Sudut Medhureh

Argeh Cabbih Anjlok

BESUK – Sudah sekitar sebulan lebih petani cabbih (cabai) masih tak mendapatkan hasil memuaskan. Bahkan pada minggu-minggu ini, harga cabai merosot jauh sekitar Rp 4.000 perkilogram. Hal itu membuat para petani menangis darah. Pasalnya banyak petani yang terpaksa babat pohon cabainya. Sebab, modal tanam tak berbanding lurus dengan penghasilan.

Keadaan itu salah satunya dirasakan oleh Umi Kulsum (45), warga Desa Dandang Kecamatan Gading. Ia menyampaikan, harga cabai semakin merosot jauh dari ekspektasinya. Meski kualitas cabe bagus, namun harganya semakin tak menolong ketengkurapan para petani cabe. Dalam sepekan terakhir ini, harga cabe merosot sampai Rp  4.000 per kilogram.

“Aguh tak bebeh setiah lah. Argeh cabbih nyongsep tak ron karon. Tang cabbih eyargein Rp 4.000 perkilo. Argeh sejiah tak usa gebei mabelih modal. Gebei majer tokang polong cabbinah beih lah tak notot. (Aguh, ngga baba sekarah. Harga cabe merosot jauh. Cabe saya dihargai Rp. 4000 perkilo. Harga segitu nggak usah untuk kembalikan modal. Buat bayar ongkos tukang petik saja nggak cukup, red),” katanya, Senin (11/2).

Senada diungkapkan Taufiq (35) warga Desa Randumerak Kecamatan Paiton. Ia menyatakan, harga cabai sudah tak pro petani. Ia justru menyesal menanam cabai di ladangnya yang berukuran 400 meter persegi itu. Meski kualitasnya bagus, tapi harganya tak membuat para petani tersenyum lebar.

“Tang endik marenan epolongah kabbi. Tak se mera konang bik se biruh epolongah. Tak omes lah. Argeh jen abit jen salbut. Mareh opolong kabbi, pah poger kabbi cabbinah riah. (Cabai saya sebentar lagi mau dipetik semua, yang merah, kuning dan hijau. Harga semakin lama semakin tak karuan. Sudah dipetik, pohonnya tak babat semua, red),” ujarnya. (yek/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan