Sosbudpar

Demi Lulus, Rela Bongkar Rem Berulang Kali

KRAKSAAN – Pengelolaan wisata Gunung Bromo terus dibenahi, termasuk dari aspek jasa jeep wisata. Selain ada pemberian KTA (Kartu Tanda Anggota) dan nomor lambung kendaraan, ada pula syarat lulus uji kir. Nah, Rabu (16/1) lalu ada sekitar 60 unit jeep wisata yang menjalani uji kir. Hasilnya, masih ada yang bermasalah di sistem rem.

Balai uji kir milik Dishub Kabupaten Probolinggo di Desa Alassumur Kulon,  Kraksaan, Rabu (16/1) lalu mendadak ramai. Selain pikep dan truk, saat itu ada banyak jeep wisata Gunung Bromo yang juga menjalani uji kir. Ini merupakan persyaratan yang harus dipenuhi sebagai kendaraan angkutan wisata.

Tak kurang dari 60 unit jeep yang hari itu menjalani uji kir. Angkutan wisata Bromo itu umumnya jenis taft dan hardtop. Uji kir ini terbilang baru dilakukan setelah uji kir yang dilakukan tahun 2010 lalu.

Setelah terjadi erupsi Gunung Bromo pada 2010, hanya segelintir jeep wisata yang menjalani uji kir. Karena itu, target uji kir dari jeep wisata Bromo selama beberapa tahun tidak pernah tercapai.

Tetapi saat ini setiap jeep wisata Gunung Bromo dituntut lulus uji kir. Itu demi menjaga standar kelayakan angkutan wisata di Gunung Bromo. Dan dengan itu pula keamanan angkutan wisata Bromo dapat lebih dipastikan. 

Dari beberapa tahapan uji kir, hampir dipastikan semuanya diproses dengan sistem dan peralatan  baru.  Sebelum erupsi Gunung Bromo tahun 2015 lalu, Dishub pernah melakukan uji kir masal di Kecamatan Sukapura. Namun, pengecekannya masih manual. Termasuk untuk pengecekan fungsi rem.

Driver jeep disuruh mengerem saat kendaraan melaju dengan kecepatan tertentu. Bila kendaraan berhenti dengan kondisi tidak beraturan, dipastikan tak lulus uji kir. Sedangkan pengujian di Balai Uji Kir di Kraksaan Rabu lalu sudah menggunakan peralatan canggih. “Sekarang semuanya sudah dilakukan secara digital. Jadi, hasilnya tidak bisa dibohongi,” jelas Kepala Dishub Kabupaten Probolinggo Heri Suylistyanto.

Bahkan, dari 60 jeep yang uji kir hari itu ada satu mobil yang harus kembali sampai tiga kali. Kendalanya berada di sistem pengereman roda depan dan roda belakang. Batas pengereman di angka 300 dipastikan lulus. Namun jika di bawah itu, diharuskan mengulang. Nah, ada yang mengulang sampai tiga kali.

Salah satu yang harus mengulang adalah jeep dengan driver Arle. Ia mengaku sudah menyiapkan jeepnya untuk diuji kir.  Tetapi setelah menempuh perjalanan dari Sukapura sampai Kraksaan, Arle mendapatkan trouble pada system pengereman. “Namanya juga mesin tua, pasti ada saja beberapa yang harus diganti. Entah itu snell atau  kampas rem,” ujarnya.

Karena mobilnya bermasalah, jeep Arle dinyatakan belum lulus uji kir. Namun karena jarak Sukapura – Kraksaan memang jauh, Dishub memberikan toleransi kepada Arle untuk memperbaiki jeepnya di balai uji kir.

Dengan alat seadanya dan dibantu beberapa sopir jeep lain, problem rem jeep Arle akhirnya bisa diatasi. Selanjutnya, jeep Arle dinyatakan lulus uji kir. “Tetapi sebelum bongkar di sini, sudah dibongkar tiga kali. Pertama, buka yang kanan belakang. Ternyata setelah diuji, kiri belakang nggak pakem. Sampai yang depan juga harus dibongkar,” jelas Arle.

Walau harus ribet membongkar rem jeepnya sampai berulang kali, Arle mengaku tidak mempermasalahkan. Apalagi ini memang menjadi kewajibannya demi  memprioritaskan keselamatan dan kenyamanan wisatawan. “Kalau sudah begini, kami jadi paham kondisi mobil,” tambah Arle. 

Selanjutnya, ia berharap Dishub jemput bola. Misalnya membawa perlatan uji kir yang memadai ke Sukapura. Jadi, uji kir bisa dilakukan di Sukapura. “Kalau misalnya nggak lulus, tidak harus balik lagi ke Kraksaan. Jaraknya kan jauh,” ujarnya. (rul/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan