Sosbudpar

Para ODGJ berjoget saat kawannya yang lain bernyanyi. Hal itu merupakan bentuk terapi jiwa. (Deni Ahmad Wijaya/Koran Pantura)

Ajak ODGJ Berjoget Bersama

KREJENGAN – Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) terkadang dianggap sebagai sampah masyarakat. Sebagian mengacuhkan, mengucilkan, bahkan ada yang memasungnya. Kini, makin banyak program terapi kesehatan jiwa (keswa) yang diterapkan. Puskesmas Krejengan menjadi salah satu instansi kesehatan yang merealisasikannya.

Kantor Desa Jatiurip Kecamatan Krejengan Rabu (16/1) ada 8 ODGJ yang dikumpulkan. Mereka sengaja dihadirkan untuk diberi terapi keswa. Mereka diajak berinteraksi sosial senyaman mungkin dengan masyarakat lainnya.

“Pertama, kami cek kesehatannya. Kemudian kami  ajak interaksi mereka dengan menyebutkan nama, bernyanyi sampai berjoget bersama. Itu sebagai jaminan bahwa mereka aman di lingkungan masyarakat,” kata Programer Kesehatan Jiwa pada Puskesmas Krejengan Afif Dwi Sukmana kepada Koran Pantura.

Ia menjelaskan, program ini sudah direalisasikan sekitar 1 tahun lalu. Di wilayah Kecamatan Krejengan baru ada satu Posyandu Keswa. Namun pihaknya berencana akan mendirikan lagi di Kecamatan Krejengan wilayah timur.

“Sedangkan Puskesmas yang sudah menerapkan program ini ada 3 di Probolinggo. Yakni Tongas, Krejengan dan Pakuniran. Diharapkan lebih banyak lagi muncul Puskesmas dengan program serupa,” tutur Afif.

Menurutnya, membina ODGJ berbeda dengan pembinaan kesehatan bagi masyarakat normal. Rata-rata ODGJ enggan menyebutkan penyakit yang diidap. Terlebih karakter ODGJ terkadang terlampau pasif dan terlampau agresif.

“Pernah kami datang ke rumah untuk mengajak pasien, malah mau dipukul sama paralon. Ada juga yang menyiapkan sajam di rumah. Jadi tidak mudah. Realisasi program perdana, kami hanya bisa mengumpulkan 3 ODGJ. Alhamdulillah, sekarang sebenarnya ada 10 orang, tapi yang bisa hadir 8 orang,” bebernya.

Pantauan Koran Pantura di lokasi, kegiatan itu dimulai dengan timbang badan, cek tensi darah dan juga praktik menggosok gigi. Kendati tanpa alat peraga ril. Hanya menggunakan pulpen.

Kemudian, ODGJ ditanya 1 per satu namanya, hobinya dan berapa kali makan dan menyikat giginya dalam sehari. “Saya makan 2 kali sehari. Sikat giginya 3 kali,” ucap Muslimin, salah satu ODGJ.

“Wih, hebat. Bersih dong ya giginya. Memang kapan saja sikat giginya,” tanya seorang petugas. Sebelumnya, petugas menyampaikan bahwa menyikat gigi idealnya 2 kali sehari. Setelah sarapan dan sebelum tidur malam.

“Saya sikat gigi setelah sarapan dan setelah tidur,” jawab Muslimin disambut gelak tawa hadirin. ODGJ yang lain pun ikut tertawa bersama.

Setelah itu, musik dangdut dilantunkan. Para ODGJ diajak berjoget. Awalnya mereka malu. Namun dikarenakan petugas Posyandu Keswa dan perangkat desa Jatiurip berjoget, mereka juga ikut berjoget. Bahkan, ada seorang ODGJ yang bertindak selaku penyanyi.

Liriknya langsung berubah total dan tidak karuan. Tapi si penyanyi tetap PeDe bernyanyi. Seorang perangkat bahkan menyawer ODGJ. Membuat si penyanyi makin bersemangat bernyanyi.

Kepala Desa Jatiurip Saleh Husni menerangkan, program ini ada sejak Oktober 2017 lalu. Pihaknya pun mengakomodir ODGJ di desanya. Apalagi, petugas kesehatan meyakinkan kepada Pemdes, bahwa dengan terapi ini ada potensi gangguan jiwa bisa sembuh.

“Kami juga mulai mengakomodir ODGJ dari desa tetangga. Seperti Desa Tanjungsari, Opo-Opo dan Patemon. Tujuannya agar mereka bisa mendapatkan perlakuan lebih baik dan lebih layak di lingkungan masyarakat,” terang Husni.

Menurut Husni, program ini juga sebagai bentuk dukungan Pemdes terhadap program Bupati Probolinggo yakni Kabupaten Probolinggo tanpa pasung. “Memasung ODGJ hanya akan semakin menyakiti dan menambah derita ODGJ. Kami berharap ke depan tidak ada lagi ada pemasungan ODGJ, terutama di Kecamatan Krejengan,” harap Husni. (iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan