Sosbudpar

Aisyah Firadilah, Bocah 9 Tahun yang Disebut Lumpuh Usai Imunisasi


PROBOLINGGO – Sholehatin (41) tidak pernah menyangka putri keduanya akan mengalami penderitaan sejak usia dini. Di usia masih 9 tahun, putri kedua yang diberi nama Aisyah Firadilah ini mengalami kelumpuhan sejak usianya belum genap setahun dan bertahan sampai saat ini.   

Usia Aisyah Firadila baru menginjak 9 tahun. Tetapi hari-harinya hanya dihabiskan dengan berbaring di atas kasur. Ia hanya bisa membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur. Aisyah tidak bisa beraktivitas seperti bocah normal seusianya. Kondisi seperti ini dialami Aisyah sejak ia masih berumur 6 bulan.

Aisyah Firadilah merupakan putri pasangan suami istri Suyitno (51) dan Sholehatin (41), warga Jl Sunan Ampel RT 3 – RW 10, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Aisyah mengalami kelumpuhan pasca diimunisasi DPT di sebuah Posyandu. Selain kelumpuhan, Aisyah kemudian juga mengalami gangguan pada penglihatan dan kemampuan bicaranya.

Pengakuan itu disampaikan Sholehatin, Minggu (28/3) siang. Berbagai usaha dilakukan  Sholehatin dan Suyitno untuk penyembuhan putrinya. Selain berobat ke RSUD dr Moh. Saleh, Aisyah juga berusaha dimintakan obat melalui orang pintar. Namun, kondisi Aisyah tidak kunjung membaik.

Hanya penglihatannya yang kini kembali berfungsi, setelah rutin ke pengobatan alternatif. Menurut Sholehatin, putrinya bisa kembali melihat sekitar satu tahun lalu. “Dulu diginikan tidak respon. Sekarang sudah respon melihat tangan saya,” sebut Sholehatin seraya menggerak-gerakkan tangannya di atas kedua mata putrinya.

Sholehatin menuturkan, kejadiannya dulu setelah diimunisasi DPT di Posyandu pagi hari, malamnya Aisyah kejang-kejang karena suhu tubuhnya tinggi. Bocah itu kemudian satu minggu lamanya opname di ICU RSUD dr Moh. Saleh.

Tak hanya sekali, Aisyah dirawat dan opname di RSUD sampai tiga kali. Mulanya opname selama seminggu, lalu 9 hari, dan 2 minggu.  “Katanya saraf. Otak kirinya. Sudah discan,” ujar Sholehatin.  

Pihak RSUD menyarakan Aisyah dibawa ke RSUD Malang. Tetapi saran tersebut tidak pernah dilaksanakan, karena Sholehatin terbentur biaya. Gaji Suyitno  dari bekerja di selep padi, tidak cukup untuk menutup biaya pengobatan Aisyah. “Gaji suami saya hanya cukup untuk biaya sehari-hari,” ucapnya.

Saat disinggung BPJS, perempuan beranak tiga ini mengatakan, perawatan putrinya tidak mungkin dibiayai BPJS. Alasannya BPJS Aisyah sudah tidak aktif karena iuran bulanannya tidak dibayar. Putri kedua dari tiga bersaudara tersebut ikut BPJS mandiri. “Mau diikutkan BPJS program UHC yang gratis itu tidak bisa. Disuruh melunasi iurannya yang belum dibayar,” jelasnya.

Sedangkan Sholehatin dan suami serta kedua anaknya, sudah terdaftar di BPJS yang dibayar pemkot. Aisyah tidak ikut BPJS kedua orang tuanya, karena saat ngamar di RSUD didaftarkan BPJS mandiri.  

Selama ini Sholehatin dapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Bahkan dapat 2 PKH. Satu khusus putrinya dan satunya untuk Sholehatin. Namun satu bulan yang lalu, PKH dirinya sudah tidak aktif lagi. “Kalau PKH untuk anak saya masih berjalan. Bantuan pengobatan dari pemkot tidak pernah dapat,” tambahnya.

Sholehatin berharap, pemkot membantu kebutuhan susu dan pampers putrinya. Alasannya, kedua barang tersebut dibutuhkan setiap hari. Aisyah tidak mau makan ikan dan daging, sehingga kebutuhan atau asupan gizinya dipenuhi susu. “Kami butuh pampers banyak setiap hari. Aisyah minum susu setiap hari. Ikan dan daging tidak mau,” tutur Sholehatin.

Sholehatin mengaku sempat dimarahi petugas Puskesmas Kedopok, lantaran menyebut  anaknya kejang-kejang usai imunisasi. Itu terjadi saat ditanya petugas di RSUD dr Moh. Saleh ketika Aisyah dirawat di RSUD. “Kan saya bilang terus terang. Malah saya dimarahi sama petugas puskesmas,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel