Sudut Medhureh

Diterjang Ombak, 2 Kapal Rusak

KRAKSAAN – Angin kencang yang terjadi di laut Probolinggo membuat ombak mengganas. Di Desa Kalibuntu, Kota Kraksaan, 2 kapal milik milik nelayan setempat rusak cukup parah karena diterjang ombak, Rabu (23/1) malam.  Kerusakan itu membuat dua kapal tersebut tak dapat dibawa melaut.

Bekto jieh ombek rajeh sarah, Cong. Aeng tasek jieh enga’ se alonca’ah deri tanggul. Pal-kapal epak-krapak bi’ ombek. Keng ontong benynyak se etale’en. Ghun pera’ di’en sengkok se apes. (Waktu itu ombak besar sekali. Air laut itu seakan sudah melewati tanggul. Kapal-kapal dihajar ombak. Beruntung banyak kapal diikat dengan kuat. Hanya milik saya yang sial, red),” ungkap Slamin, salah seorang pemilik kapal.

Dari pantauan Koran Pantura di lokasi kemarin (24/1) siang, kondisi 2 kapal rusak lumayan parah. Bagian bodi kapal milik Slamin, banyak yang bolong. Termasuk bagian lambung kapal. Kaca-kaca di kapal itu juga pecah. Sementara kerusakan kapal milik H Sultan terdapat di lambung bagian kiri.

Awalnya, 2 kapal ini disandarkan berdempetan. Namun setelah diterjang ombak, 2 kapal ini berada di lokasi yang berjauhan satu sama lain. Kapal milik Slamin berada di sisi paling timur dan berada cukup jauh dari kapal-kapal lainnya. “Kapalla H Sultan bede e posisi paleng bere’. Ce’ jeunah dari kenengngannah (kapal milik H Sultan berada di posisi paling barat. Sangat berjauhan dari lokasi sandar, red),” kata Slamin.

Slamin menemui Koran Pantura saat sedang berada di kapalnya. Ia memunguti sisa barang di kapalnya yang masih bisa pulang. Sambil mencari-cari barangnya itu, ia mulai menceritakan kejadian kapalnya.

Ketika ombak besar datang pada Rabu malam, Slamin mengaku sedang berada di lokasi kapalnya bersandar. Ia mencoba mengikat sekuat mungkin kapalnya ke tambatan. Namun kerasnya terjangan ombak membuat upayanya sia-sia. Suara keras kapal milik Slamin dan H Sultan terdengar berulang kali. Tak heran jika 2 kapal itu mengalami kerusakan serius.

Tadek lah, Cong. Tak arobeh kapal pole lah. Ebecce’ah pasteh ngabik benynyak. Paleng la Rp 20 juta. Mon ejhuel paleng etaber Rp 5 juta. Sabbhen mellenah Rp 150 juta (Habislah sudah kapal saya. Kalau diperbaiki pasti habis banyak. Paling tidak Rp 20 juta. Kalau dijual, mungkin ditawar Rp 5 juta. Dulu belinya Rp 150 juta),” keluh Slamin.

Slamin mengaku belum tahu dari mana ia akan mencari pemasukan lain untuk menghidupi keluarganya. Bergabung melaut dengan kapal laut lainnya pun belum tentu bisa dilakukan. Sebab cuaca di tengah laut yang sedang tidak bersahabat saat ini membuat nelayan enggan melaut.

Mon epaksah alajeng nyareh jukok, tak mungkin. Jhek angen engak riah (kalau dipaksa melaut cari ikan, tak mungkin. Anginnya kencang seperti ini, red),” tutur ayah dari 3 anak itu.

Hosniah, istri dari Slamin mengatakan, untuk sementara pendapatan keluarga bergantung dari pendapatannya berjualan nasi. “Ye deri mukka’ berung riah lah, Cong. De’remmah pole jhe’ lah nyamanah apes (Ya dari buka warung ini pendapatannya. Mau bagaimana lagi kalau sudah apes, red),” ungkapnya. (yek/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan