Sosbudpar

PPKM Darurat, Peribadatan di Masjid Jamik Kraksaan Ditutup Sementara


KRAKSAAN – Selama masa PPKM Darurat Covid-19, Masjid Ar – Raudlah Kraksaan memutuskan untuk tidak melaksanakan aktifitas peribadatan. Tujuannya guna menekan terjadinya penyebaran wabah pandemi covid-19 di wilayah setempat.

Ketua Masjid Ar – Raudlah Kraksaan Zubaidi mengatakan, pihaknya memutuskan untuk tidak menyelenggarakan aktivitas ibadah di masjid Ar – Raudlah. Hal itu tidak terlepas dari adanya instruksi dari berbagai pihak. “Termasuk intruksi dari bapak presiden, Menteri, Gubenur dan Bupati. Sesuai degan edaran yang telah dikeluarkan. Hal ini juga sudah disepakati oleh berbagai pihak lain, misal seperti MUI dan lainya,” ujarnya, Minggu (4/7).

Ia menyebutkan, tidak adanya aktivitas ibadah di masjid Ar – Raudlah itu seperti salat lima waktu, jumat, dan salat idul adha. Dalam pelaksanaanya, pihak takmir masjid juga memberikan banner imbauan terhadap warga agar dapat melakukan ibadah di rumah masing-masing.

“Tujuannya kan bukan untuk penutupan, namun penyelamatan. Dan kami hanya menjalankan apa yang menjadi keputusan. Untuk jamaah, kami imbau agar dapat melaksanakan ibadah di rumah masing-masing,” ujarnya.

Sementara itu, Bidang Penegakan Hukum pada Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto mengatakan, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyaraka (PPKM) Mikro Darurat Covid-19, utamanya pada tempat ibadah ini berlaku di seluruh tempat ibadah yang ada di Kabupaten Probolinggo.  “Tidak hanya masjid Ar – Raudlah saja. Ini berlaku ke semua tempat ibadah yang ada di kabupaten Probolinggo,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pada teknisnya, kontrol pada aktivitas ibadah nantinya akan dimaksimalkan oleh Satgas Kecamatan maupun pada Pemerintah desa masing-masing. “Jadi kontrolnya akan dilakukan oleh satgas kecamatan dan pihak desa,” ujarnya.

Pemaksimalan kontrol di tingkat bawah itu diungkap Ugas, guna pemaksimalan penerapan PPKM Mikro Darurat. Sebab, ia melanjutkan, meniadakan aktivitas ibdah di tempat ibadah itu harus dilakukan secara pelan-pelan.

“Tempat pemaksimalan penerapannya harus secara pelan-pelan. Tidak bisa menggunakan sistem grusak-grusuk. Harus di beri pemahaman secara baik-baik, sebab ini tempat ibadah,” ujarnya. (yek/awi)


Bagikan Artikel