Sosbudpar

Adib, Remaja yang Jago Perbaiki Mesin Cuci


PROBOLINGGO – Tidak sedikit anak muda yang karena keterpaksaan, tampil menjadi tulang punggung keluarga. Salah satunya adalah Adib Surya Ramadan. Remaja asal Kota Probolinggo ini sudah bisa menghidupi keluarganya dengan cara mengurus usaha yang digeluti bapaknya

Tempat usaha itu bernama Solo Servis. Lokasinya di deretan lapak di ruas Jalan Raya Bromo, Kelurahan Triwung Kidul, Kota Probolinggo.  Lapak itu persisnya berada di depan atau sisi barat garasi Akas NR.

Pada Selasa (3/8) siang, di lapak itu tampak beberapa remaja tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Di antara mereka ada 2 siswa SMKN Kota Probolinggo yang tengah menjalani Praktek Kerja Industri (Prakerin) atau dulu disebut PSG (Pendidikan Sistem Ganda). Sedangkan dua remaja lainnya mengaku sebagai pekerja di Solo Servis.

Lapak Solo Servis itu milik pasangan suami-istri (pasutri) asal Solo, yaitu Surya Buana (52) dan Warsini Hastutik (43). Namun, sehari-harinya, lapak servis tersebut ditangani oleh Adib Surya Ramadan, putra pasutri Surya dan Warsini.

Saat ini, pasutri Surya dan Warsini bekerja menjaga toko spare part mesin cuci dan kulkas. Toko itu berada di utara lapak Solo Servis. Surya hanya sesekali datang ke Solo Servis untuk menengok Adib saat menyervis kulkas atau mesin cuci.

Jika ada kendala, Surya turun tangan membantu putranya. Namun, Surya sudah jarang turun tangan membantu pekerjaan anak pertamanya tersebut. Sebab, Adib sudah menguasai seluk-beluk mesin cuci dan kulkas. 

Menurut Surya, anak sulung dari tiga bersaudara tersebut sudah lama belajar ke dirinya. Adib yang sekarang masih duduk di kelas IX di SMPN 10 Kota Probolinggo, dulu sejak kecil sering ikut bapaknya bekerja memperbaiki kulkas dan mesin cuci. “Akhirnya tertarik dan membantu pekerjaan saya. Sekaligus sambil belajar,” ujar Surya.

Alhasil, Adib yang kini berusia 13 tahun, sudah mampu menangani kerusakan kulkas dan mesin cuci. Bahkan, Adib sudah bisa mengatasi kerusakan tanpa bantuan sang bapak. Surya mengakui anaknya itu memiliki kemauan keras dan rasa ingin tahu yang sangat kuat.

Di tengah keharusan menjalani sekolah daring, Adib sudah mampu mengambil alih pekerjaan Surya. Maklum, Surya yang menetap di Kota Probolinggo sejak tahun 1992 tersebut  sekarang tidak mampu bekerja. “Sudah lebih setahun sakit liver. Semua pekerjaan ditangani anak saya,” tandas Surya.

Untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, Surya mengandalkan  hasil jualan spare part mesin cuci dan kulkas, ditambah penghasilan servis yang dijalankan Adib.

Surya berharap, penyakitnya cepat sembuh dan bisa beraktivitas lagi seperti sedia kala. Sehingga usaha yang digeluti puluhan tahun itu tidak sepenuhnya ditangani putranya. “Dia (Adib, red) harus sekolah sampai tamat. Kami berharap dia bisa kuliah,” kata Surya yang seorang alumnus Universitas Indonesia jurusan Sastra.

Adib sendiri mengaku mulai memperhatikan pekerjaan bapaknya sejak masih usia 4 tahun. Lama kelamaan setelah mampu, ia mulai membantu pekerjaan ayahnya sambil belajar. Hasilnya, Adib kini sudah jago memperbaiki kulkas dan mesin cuci. Ia mampu meringankan pekerjaan orang tua yang telah membesarkan dan mendidiknya.

Selain menyervis kulkas dan mesin cuci, Adib juga mampu mengajar seperti layaknya guru kepada pelajar SMK/SMA yang menjalani tugas PSG di tempat usahanya. “Siapapun bisa, asal memiliki keinginan yang kuat dan kedisiplinan. Itu kuncinya,” ujarnya.

Meski sudah bisa mencari uang sendiri, Adib tidak ingin meninggalkan sekolah. Ia tetap rutin mengikuti daring hingga pukul 11.00 setiap hari. Pekerjaan jasa perbaikan seperti itu dilakoni usai daring hingga petang hari. “Saya kepingin usaha bapak ini menjadi lebih besar. Tambah karyawan. Bisa mengentas pengangguran,” ujar Adib. (gus/iwy)


Bagikan Artikel