Sudut Medhureh

Tak Ghellem Nempaten Lantai Duwe’

KRAKSAAN – Sekitar 80 lapak semi permanen di sekitar Pasar Semampir, Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo telah ditertibkan beberapa hari lalu. Meski lapak ditertibkan, pedagang setempat tetap bisa berjualan pada jam-jam tertentu. Syaratnya, mereka tidak mendirikan lapak seperti yang telah dibongkar.

Pemkab Probolinggo juga memberikan opsi lain. Pedagang diarahkan untuk menempati lapak yang ada di lantai 2 pasar tersebut. Namun opsi ini diabaikan. Tidak banyak pedagang yang berjualan di tempat dimaksud.

Rang-rang bede oreng entar ka lantai duwe’. Seppe, Cong (Jarang ada pembeli naik ke lantai 2. Sepi, Mas, red),” ungkap Sanu (60), salah seorang pedagang yang kebagian lapak di lantai 2.

Ia mengaku pendapatannya ketika berjualan di lantai 2 cukup rendah. Tidak sebanyak seperti ketika ia berjualan di bawah. Oleh karenanya, ia tetap memilih berjualan di lokasi lapak sebelumnya.

Benynya’an neng bebe ollenah. Mon neng attas rang-rang pembeli. Ollea penghaselan deri dimmah mon de’iyeh (Lebih banyak hasilnya kalau berjualan di bawah. Di lantai atas itu jarang pembeli. Mau dapat penghasilan dari mana kalau begini, red),” ungkap penjual buah ini.

Sanu mengatakan, berjualan buah tidak bisa disamakan dengan pedagang baju atau barang yang tidak mudah busuk. Sehari saja tak laku, kualitas buah pasti akan turun. Demikian juga dengan harganya.

Mon tang dheghengan riah tak pajuh seareh-duareh, ye argeneh toron lah. Apa pole sampe’ tello areh tak pajuh, ye bucco’. Rogi bedenah (Kalau dagangan saya ini sehari-dua hari nggak laku, ya harganya turun. Apalagi kalau sampai tiga hari nggak laku, pasti busuk. Malah rugi, red),” ujar Sanu.

Jika keadaan demikian terus dibiarkan, Sanu khawatir dampaknya buruk terhadap ekonomi dan kebutuhan keluarganya. Sebab, kebutuhan keluarganya itu didapat dari keuntungan berjualan buah.

Engko’ ajhuelen ghebei ngakan anak bineh. Engko’ reng Indonesia, engko’ riah majher pajek. Se penteng engkok jhuelen bhereng halal (Saya berjualan untuk makan anak istri. Saya orang indonesia, saya ini bayar pajak. Yang penting saya jual barang halal, red),” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Mutmainnah, pedagang lain di Pasar Semampir. Menurutnya, lantai 2 jarang dikunjungi pembeli. Sehingga barang-barang yang dijual bisa-bisa tidak laku.

Engko’ ngerassah tak nyaman ajhuelen neng atas. Seppeh. Jarang bede oreng (Saya merasa nggak nyaman berjualan di atas. Sepi. Jarang ada pembeli, red),” kata Mutmainnah. (yek/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan