sekarang ini memang masa sepi-sepinya uang, red),” kata Mashudi.

Pihak Polsek Pakuniran juga telah turun tangan mengklarifikasi isu tersebut, kemarin. Kapolsek Pakuniran Iptu Habi Sutoko mengatakan, pihaknya telah datang ke warung bakso milik pasutri tersebut. Dari klarifikasi tersebut, terungkap bahwa isu daging babi sebagai bahan bakso tersebut, adalah isu yang tidak benar.

“Kami juga tidak pernah menerima laporan seperti itu. Kami juga sudah tanya kepada yang jual. Mereka bilang tidak,” terangnya, kemarin.

Menurutnya, isu tersebut sangat mungkin dihembuskan oleh pihak-pihak yang ingin menjatuhan usaha pasutri Mashudi-Hatija. “Saya kira persaingan dagang. Setiap hari warungnya masih buka dan tetap laris. Menurut saya, wajarlah isu-isu seperti itu. Kalau pedagang sudah besar selalu banyak angin ingin menjatuhkannya,” kata Kapolsek. (yek/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan