Sosbudpar

Khawatir Jama’ah Tidak Khusyuk, MUI Batasi Penggunaan Speaker Luar


PROBOLINGGO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo membatasi penggunaan pengeras suara luar dalam pelaksanaan salat tarawih. Sebab hal tersebut dinilai dapat mengurangi kekhidmatan pelaksanaan ibadah malam hari di bulan suci Ramadan tersebut.

Sekretaris MUI setempat Yasin mengatakan, pihaknya mengimbau agar hanya waktu azan dan wiridan sebelum salat yang cukup menggunakan pengeras suara luar. Sedangkan untuk salatnya, cukup menggunakan pengeras suara dalam.

“Karena masjid apalagi musala di sini (Probolinggo, red) itu kan banyak dan lokasinya berdekatan, jadi bisa mengganggu yang lain kalau menggunakan speaker luar saat tarawihnya,” katanya, Senin (12/4).

Ia menambahkan, alasan lain pihaknya melarang penggunakan speaker luar saat salat tarawih ialah hal tersebut dapat membuat jamaah di lokasi lain gelisah. Terlebih jika pelaksanaan salat tarawih di salah satu masjid atau musala telah selesai lebih cepat dari masjid lainnya.

“Tujuannya memang baik yakni syiar, tapi biasanya kalau jamaah itu sudah mendengar ada masjid yang sudah selesai, mereka jadi waswas ibadahnya dan ingin segera selesai. Makanya kami minta cukup menggunakan speaker dalam,” terangnya.

Lebih dari itu, Yasin juga berharap dalam menentukan waktu azan, baik untuk salat Isya – tarawih terlebih untuk azan Maghrib, hendaknya mengikuti jadwal yang sudah ditentukan oleh Masjid Agung Ar-Raudloh. Sehingga dalam pelaksanaan ibadah buka puasa dan salat tarawih, tidak memunculkan perbedaan waktu.

“Mungkin kalau Maghrib tertib, tapi isya’nya ini banyak yang curi start. Dan ini yang membuat salat tarawih tidak sama. Ada yang selesai dan ada yang belum selesai,” terangnya. (ay/awi)


Bagikan Artikel