Sosbudpar

Ada Gerhana, Tetap Berburu Kerang


PROBOLINGGO – Pasang surutnya air laut terjadi akibat adanya fenomena gerhana bulan total atau super blood moon, kemarin (26/5). Namun sebagian warga menanggapi santai. Seperti warga pesisir yang ada di Dusun Parsean Desa Randuputih, Kecamatan Dringu. Mereka malah memanfaatkan momen ini untuk aktifitas mencari kerang.

Kegiatan tersebut dilakukan di saat air laut tengah surut selepas tengah siang hari. Lantaran pada pagi hingga tengah siang harinya, air laut dal kondisi pasang dan tak memungkinkan untuk warga disekitar perkampungan nelayan itu untuk mencari kerang.

Seperti diungkapkan Herman (40) salah seorang Perangkat Desa Randuputih. Kegiatan mencari kerang itu, dilakukan hanya dalam skala kecil, lantaran musim berburu kerang biasanya dilakukan pada saat di penghujung musim kemarau dan memasuki musim penghujan.

“Kalau kerang yang saat ini diburu warga hasilnya tidak seberapa, biasanya hanya dipakai untuk konsumsi pribadi di rumah dan ada pula yang dijual,” ungkapnya, Rabu (26/5) kemarin.

Kerang ditangkap oleh warga yang mayoritas adalah ibu-ibu dan anak-anak. Jenisnya kerang bulu yang biasa ditemui di pasir dan dasar laut di sekitar pantai yang berlumpur.

“Cara mendapatkannya pun cukup mudah cukup bawa sekop sederhana dan timba sebagai wadahnya. Cukup cari lokasi yang diprediksi ada kerangnya terus ditusuk-tusuk pakai sekop, kalau ada yang keras kemudian disekop dan sudah dapat kerangnya,” jelasnya.

Disebutnya bahwa kegiatan mencari kerang di saat momen terjadinya gerhana bulan ini, sama sekali tidak ada yang spesial. Lantaran hal ini sudah secara turun temurun dilakukan oleh warga di sekitar Dusun Parsean. Sehingga kalaupun terjadi fenomena gerhana bulan, itu merupakan pertanda bagi nelayan kalau kondisi ditengah laut sedang tidak bersahabat.

“Biasanya ombak di laut jadi lebih tinggi dan anginnya juga kencang. Kalau sudah begitu tangkapan ikan juga tidak akan maksimal, sehingga banyak nelayan yang memilih tidak melaut dulu. Terlebih karena ukuran kapal nelayan disini kecil,” sebutnya.

Alhasil dengan adanya kegiatan berburu kerang ini, sedikit banyak dilakukan oleh warga untuk menambah lauk makan di rumah. “Hasil berburu kerangnya dimakan sendiri, kalaupun dijual sekitar Rp 25 ribu sampai Rp 35 ribu per kilonya. Tapi kebanyakan untuk dikonsumsi sendiri karena sulit mencari kerang saat ini,” singkat Hamidah (44) salah seorang warga desa setempat. (tm/ra)


Bagikan Artikel