Sudut Medhureh

September, Bede 212 Randhe Anyar


PROBOLINGGO – Perkara perceraian di Pengadilan Agama (PA) Kelas II B Kraksaan terus mengalami peningkatan jumlah. Sepanjang September lalu, ada 221 perkara cerai yang disidang. Sebanyak 212 perkara di antaranya diputus cerai.

Panitera Muda (Panmud) Hukum PA Kraksaan Syafiudin mengatakan, angka perkara yang diputus cerai itu mengalami peningkatan. Sebab pada Agustus lalu, jumlah perkara yang diputus cerai sebanyak 196 kasus.

Du bulen ongghe terros. Agustus ongghe sebbidhek bhelluk deri Juli. Se September ongghe nembhelles deri Agustus (Dua bulan naik terus jumlahnya. Yang Agustus naik 68 perkara dari Juli. Yang September naik 16 perkara dari Agustus, red),” katanya, Selasa (5/10).

Menurutnya, peningkatan kasus tersebut tidak terlepas dari pandemi yang masih belum usai. Pasalnya, faktor yang sangat dominan melatarbelakangi adanya kasus perceraian adalah faktor ekonomi. Dari 212 orang yang bercerai, 128 dilatarbelakangi masalah ekonomi. Sementara 63 perceraian terjadi karena pertengkaran.

Bede se karna ngambul, pas tak abheli pole. Bede pole karna se lakek eyokom penjara (Ada juga perceraian yang terjadi karena salah satu pasangan minggat dan tidak kembali lagi. Ada juga yang disebabkan suaminya dipenjara, red),” terangnya.

Perkara cerai yang ada di PA Kraksaan didominasi perkara cerai gugat (CG). Yakni sebanyal 144 perkara. Sementara sisanya adalah perkara cerai talak. Syafiudin mengatakan, seharusnya di masa pandemi ini, suami dan istri harus lebih bisa saling mengerti dan saling memahami. Sehingga tidak sampai mengajukan perceraian.

Pengadilan Agama dalam menyidang perkara perceraian selalu mengedepankan proses mediasi sebelum putusan cerai disahkan.

Alhamdulilah bekton emediasi, bede sangak parkara se bhurung apesa (Alhamdulillah ketika dimediasi, ada 9 perkara yang tidak sampai bercerai, red),” ungkapnya. (ay/eem)


Bagikan Artikel