Sudut Medhureh

Kasus Kematian Tinggi, Makam Etotop


PAITON – Sebuah Tempat Pemakaman Umum (TPU) alias kuburan di Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo mendadak viral di media sosial. Pasalnya, di depan kuburan tersebut terpasang banner dengan tulisan berbahasa Madura yang menyatakan bahwa kuburan ditutup.

Banner tersebut dipasang tepat di samping pintu gerbang TPU yang berada di Dusun Krajan itu. Tulisan di banner cukup mencolok karena ukuran banner tersebut cukup besar.

Ella lah cokop hop. Koburen totop. Lakoh jek main te matean meloloh. Landuk enh lah benyak se rosak/potong. Toreh angguy masker.” Demikian bunyi tulisan di banner tersebut. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, artinya kurang lebih, “Berhenti, sudah cukup. Kuburan ditutup. Jangan terus menerus ada warga meninggal dunia. Banyak cangkul rusak atau patah karena dipakai menggali kuburan. Ayo pakai masker.”

Menurut Sumrawi, seorang warga setempat, banner tersebut dipasang sebagai ungkapan kejenuhan warga karena belakangan ini banyak orang meninggal dunia. Bahkan menurutnya, sudah ada 17 warga Desa Binor yang meninggal dunia dalam sebulan terakhir.

Settong kenning korona. Selaen kabennya’ah polanah toa. Pokok’en kerrep oreng mate. Ellak saareh du areh. Tahlilen rammih tak kala ka reng parloh (Satu orang kena Covid-19. Yang lain kebanyakan meninggal dunia karena sudah berusia tua. Cukup sering orang meninggal dunia. Selisihnya ada yang sehari, ada yang 2 hari. Ramai tahlilan, tidak kalah dengan orang menggelar hajatan, red),” katanya, Minggu (8/8).

Saking banyaknya orang meninggal dunia, tahlilan oleh ahli waris harus dilangsung secara bergantian. Ada yang digelar setelah Asar, ada juga yang digelar setelah Maghrib. Bahkan menurutnya, tahlilan yang digelar setelah maghrib juga harus dilaksanakan secara bergantian.

Se tahlel mare maghrib, mon mare, langsong ngalle tahlel ka kenengan laen (Yang tahlil setelah maghrib, begitu selesai tahlil langsung pindah ke tahlilan lainnya, red),” ujarnya.

Meski banner telah dipasang, bukan berarti makam tersebut tidak boleh lagi dimanfaatkan. Jika ada lagi kasus warga meninggal dunia, mereka akan tetap dimakamkan di TPU tersebut. menurut Sumrawi, banner dipasang untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19 ini. Diharapkan warga selalu mengenakan masker.

Tojjhuenna ma’le oreng tak ngentengaghi korona. Ma’le lekkas normal pole (Tujuannya agar warga tidak mengentengkan Covid-19. Biar cepat normal kembali, red),” terangnya.

Teguh, warga yang bertugas mengelola perlengkapan dan peralatan TPU mengatakan, ungkapan tentang cangkul rusak itu bukan isapan jempol belaka. Ia mengungkapkan, cangkul dan sekop yang biasa ia gunakan untuk menggali kubur telah beberapa kali rusak. Selain itu, pihaknya kekurangan lampu penerangan yang biasa dipakai untuk tahlilan warga. Jumlah yang ada tidak sepadan dengan jumlah tahlilan yang digelar ahli waris.

Landu’en kedhu segghut ebeccek polanah eyangghuy mlolo. Lampu bi’ terpal se eyangghuyye tahlilen korang (Cangkul harus sering diperbaiki karena selalu dipakai. Lampu dan terpal yang mau dipakai tahlilan kurang,” red),” katanya. (ay/eem)


Bagikan Artikel