Sosbudpar

Selama Pandemi, Pendapatan TNBTS Anjlok


PROBOLINGGO – Pendapatan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) tahun 2020 anjlok. Penyebabnya, selama awal pandemi Covid-19 destinasi wisata Gunung Bromo dan Semeru ditutup untuk wisata.

Pendapatan atau Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari hasil pengelolaan wisata di kawasan Bromo Tengger Semeru (BTS) menurun drastic. Ini karena adanya kebijakan buka-tutup kunjungan wisatawan untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19.

“PNBP berkurang sekitar 75 persen dari tahun sebelumnya, ya sekitar 25 persen saja yang masuk,” kata Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas pada BB TNBTS   Syarif Hidayat, Senin (21/6).

Pada tahun 2020, jumlah pendapatan negara yang bersumber dari aktivitas di kawasan TNBTS sebesar Rp 6.418.797.000. Capaian itu dipengaruhi oleh penurunan jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan BTS. Tahun lalu, jumlah kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) sebanyak 193.733 orang dan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 2.658 orang.

Jika dibandingkan 4 tahun sebelumnya, jumlah itu turun drastis. Pada 2016, PNBP sebesar Rp 18.120.987.218. Waktu itu, jumlah kunjungan wisnus sebanyak 424.391 orang dan wisman sebanyak 30.409 orang.

Pada tahun 2017, jumlah wisnus sebanyak 623.895 orang dan wisman sebanyak 23.568 orang. Pendapatan negara yang berhasil diraup senilai Rp 21.998.787.714. Kemudian, pada tahun 2018 naik menjadi Rp 26.179.112.649. Adapun jumlah wisnus sebanyak 800.130 orang dan wisman sebanyak 25.076 orang.

Selanjutnya, pada tahun 2019, jumlah wisnus sebanyak 699.021 orang dan wisman sebanyak 22.061 orang. Pendapatan tahun tersebut turun dibandingkan tahun 20218, yakni Rp 22.859.776.986. “Memang di 2019 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, karena ada kebakaran dan penutupan pendakian,” sebutnya.

Syarif mengakui aktivitas di kawasan Gunung Bromo dan Semeru kerap ditutup untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19. Pembukaan aktivitas di dalam kawasan tersebut mengikuti aturan protokol kesehatan Covid-19. Salah satunya adalah pembatasan jumlah kunjungan. Hal ini sebagai antisipasi peningkatan sebaran Covid-19.

Selain itu, penutupan juga dilakukan karena pelaksanaan ritual adat Suku Tengger, seperti Kasada. “Pembukaan dan penutupan kawasan berdasarkan hasil koordinasi dengan berbagai pihak, seperti pemerintah daerah dan kepolisian. Wisatawan wajib menerapkan protokol kesehatan saat berkunjung ke kawasan BTS,” tandas Syarif. (rul/iwy)


Bagikan Artikel