Sosbudpar

Keluarga Sugeng, Tinggal di Rumah Tak Layak, Tak Tersentuh Program RTLH


PROBOLINGGO – Masih ada banyak potret kemiskinan di Kota Probolinggo. Salah satunya adalah keluarga Sugeng (37), yang tinggal di sebuah rumah tidak layak huni di Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok.

Kehidupan sehar-hari Sugeng bersama istrinya, Dina Anggraini, bersama dua anaknya sungguh memprihatinkan. Keluarga ini tinggal di sebuah gubuk setengah terbuka yang terletak di RT 1 – RW 3 Kelurahan Jrebeng Lor.

Sugeng menjawab tidak pasti saat ditanya tentang pekerjaannya. Yang jelas menurutnya, penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Bahkan ia bersama istrinya pernah sampai tidak bisa makan. “Yang penting anak saya makan. Kami berdua ngalah. Kami sering menahan lapar,” tutur Sugeng saat ditemui di tempat tinggalnya, Selasa (8/6) sore.

Saat dikunjungi kemarin, Sugeng tengah memperbaiki tabung freon kulkas. Kulkas itu bukan milik orang lain, tetapi miliknya sendiri. Ia membeli kulkas rusak dari seseorang yang kemudian diperbaiki. Bila sudah bisa kembali bekerja, kulkas itu akan dijual kembali. “Pekerjaan seperti ini sudah 5 tahun kami lakukan. Hasilnya untuk kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Penyangga ekonomi keluarga ini hanya Sugeng. Istrinya dulunya bekerja di perusahaan garmen, tetapi kemudian dirumahkan gegara terjadi pandemi Covid-19. “Jangankan menyelesaikan pembangunan rumah. Untuk makan saja kurang,” tambah Sugeng.

Sebelumnya, Sugeng berjualan makanan dan minuman. Karena penghasilannya kurang, ia kemudian banting setir berjualan barang elektronik. Meski berupaya keras, namun nasib baik tidak berpihak kepada dirinya. Kondisinya tetap saja seperti sebelumnya. Meski penghasilannya kurang, ia sempatkan bikin rumah sederhana.

Uang sisa belanja dibelikan bambu hingga tempat tinggal yang diidam-idamkan jadi, walaupun tidak layak huni. Rumah bambu di atas lahan warisan dari orang tuanya itu sekarang kondisinya masih setengah jadi. Beberapa ruangannya masih terbuka, karena Sugeng tidak mampu membeli anyaman bambu untuk penutup.

Meski di sana-sini tidak berdinding, namun rumah itu tetap ditempati. Demi menghindari gigitan nyamuk, di dekat tempat tidurnya berdiri kipas angin. “Tidak hanya nyamuk yang mengganggu. Rumah kami juga pernah dimasuki ular. Ya, takut, tapi mau gimana lagi? Memang hanya ini yang kami punya,” lanjutnya.

 Dalam kondisi ini, Sugeng mengaku belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah setempat. Baik itu bantuan modal, pangan atau sembako. Sugeng juga mengaku tidak mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).

Kepada sejumlah wartawan, Sugeng mengaku hanya menerima bantuan BLT Covid-19. “Ya, benar, kami tidak pernah dapat bantuan dari pemkot dan pemprov. Kami hanya dapat BLT Corona. BLT Rp 600 ribu dua bulan. Bagian terakhir kami tdak menerima. Katanya, nama saya dicoret,” ungkap Sugeng. 

Karena itu, saat Babinsa dan Babinkamtibmas setempat kemarin datang memberi bantuan satu kantong sak plastik beras, Sugeng menyambut bahagia. Kepada anggota TNI dan Polres Probolinggo Kota itu, Sugeng berterima kasih hingga matanya berkaca-kaca. 

Sugeng juga tidak pernah mendapat bantuan program rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Karena itu Sugeng membiarkan rumahnya tak berdinding. 

Soal sekolah anaknya, Sugeng menyebutkan anak pertamanya yang bernama Maylina Wulandari (7) mau masuk SD tahun ini. Sedangkan anak nomor dua bernama Abdul Ghofur yang usianya masih 3 tahun, sudah lulus TK. “Tapi tanpa ijasah. Tanda kelulusan anak saya masih ada di TK. Tidak bisa diambil, karena saya tidak kuat bayar Rp 200 ribu,” lanjutnya.

 Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Rey Suwigtyo saat dikonfirmasi, mengaku belum mengetahui ada warga miskin yang belum menerima bantuan. Karenanya, kepala dinas yang karib disapa Tiyok ini meminta kartu identitas Sugeng. “Saya tidak tahu. Tolong kirim KTP dan kartu keluarganya. Nanti saya kroscek,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel