Sudut Medhureh

Jadi PSK, Alasan demi Anak

KRAKSAAN – Sekitar 9 PSK dan 2 mucikari berhasil diamankan Satpol PP Kabupaten Probolinggo dari sebuah warung esek-esek di Desa Sindetlami Kecamatan Besuk, Selasa (5/2). Salah satu diantaranya adalah SF (32) asal Desa Betek Taman, Kecamatan Gading. Ia mengaku terpaksa bekerja sebagai PSK untuk mencukupi kebutuhan anaknya.

Dekremmah pola pak, engkok endik anak duek. Tang lakeh sakek tak ngenneng alakoh. Mon kok tak nyareh pesse, duh dekremmah tang anak deggik. Epengakanah apah. (Mau gimana lagi pak, saya punya anak dua. Suami saya sakit nggak bisa kerja. Kalau saya nggak cari uang. Bagaimana nasib anak saya nanti. Mau dikasih makan apa, red),” kata SF kepada Koran Pantura.

Ia melanjutkan, dirinya sudah sekitar 6 bulan bekerja sebagai PSK.  Duit dari hasil menjual jasa pelayan nafsu itu kemudian ia berikan sebagian kepada anaknya yang kini tengah menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren. Lalu separonya lagi ia gunakan untuk kebutuhan keluarganya di rumah.

Alakuah apah pole pak. Engkok nyareh lakoh se mapan jek tak abek lah tuah. Mlarat se eteremaah lakoh ke oreng. (Mau kerja apa lagi pak. Saya mau cari kerja yang mapan, tapi diri saya sudah tua. Sulit untuk bisa di terima kerja ke orang lain, red),” akunya.

Ia memaparkan, setiap harinya paling banyak hanya melayani 3 pria hidung belang. Tarifnya dipatok Rp 50  – Rp 100 ribu. Tetapi, itu pun masih dipotong sama majikannya, yaitu si pemilik tempat. “Kadeng la tak olle skaleh. Tak ben areh olle mloloh. (Kadang tak dapat pelanggan sama sekali. Tidak setiap hari dapat melulu, red),” ucapnya.

Sementara itu, Alwari (52) salah satu mucikari yang dijaring, mengaku sudah 4 tahun membuka tempat esek-esek tersebut. Awalnya, tempat itu sebuah rumah tempat tinggalnya bersama istrinya. Tahun 2014, istrinya meninggal, dan Alwari mulai membuka tempat itu.

Tak taoh deng lah tang bineh mateh. Engkok pah aebe deiyeh. Tang bungkoh jiah deddih berung kopi. Pah bit abiten molaen benyak se deteng nak kanak binek ke jieh. (Nggak tahu, setelah istri meninggal. Saya tiba-tiba berubah. Rumah saya jadi warunf kopi. Kemudian mulai banyak wanita berdatangan),” jelasnya.

Menurutnya, dari setiap wanita itu hanya ditarik (pungutan) uang sebanyak Rp 10 ribu. Itu pun hanya untuk sewa kamarnya. Sebab ia hanya menyediakan kamar dan warung kopi tempat hidung belang itu nongkrong.

Se binek jieh deteng dibik eyajek oreng ke oreng ruah. Engkok ye lah teremah beih. Mon lah kareppah sebinek jiah dibik dekremmah pole. (Wanita itu datang sendiri diajak orang ke orang. Saya hanya menerima saja. Mau gimana lagi kalau itu sudah kemauannya sendiri),” ungkapnya. (yek/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan