Sosbudpar

Peternak Ayam Petelur Probolinggo Keluhkan Harga Pakan Tinggi


PROBOLINGGO – Selain situasi pandemi, peternak ayam petelur sedang dibikin resah oleh naiknya harga pakan. Sebab, pada saat harga pakan naik, ternyata harga jual telur tidak mengalami kenaikan.

Para peternak ayam petelur di Kabupaten Probolinggo mengeluhkan naiknya harga pakan ternak di pasaran. Sebab, kondisi ini dirasa sangat merugikan peternak. Kenaikan harga pakan tersebut tidak diimbangi dengan kenaikan harga telur.

Rudianto merupakan salah seorang pengusaha ayam petelur di Desa Sumberbendo, Kecamatan Sumberasih. Pada Rabu (16/6) Koran Pantura mengunjungi kandang ayam milik Rudianto. Ia menampung sekitar 1.000 ekor ayam petelur.

Rudi, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa semenjak awal tahun 2021 ini harga pakan ternak, utamanya konsentrat, mengalami beberapa kali kenaikan. Mulai dari kisaran Rp 365.000 per 50 kilogram, hingga kini mencapai sekitar Rp 415.000 per 50 kilogram. Dengan kata lain terjadi kenaikan harga hingga Rp 50.000 per 50 kilogram, hanya dalam kurun waktu 6 bulan terakhir.

“Pasca kenaikan harga konsentrat itu, margin keuntungan kami nyaris tidak ada. Bahkan bisa dikatakan ‘pak-pok’ atau tidak dapat untung sama sekali,” kata Rudi sambil memberi pakan pada ternaknya.

Dijelaskannya bahwa kenaikan harga pakan ternak selain terjadi pada konsentrat, juga terjadi pada pakan pendukung lainnya. Seperti Jagung yang kini perkilonya dihargai Rp 6.000 per kilogram dan dedak senilai Rp 4.000 per kilogram. Kenaikannya pun berkisar Rp 500 per kilogram dari harga sebelumnya.

“Naik semua, sampai bingung mau cari untung dari mana. Mau naikkan harga telur, tidak mungkin. Karena yang menentukan harga telur itu dari pedagang pasar. Kalau kita naikkan sepihak, khawatir telur produksi kita tidak laku,” jelasnya.

Alhasil untuk menekan kerugian, perangkat desa Sumberbendo ini dengan berbagai cara berupaya mengurangi biaya produksi seminimal mungkin. Salah satunya dengan turun langsung memberi pakan pada ternaknya, alih-alih membayar jasa pekerja untuk menekan biaya.

“Sebenarnya kita rugi di tenaga. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak begini nanti khawatir biaya produksinya membengkak dan tidak bisa membeli pakan lagi untuk ternak kami,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rudi menyebut bahkan untuk urusan memberi pakan, takaran pakan yang diberikan kepada ayam ternaknya pun harus dihemat. Meski tetap memberikan pakan ternak sebanyak 2 kali sehari pada pagi dan sore hari, namun takaran pakannya pun dikurangi sedikit demi menghemat pakan ternak.

Tak ayal hal itu berdampak pada produktifitas ayam petelur yang turun cukup signifikan. Normalnya dalam sehari ayam sebanyak 1.000 ekor bisa menghasilkan telur ayam sebanyak 40 kilogram. Kini hasil produksi telurnya berkisar sekitar 30 kilogram saja.

“Dari situ, hasilnya kalau dijual dengan harga saat ini sekitar Rp 21.000 per kilonya. Maka sebenarnya hasilnya hanya cukup untuk menutupi biaya pakan. Dalam sehari pakan yang diberikan mencapai sekitar 1 kwintal pakan campuran antara konsentrat, dedak, dan jagung,” terangnya.

Dia pun berharap agar kenaikan harga pakan ternak ini juga diikuti dengan kenaikan harga telur di pasaran. Paling tidak di atas kisaran harga Rp 23 000 per kilogram. Karena dari nominal tersebut pihaknya bisa mengantongi keuntungan senilai Rp 1.000 per kilograma.

“Kalau harganya di bawah itu, kita sebagai peternak yang dirugikan. Terlebih biaya obat-obatan untuk menjaga kesehatan ayam petelur tiap bulannya yang mencapai Rp 1 juta per bulannya,” ujarnya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel