Sudut Medhureh

Seorang Terpidana Segera Dieksekusi

KRAKSAAN – Kasus Korupsi Pengadaan sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang terjadi di Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo pada tahun 2014 lalu, belum juga tuntas. Pasalnya, M. Nori selaku terpidana dalam kasus tersebut saat ini tidak diketahui keberadaannya. Warga Kabupaten Sampang, Madura, yang merupakan pemenang tender pengadaan tersebut tidak ada di rumahnya.

Kepala Seksi Intel Kejaksaan Negeri Kabupaten Probolinggo Agus Budiyanto mengatakan, kasus itu sebenarnya sudah inkracht. Yakni setelah pada Februari 2017 lalu, Mahkamah Agung menolak kasasi yang diajukan pada tahun 2016 oleh pihak terpidana. “Artenah, kasus jieh la andi’ (artinya, kasus itu sudah memiliki, red) kekuatan hukum tetap, inkracht,” ujarnya, kemarin (13/2).

Agus mengatakan, meski telah inkracht, namun pihaknya tidak bisa langsung mengeksekusi terdakwa. Menurutnya, setelah kasus dinyatakan inkracht, untuk melakukan eksekusi, pihaknya masih menunggu amar putusan dari Pengadilan Tinggi.

Edinna’ adente’ relaas (amar putusan) jeriyeh. Polanah, eksekusi kasus ghudhuh bedeh landasannah (Kami menunggu relaas itu. Sebab untuk melakukan eksekusi kami harus memiliki landasan, red),” ungkapnya.

Masalahnya, amar dari Pengadilan Tinggi tak kunjung turun hingga awal Januari lalu. Padahal pihaknya terus meminta relaas untuk melakukan eksekusi itu. Akhirnya, pihak Agus mengambil sendiri amar putusan tersebut ke Mahkamah Agung. Dan, amar putusan dimaksud baru turun pada 22 Januari 2019 lalu.

Dimmah bedeh cretanah kejaksaan ngala’ relaas dhibi’. Kodhunah eyaterraghi ka pengadilan negeri, terros pengadilan negeri ngaterragi ka kejaksaan. Mareh jieh, bhuruh bisah eksekusi (Seharusnya bukan kejaksaan yang mengambil relaas itu. Seharusnya relaas diantarkan ke pengadilan negeri, lalu oleh pengadilan negeri diantarkan ke kejaksaan. Setelah itu barulah bisa eksekusi, red),” kata pria asli Kabupaten Situbondo ini.

Begitu amar putusan telah dikantongi, pihaknya melacak keberadaan M. Nori di rumahnya di Sampang. Namun tak ada yang bersangkutan di rumahnya.

Marenan negghu’ relaas jieh, engko’ berusaha eksekusi Nori. Pa’-bhelles areh dari negghu’ relaas, mon ghi’ tak etemmoh, bhuruh eumummaginah (Setelah relaas ada di kami, kami berusaha mengeksekusi Nori. Kalau 14 hari setelah putusan itu belum berhasil ditangkap, baru akan diumumkan ke publik, red),” terang Agus.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Kabupaten Probolinggo Novan Basuki mengatakan, kasus proyek pengadaan bernilai Rp 14,2 miliar itu melibatkan 3 terdakwa. Ada 2 orang yang telah berstatus terpidana. Yakni M. Nori. Sementara seorang terpidana lainnya adalah RS. “Dia (RS, red) malah sudah bebas,” terangnya.

Dengan demikian, ada 1 terdakwa yang masih dalam proses atas nama Riza Febriant yang masih mengajukan banding. “Kalau yang ini belum diputus. Sampai sekarang masih banding,” terang Novan. (yek/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan