Sosbudpar

Sentra Ikan Asap Parsean Membahayakan


DRINGU – Keberadaan sentra ikan asap Parsean yang terletak di tepi ruas jalan pantura Desa Randuputih, Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo dinilai membahayakan. Sebab, kondisi sentra ikan asap mengabaikan aspek kenyamanan dan keamanan pembeli maupun pengguna jalan.

Menurut warga setempat, telah terjadi 2 kecelakaan lalu lintas yang disebabkan  penyempitan jalan oleh parkir kendaraan pembeli ikan asap. Selain itu, warga yang hendak menyeberang jalan pun jarak pandangnya kerap terhalangi oleh parkiran kendaraan pembeli ikan asap maupun lapak pedagang.

Sebenarnya Pemkab Probolinggo sudah pernah berupaya merelokasi puluhan pedagang ikan asap itu ke kawasan objek wisata Pantai Bentar. Namun, karena lokasinya dinilai tidak strategis, satu persatu pedagang ikan asap itu balik ke pinggir jalan Parsean.

Alhasil, kondisi tersebut mengesankan sentra ikan asap Parsean sama sekali seperti tidak terkelola dengan baik. Bahkan jejeran bedak semi permanen yang ada di tepian jalan itu dapat kapan saja digusur, lantaran berdiri di atas tanah milik Balai Besar Jalan Nasional (BBJN). Peruntukannya jelas bukan menjadi tempat berdagang.

Namun, para pedagang terlanjur nyaman berjualan ikan asap dekat rumahnya.  Alhasil, puluhan pedagang ikan asap itu seperti tidak peduli lagi pada aspek kebersihan, kenyamanan, dan keamanan.

Kepala Desa Randuputih Kecamatan Dringu Sukandar mengatakan, pihaknya sudah berupaya membujuk para pedagang ikan asap itu agar pindah ke lokasi yang lebih baik. Namun,  sepertinya bujukan tersebut tidak digubris, lantaran para pedagang ikan asap itu sudah berada di zona nyaman.

“Padahal, sedianya saya akan merelokasi mereka kelahan khusus milik desa dan dibangunkan kios atau lapak yang layak. Sebagai perwujudan pengelolaan profesionalnya nantinakan di bawah binaan BUMDes,” ungkapnya, Senin (5/4).

Dijelaskan bahwa telah banyak pihak yang coba merelokasi keberadaan puluhan PKL di sepanjang jalur pantura Dusun Parsean tersebut. Namun memang karena alasan ekonomi yakni lebih mudah dapat pelanggan kalau berjualan di tepi jalan, membuat seluruh rencana relokasi yang ditawarkan pada akhirnya mental.

“Nanti setelah kami siapkan lahannya untuk berjualan ditepi jalan, mereka mau alasan apa lagi? Sepertinya memang butuh pendekatan dan ketegasan dari aparat penegak perda dan hukum untuk membuat mereka patuh,” jelasnya.

Menurutnya, hal tersebut adalah sebagai bentuk penata kelolaan sentra ikan asap yang dapat dikelola dengan profesional dan dibanggakan sebagai ikon baru kabupaten Probolinggo. “Potensinya ada. Sumber daya alam dan manusianya ada. Namun memang pengelolaannya yang belum maksimal. Sedangkan dari dinas terkait sepertinya memang telah kehabisan akal untuk membujuk para PKL ikan asap itu,” sebutnya.

Terpisah, Yuli salah seorang PKL setempat mengaku bahwa alasannya dia enggan untuk direlokasi lantaran di tempat baru yang nantinya disediakan, tidak ada jaminan tempatnya akan strategis atau berada ditepi jalan seperti saat ini. “Kalau lokasi di tepi jalan juga, kami mau. Kalau kayak kemarin (di kawasan Pantai Bentar), kami tidak mau. Sudah sepi, tidak ada yang beli,” katanya.

Terkait kendaraan pelanggan yang parkir di depan bedak, Yuli menyebut jika itu adalah hal yang biasa dan sudah sejak dulu memang begitu. Kalau memang mengganggu arus lalu lintas, kenapa dari dulu tidak ditertibkan atau disiapkan lahan parkirnya.

“Kami hanya pedagang kecil yang coba bertahan di tengah masa pandemi ini. Kondisi yang sudah sulit ini hanyalah dipersulit dengan kebijakan yang aneh-aneh dan tidak jelas,” katanya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel