Sosbudpar

Kisah Cung Roib, dari Vonis Hukuman Mati, Kini Jadi Ustadz 


PROBOLINGGO – Namanya Cung Roib (60). Ia pernah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan karena memiliki ganja seberat 11 kilogram. Tetapi Cung Roib mendapat grasi, dan terhindar dari hukuman mati. Kini Cung Roib dikenal sebagai seorang ustadz.

Cung Roib bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Pasir Putih, Nusa Kambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Barat, pada 2015 lalu. Sepulang dari menjalani masa tahanan, Cung Roib tidak tinggal di tempat tinggal asalnya di Jalan KH Mansyur, Kota Probolinggo.

Cung tinggal di Kampung Suka Baru, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, bersama istrinya. Di lingkungan tersebut, Cung Roib aktif menghadiri kegiatan keagamaan. Endingnya, Cung diminta warga setempat untuk mengajar mengaji.

Seiring berjalannya waktu, terkumpul sampai 60 anak. Masyarakat kemudian bahu membahu membangun mushala di atas lahan milik warga.  Di mushala Al Hasani itu Cung Roib bersama 2 warga setempat, mentransfer ilmu agama kepada para santrinya. Lima tahun berlalu, kini jumlah santri yang aktif tinggal 35 anak.

Ditemui usai shalat dzuhur berjamaah, Rabu (21/4), Cung Roib menuturkan kisahnya   hingga lolos dari eksekusi mati. Tahun 2000 lalu ia diamankan Polres Probolinggo, setelah diketahui menyimpan ganja seberat 11 kg di rumah tinggalnya di Jalan KH Mansur, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo. “Sebelas kilogram ganja yang diamankan di rumah,” kata Cung.

Rumah Cung digeledah polisi, setelah namanya dicatut pemasok ganja yang lebih dulu ditangkap. Pria yang dimaksud merupakan warga Aceh yang sebelumnya belum dikenalnya. Orang itu menawarkan ganja saat menunggu temannya datang, yang tak lain adalah tetangga Cung Roib sendiri. “Saya tinggal bermain sepakbola orang itu. Anehnya, sepulang dari olahraga, warga Aceh itu belum pulang. Nunggu kedatangan saya,” jelasnya.

Ia kemudian menawarkan ganja. Lantaran tak pernah tahu dan tidak berpengalaman soal bisnis ganja, penawaran tersebut ditolak Cung Roib. Namun, keesokan harinya pria yang dimaksud membawa ganja yang terbungkus rapi. Mau tak mau, Cung Roib menjual ganja yang belum dibeli tersebut. “Terpaksa kami jualkan,” urainya.

Di Pengadilan Negeri Probolinggo, pria yang pernah menjadi PNS di Pemkab  Probolinggo ini divonis hukuman mati. Cung Roib menghuni Lapas kelas I Probolinggo, 1 tahun. Kemudian ia dikirim ke Lapas Lokwaru, Kota Malang dan menghuni di lapas tersebut 2 tahun. “Satu tahun di Malang, status vonis saya berubah menjadi seumur hidup,” katanya.

Putusan lebih ringan itu didapat, setelah dirinya mengajukan kasasi. Sedang pengajuan bandingnya, ditolak dan Pengadilan Tinggi Jawa Timur menguatkan putusan PN Probolinggo. Dua tahun di Malang, Cung Roib kemudian dilayar ke Lapas Madiun dan menghuni di sana kurang lebih 4,5 tahun. “Dari Madiun saya dilayar ke Lapas Pasir Putih Nusakambangan. Tanggal 21 Juni 2007. Kira-kira 7,5 tahun di sana,” jelasnya.

Lima tahun setelah tinggal di Lapas Nusakambangan, Cung Roib dimintakan grasi ke Presiden. Hanya, 2 pengajuan grasinya ditolak. Dan pada era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pengajuan grasinya dikabulkan. “Saya keluar dari Nusakambangan, Selasa 3 Februari 2015. Saya menjalani hukuman sekitar 15 tahun,” tambahnya.

Kakek yang memiliki cucu lebih dari dua ini sekarang menjalani hidup kesehariannya lebih banyak di rumah. Selain mengurus rumah tangganya, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengikuti kegiatan masyarakat dan keagamaan. “Ya, seperti ini saya setiap hari. Ngimami di mushala dan ngajar ngaji anak-anak. Santrinya tinggal 3 anak. Dulu 65 anak,” ungkapnya.

Cung Roib juga aktif juga menghadiri kegiatan keagamaan lain, seperti jamaah yasinan, sarwah dan lain-lain. Saat ini, ia meninggalkan kegiatan yang berbau duniawi, termasuk bekerja. “Sudah tidak bekerja. Soal rezeki, Allah yang mengatur. Ada saja kok. Kita pasrah pada Allah,” tambahnya.

Terhadap generasi muda, ia berharap dan meminta untuk tidak melakukan perbuatan yang pernah dilakoninya. Selain mendapat dosa, berbisnis barang haram seperti narkoba tidak ada manfaatnya, justru menjerumuskan ke jalan hidup paling terpuruk. “Jangan meniru perbuatan kami. Cukup saya saja. Enggak ada manfaatnya. Kerjakan perbuatan yang baik, agar hati menjadi tenang dan bahagia,” tuturnya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel