Sosbudpar

Ada Prokes dan Kuota Pengunjung, Bromo Tetap Tutup


SUKAPURA – Penutupan tempat wisata di Kabupaten Probolinggo selama liburan Idul Fitri 1442 Hijriyah memang terkesan mendadak. Tak terkecuali, penutupan wisata Gunung Bromo oleh TNBTS, meski protokol kesehatan (prokes) tetap dijalankan, dan kuota pengunjung 30 persen masih berlaku.

Zona di empat daerah di kawasan Gunung Bromo pun tidak ada yang zona merah. Kabupaten Probolinggo masih zona kuning atau penyebaran Covid-19 rendah. Begitu pula dengan Kabupaten Lumajang dan Pasuruan. Sedangkan Kabupaten Malang, terakhir masuk zona oranye.

Dengan latar situasi itu, maka wajar jika muncul pertanyaan di kalangan pelaku wisata, khususnya di kawasan Gunung Bromo. Terlebih, pengumuman penutupan seluruh tempat wisata  dirilis dua hari sebelum hari raya, melalui surat edaran (SE) Bupati Probolinggo. Sehari sebelumnya, SE yang sama juga diterbitkan Bupati Lumajang.

Sedangkan untuk dua wilayah yang berada di kawasan TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) lainnya, yaitu Pasuruan dan Malang, tidak ada penutupan tempat wisata. Hanya, bupati setempat meminta agar pengelola wisata menerapkan prokes ketat. Berselang sehari dari penutupan itu, baru TNBTS mengumumkan wisata Gunung Bromo resmi ditutup.

Hal ini membuat pelaku wisata Gunung Bromo harus berpuasa lebih lama. Apalagi, kondisi selama puasa tidak ada pemasukan karena sepinya tamu. Momen libur lebaran itu yang dinantikan selama dua tahun terakhir. Sebab, tahun lalu wisata Gunung Bromo masih ditutup ditengah pandemi.

“Kalau mendadak begini, kami harus kemana? Toh kebijakan seperti ini nggak ada solusi juga buat kami. Ya terima sudah,” kata Irwan, salah satu pelaku wisata asal Sukapura.

Irwan mengatakan, jika memang ada kajian yang benar dan tidak ada tendensi apapun, seharusnya sudah diumumkan dari jauh hari. “Bukan sehari menjelang lebaran,” katanya.

Rusydi, pelaku wisata lain, mengaku sampai harus membatalkan tamu yang dari Surabaya sebanyak 70 pack. “Ya harus batal wis. Padahal sudah booking. Peserta juga sudah cuti kerja dan lainnya. Eman kalau dadakan seperti ini,” jelasnya.

Tidak hanya soal pengumuman yang mendadak, tapi Rusydi bersama dengan pelaku wisata lain sangat sulit bangkit selama pandemi sekarang. “Kami harus survive. Cuma,  kebijakan seperti ini ya repot juga,” jelasnya.      

Di sisi lain, adanya SE Bupati Probolinggo itu juga merupakan turunan dari SE Gubernur Jatim dengan isi senada. “Itu turunan dari SE Gubernur, ya harus dijalani. Semoga teman-teman mendapat rezeki lain,” kata salah satu anggota Satgas Covid 19 Kabupaten Probolinggo.

Menurutnya,  kebijakan mendadak seperti ini bukan merupakan cara “cuci tangan” satgas Covid-19 atau dinas terkait. “Nggak, bukan mau ‘cuci tangan’, tapi memang sudah dari gubernur kemudian kepala daerah juga menerapkan hal yang sama,” katanya.

Sementara, Balai Besar TNBTS juga menyatakan menutup obyek wisata Gunung Bromo selama libur lebaran Idul Fitri 1442 Hijriyah, mulai Kamis (13/5) hingga Minggu (23/5). Kebijakan ini tertuang dalam pengumuman BB TNBTS yang diteken Plt Kepala BB TNBTS Novita Kusuma Wardani, Selasa (11/5). Penutupan ini dilakukan untuk mewaspadai meluasnya penyebaran Covid-19 pada masa libur lebaran dan periode pengetatan perjalanan dalam negeri.

“Seluruh obyek wisata yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ditutup secara total untuk aktivitas wisata dan kegiatan lainnya mulai tanggal 13 Mei 2021 pukul 00.00 WIB sampai dengan 23 Mei 2021 pukul 23.59 WIB,” begitu petikan SE itu.

Penutupan itu, dilakukan setelah memperhatikan SE Satgas Covid-19 nomor 13/2021 beserta adendumnya. Juga didasarkan telegram Kapolri, SE Bupati Probolinggo dan  SE Bupati Lumajang. Dengan demikian, kawasan TNBTS yang berada di perbatasan Probolinggo, Lumajang, Malang dan Pasuruan dinyatakan ditutup. (rul/iwy)


Bagikan Artikel