Sosbudpar

Nama Mirip, Orang Kesasar, Surat dan Paket pun Salah Kirim


PROBOLINGGO – Ada cerita unik di balik adanya kesamaan atau kemiripan nama-nama desa di Kabupaten Probolinggo. Warga dalam kota ataupun luar kota banyak yang tidak bisa membedakan. Sehingga seringkali mereka kebingungan mencari alamat yang dituju.

Alasan tiap kecamatan diberi penomoran kode pos adalah mencegah kesalahan pencarian alamat. Pasalnya ada nama-nama tempat domisili yang sama atau mirip. Terbukti, jika hanya berpatokan pada nama, bisa salah alamat.

Nama desa yang sama atau mirip itu yakni Desa Gading Kulon Kecamatan Banyuanyar dan Gading Wetan Kecamatan Gading. Selain itu ada Desa Alastengah Kecamatan Besuk dan Desa Alastengah Kecamatan Paiton.

Hal itu diceritakan Teguh selaku Bendahara Desa Gading Kulon Kecamatan Banyuanyar. Menurutnya lokasi antara Gading Kulon dan Gading Wetan Kecamatan Gading sangat jauh sekitar 20 kilometer. Itu masih dipisahkan oleh Kecamatan Maron. “Saya tidak tahu juga sejarah penamaannya, tapi yang jelas desa ini tidak berbatasan langsung,” katanya.

Ketika ditanyakan tentang apakah ada yang nyasar karena salah membedakan nama desa, ternyata ada. “Bukan cuma ada, tapi bisa dikatakan banyak yang salah alamat,” kata Teguh. Kesalahan itu baik pengiriman surat dan paket, ataupun orang yang datang mencari alamat.

Saiful, seorang warga Kecamatan Banyuanyar, menceritakan bahwa dulu saat Dimas Kanjeng Taat Pribadi belum dipenjara, banyak pengikutnya salah alamat. “Mereka itu dari luar kota, banyak salah alamat ke Desa Gading Kulon Banyuanyar. Padahal padepokan Kanjeng itu letaknya ada di Gading Wetan, Kecamatan Gading,” jelasnya.

Kini Gading Wetan terkenal dengan wisata rafting dan river tubing. (Dokumen/KP)

Seperti diketahui, Dimas Kanjeng sebelumnya terkenal sebagai guru spriritual yang dipropagandakan bisa menggandakan uang.

Sementara itu, Ismail selaku Kades Alastengah Kecamatan Besuk menceritakan hal yang sama. Menurutnya sudah hal yang lumrah orang nyasar dan salah kiriman. Karena nama desanya sama. Bahkan surat menyurat administrasi desa juga ada yang nyasar.

“Solusinya, kami selalu berkoordinasi dengan Desa Alastengah, Paiton. Jadi kalau ada surat desa sana salah kirim, langsung ditelepon. Silahkan diambil ada surat yang nyasar ke Besuk,” katanya. Begitu juga sebaliknya, menurut Ismail bahwa ada surat yang butuh dijemput ke Paiton.

Senada diungkapkan Faridi, warga Kecamatan Paiton. Menurutnya sering kali ada teman bisnisnya tanya ancer-ancer alamat. “Saya kasih alur perjalanan yang menuju Alastengah. Eh ternyata salah, yang dia maksud adalah Alastengah Besuk. Jadi kalau ada yang tanya lagi, saya suruh pastikan apakah Paiton atau Besuk,” papar Faridi. (ra/iwy)


Bagikan Artikel