Sosbudpar

Demi Pengobatan Anaknya, Rela Jual Rumah dan Tinggal di Gubuk


PAITON – Tak ada orang tua yang tega membiarkan sang buah hatinya terus didera sakit. Begitu pula Solehuddin, warga Desa Randumerak, Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo. Bapak berusia 33 tahun itu rela menjual rumahnya demi pengobatan anak semata wayangnya yang divonis mengalami gizi buruk.

Rumah itu berdiri di atas tanah pengairan. Dindingnya berupa anyaman bambu. Di dalamnya hanya ada 3 lincak atau kursi panjang yang dibuat dari ayaman bambu. Dua lincak itu dijadikan tempat tidur. Satu lagi dijadikan tempat shalat. Dapurnya ada di bagian belakang rumah tersebut, tetapi tanpa atap.

Rumah bambu di Dusun Krajang, Desa Randumerak Kecamatan Paiton itu menjadi tempat tinggal keluarga Solehudin. Dalam rumah itu hanya ada dua lincak yang dijadikan tempat tidur. Satu lincak jadi tempat tidur istri dan anak Solehudin. Satu lincak lagi jadi tempat tidur ibu kandung Solehudin. Sedangkan Solehuddin mengalah. Ia memilih tidur di sebuah lincak yang berada di luar rumah.

Solehuddin memiliki ruang tamu di luar gubuk yang beralaskan tanah dan beratapkan langit. Setiap sanak famili yang mengunjunginya selalu dipersilahkan di sebuah kursi tua rapuh di luar gubuk.

Solehuddin bersama keluarganya tinggal di gubuk itu sejak dua bulan terakhir. Rumah tersebut berada tepat di atas tebing sungai Randumerak.

Sebenarnya, Solehuddin tinggal di gubuk berukuran 4×5 meter itu bersama 5 keluarganya. Masing-masing ialah istrinya, Ririn Fatmala Santi (27); putranya, Ashabul Kafi (6); ibunya, Zaenab (63); adik kandungnya, Muhammad Arif Wahab (27); dan seorang keponakan, Ifa Wardatul Mustofah (16).

Namun, tidak semuanya tidur di gubuk tersebut. Keponakannya saat ini sering tidur di asrama sekolah. Sedangkan adik kandung Solehudin sering tidur di tempat pekerjaanya, yaitu rongsokan sampah. Jadi, Solehudin hanya tinggal bersama istri, anak, dan ibu kandungnya.

Saat wartawan berkunjung Senin (7/6) ditemui oleh istri dan anak Solehuddin. Sedangkan Sholehuddin masih menunaikan ibadah sholat ashar di sebuah mushala  tak jauh dari rumahnya.

Beberapa menit kemudian, Solehuddin datang. Ia menyambut wartawan dengan penuh senyum dan keramahan. Saat itu ia mengenakan kemeja batik bermotif naga khas Pekalongan. Namun baju itu sudah nampak lusuh dan tua. “Assalamualaikum. Dari mana mas-mas ini?” kata Solehuddin menyapa para wartawan sambil menjabat tangan para wartawan.

Ia kemudian duduk di kursi tua depan gubuk dengan didampingi istri dan anak semata wayangnya. Obrolan tentang perjuangan berat Solehuddin pun mengalir.

Pasangan suami istri Solehuddin dan Ririn sebenarnya memiliki rumah di sebelah selatan gubuknya. Namun rumah itu telah dijual pada tahun 2014 lalu. Sebab, Solehuddin dililit segudang kebutuhan. Salah satunya ialah untuk pengobatan anaknya, Ashabul Kafi yang divonis gizi buruk.           

Di lain sisi, Solehuddin yang menjadi tulang punggung keluarga, juga masih harus menerima beban dari keluarga besarnya. Termasuk biaya sekolah keponakannya yang kini duduk di bangku SLTA. Sebab, keponakannya itu telah ditinggal oleh ibunya, yang tidak lain adalah saudara Solehuddin.

Keadaan putranya, Kafi, menjadi perhatian utama Solehuddin dan istrinya. Mereka berharap anak semata wayangnya itu mendapat perhatian dari pemerintah. Sehingga mendapat pengobatan yang layak. Melihat keadaan anak itu setiap hari membuat Solehuddin menahan rasa pedih dalam hatinya.

“Dulu pernah berobat di Puskesmas. Katanya, gizi buruk. Mau pengobatan lagi, nggak punya uang. Jadi terpaksa ke dukun saja. Setelah itu, sudah nggak ada lagi. Upah kerja tak cukup untuk baiya pengobatan,” kata Solehuddin dengan mata berkaca-kaca sembari mengelus kepala sang buah hatinya.

Gubuk yang kini jadi tempat tinggal Solehuddin berada cukup dekat dengan pemukiman warga, sekitar 50 meter jaraknya. Namun gubuk kecil itu dibangun tepat di atas tanah pengairan. Solehuddin paham betul tanah itu bukan tempat yang tepat untuk menjadi tempat tinggalnya.

Namun, Solehuddin tidak memiliki pilihan lain. “Tahun 2014 itu rumah dijual. Kami masih diberi kesempatan untuk tinggal sampai awal tahun, dua bulan lalu. Tetapi sekarang rumah itu sudah dihuni pemiliknya. Jadi kami harus pindah,” kata Solehuddin sambari menatap anaknya yang kurus dalam gendongan ibunya.

Gubuk itu dibangun oleh Solehuddin dari sisa uang hasil penjualan rumah. Saat ini, Solehudin bekerja sebagai kuli rombengan di dekat rumahnya. Setiap hari ia hanya bisa mendapatkan uang sebesar Rp 40-60 ribu. (yek/iwy)


Bagikan Artikel