Sosbudpar

Cegah Penyakit Leptospirosis, Puskesmas Dringu Pasang Ratusan Jebakan Tikus


DRINGU – Puskesmas Dringu melakukan upaya deteksi ancaman penyakit pasca bencana banjir di empat desa. Puskesmas memasang 150 jebakan tikus untuk mendeteksi adanya ancaman penyebaran penyakit leptospirosis.

Pasca bencana banjir yang melanda 4 desa di kecamatan Dringu, Puskesmas Dringu memasang sebanyak 150 jebakan tikus. Tujuannya untuk mendeteksi adanya ancaman penyebaran penyakit leptospirosis.  

Diketahui bahwa penyakit leptospirosis rawan terjadi di wilayah banjir. Penyakit ini rawan menjangkiti manusia melalui paparan air atau tanah yang telah terkontaminasi oleh urine hewan pembawa bakteri Leptospira Interrogans. Biasanya bakteri tersebut diketemukan ada dalam urine dan darah tikus.

Kepala Puskesmas Dringu dr. Lina Wahyu Indrayati mengungkapkan, ratusan jebakan tikus dipasang di sekitar pemukiman warga yang sempat terendam banjir di Desa Tegalrejo, Kalirejo, Kedungdalem, dan Dringu. Tujuannya untuk mengendalikan populasi tikus dan mendeteksi adanya penyebaran penyakit leptospirosis.

“Kami sudah sebarkan jebakan tikus tersebut, dan beberapa sampel tikus yang tertangkap sudah kami bedah dan teliti. Memang ada kecenderungan adanya bakteri leptospirosis itu,” kata dr Lina, Kamis (18/3).

Dijelaskan, sebagai antisipasi terjadinya penyebaran penyakit mematikan itu, pihaknya sudah melakukan assesmen dan telah memasang 150 jebakan tikus di rumah milik warga terdampak banjir di 4 desa.

Tak hanya itu, pihaknya juga telah melakukan imbauan kepada masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitarnya. “Paling penting yakni kesadaran masyarakat akan kebersihan dan kesehatan tetap dijaga,” jelasnya.

Sementara itu, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr Dewi Vironica menyebutkan bahwa potensi penyebaran leptospirosis bukan hanya berasal dari tikus. “Potensi penyakit ini juga ada pada hewan ternak seperti babi, kambing, domba, sapi, anjing, kucing dan burung. Namun, penyebar utamanya di kala bencana banjir memang tikus,” sebutnya.

Lebih lanjut, dr Dewi mengatakan bahwa gejala pada manusia yang terserang penyakit leptospirosis ini meliputi flu, mual, demam, muntah, yang disertai dengan nyeri otot pada area betis dan pada kasus berat didapatkan gejala mata dan kulit menjadi kuning.

“Cara mencegah terserang penyakit ini dengan selalu membersihkan bagian tubuh yang terkena air banjir. Kemudian, segera langsung berobat saat ada gejala leptospirosis itu. Jika tidak segera ditangani, bisa mengakibatkan pasien meninggal,” ujarnya.

Sebagai informasi, sebelumnya telah ada salah satu warga korban banjir yang meninggal dunia setelah terkonfirmasi terserang leptospirosis. Korban tersebut adalah RD (44), warga desa/kecamatan Dringu yang meninggal pada Minggu (14/3) lalu setelah sempat menjalani rawat jalan selama 4 hari. (tm/iwy)


Bagikan Artikel