Sudut Medhureh

Hujan, Usaha Kayu Bakar Lesu

GADING – Musim hujan di wilayah Kabupaten Probolinggo berdampak serius pada pendapatan para pencari kayu bakar. Mereka kesulitan memperoleh kayu kering karena hujan membuat basah kayu-kayu tersebut. Padahal di sisi lain, banyak rumah tangga yang kini sudah menggunakan elpiji sebagai pengganti kayu bakar.

Affan Irawan, pengusaha kayu asal Desa Batur, Kecamatan Gading, mengatakan, musim hujan membuat usaha itu lesu. Pasalnya, para pencari kayu bakar memasok stok tak sebanyak musim kemarau.

“Jelennah leddhuk. Mlarat se mondhudeh kajuh. Napah pole se mondhudeh kajuh gnekah neng alas. Kok nako’en mon ojen (Jalannya becek. Sulit yang mau mencari kayu. Apalagi kayu itu cari di hutan. Kalau hujan situasi hutan menyeramkan, red),” kata Afan, sapaan karibnya.

Ditambah lagi, usaha kayu bakar yang dirintis orang tuanya itu, kini sudah tak seperti dulu lagi ketika banyak masyarakat menggunakan kayu bakar. Pasalnya, sudah banyak yang beralih menggunakan elpiji.

“Mon smangken tak benynyak se paju, Mas. Paleng benynyak 500 ikat paju bhen minggu (Kalau sekarang tidak banyak yang laku, Mas. Paling bayak 500 ikat yang laku per pekan, red),” ujarnya.

Dulu, terutama ketika usaha itu masih dikelola orang tuanya, kayu bakar yang laku jauh lebih banyak. Afan menerangkan, usaha tersebut dijalankan orang tuanya ketika masyarakat masih menggunakan kayu bakar untuk kebutuhan dapur.

Kala itu, kayu bakar yang terjual rata-rata 1.500 ikat per pekan. Bahkan bisa lebih. Pembeli kayu bakar juga bukan hanya dari rumah tangga. Namun juga dari para pelaku industri. Misalnya pabrik tahu. Dulunya, pabrik tahu menggunakan kayu bakar untuk memproduksi tahu. Namun kini sudah menggunakan elpiji.

“Benne ghun ghenekah. Por-depor mon atanak semangken tak ngangguy tomang. Kebenya’an pon nganggui magic com. Cokop panyonok pas tojuk sambih pi-kopien. Romoro lah massak. Mon dhimin kan angguy tomang (Bukan hanya itu. Dapur-dapur sekarang banyak menggunakan magic com untuk memasak. Cukup dicolokkan lalu tinggal tunggu sambil menyeruput kopi. Kalau dulu pakai tungku),” terang Afan.

Selain penjualan yang seret, Afan juga mengeluhkan harga jual kayu bakar yang rendah. Dari setiap ikat kayu bakar terdiri dari 5 batang kayu itu, harga jualnya hanya Rp 1.700. Menurutnya, harga jual tersebut terbilang sangat murah.

“Engghi de’remmah poleh, Mas. Latenen ghenekah pon. Mon tak snekah ghi tak ngebbhul depor. Tembengan tadek lakonah skaleh. Mon snekah tak endik pesse skaleh pas. (Mau gimana lagi, Mas. Ya ditelateni saja. Kalau tidak begitu, ya tidak ngebul dapur saya. Daripada nggak ada kerjaan. Kalau tidak kerja ya nggak punya uang,” kata Afan. (yek/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan