Sudut Medhureh

Gotong Royong Perbaiki Kerusakan

GENDING – Angin puting beliung yang menerpa sejumlah desa di wilayah Kecamatan Geding pada Selasa (22/1) lalu menyisakan banyak kerusakan. Di Desa Pesisir, warga setempat bergotong-royong melakukan pemulihan bangunan yang diterpa angin. Kegiatan itu dibantu jajaran aparat keamanan seperti TNI dan Polri.

Mereka saling bahu-membahu untuk memperbaiki bangunan yang rusak. Mereka juga membersihkan puing-puing reruntuhan bangunan yang tak bisa lagi dimanfaatkan. Aktivitas itu mereka lakukan secara bergantian dari rumah satu ke rumah yang lain. Sementara para ibu rumah tangga menyediakan konsumsi untuk warga yang bekerja.

“Molaen malemmah la abhersean, Mas. Mare ojhen bi’ angen, reng-oreng langsung toron abhersean. Keng bektoh jieh tak maksimal soallah malem gelluh. Dheddinah abhersean jhelen dhisah ghellu (Sudah mulai tadi malam bersih-bersih. Setelah hujan dan angin, warga langsung turun. Tapi tidak maksimal karena sudah terlalu malam. Jadi yang dibersihkan akses jalan desa dulu, red),” kata Kepala Desa Pesisir Sanemo, Rabu (23/1).

Akibat puting beliung yang menimpa desa itu, Sanemo mengungkapkan, banyak rumah penduduk yang rusak. “Mon edinnak rata-rata rosakkah bungkoh begien attas mloloh. Bedeh se gentengah salbut. Bedeh se asbessah salsalan (Rata-rata kerusakan rumah di sini di bagian atapnya. Ada yang gentengnya runtuh, ada pula yang asbesnya rusak, red),” terangnya.

Farid, (25) warga setempat mengatakan, pasca angin puting beliung menerjang desanya, ia bersama warga lainnya segera membersihkan bangunan dan jalan yang rusak. “Lakpalak taon ruah gebei kabel lestrek peggek (Puting beliung itu membuat kabel listrik putus, red),” kata Farid.

Rukmiati, warga setempat, adalah salah satu warga yang rumah dan warungnya rusak. Rumahnya memang tak sampai ambruk, kerusakan hanya di bagian atap. Namun warungnya rata dengan tanah.

“Makkenah genteng mloloh se rosak, keng mon taoh bektoh jieh, ongghu nako’en sarah. Angen ruah aenter cek santa’en. Tak depak lema dettek ranta lah (Meski hanya atap yang rusak, tapi waktu itu, suasanya benar-benar menakutkan. Angin berputar-putar. Tak sampai lima detik sudah hancur semua, red),” ungkapnya.

“Poko’en ngetek, takok, kbeter, reng-sbereng lah bektoh jiah. Tak mekkeren apah jek lah. Se penting keluarga slamet (Waktu itu gemetar, takut, khawatir. Tak mikir apapun selain keselamatan keluarga, red),” ungkap Rukmiati. (yek/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan