Sosbudpar

Anak Korban Banjir Dringu Tak Bisa Belajar


DRINGU – Dampak banjir Dringu masih terasa. Selain dampak kerugian materil, para anak korban banjir pun kini tak bisa belajar. Sebab, buku-buku pelajaran mereka, baik berupa buku paket dan LKS, banyak yang rusak terendam banjir.

Banjir Dringu melanda empat desa, yaitu Desa Kedungdalem, Dringu, Kalirejo dan Tegalrejo. Di rumah-rumah yang terendam banjir di empat desa itu, banyak buku pelajaran ikut rusak oleh air banjir.

Meski telah dicoba dijemur agar kering, tetapi kondisinya sudah tidak sama lagi. Kertas mengembang. Teksnya luntur atau tidak bisa terbaca lagi. 

Hal ini tentu sangat menyulitkan anak-anak korban banjir yang masih bersekolah di berbagai jenjang pendidikan. Terlebih dengan pembelajaran daring dan luring yang saat ini sedang diberlakukan di tengah pandemi Covid-19.

Candra (12), salah seorang siswa kelas 5 di salah satu SD, dengan polosnya mengaku kini tak punya lagi buku pelajaran dan seragam sekolah. Kini dia bingung karena tak bisa belajar lagi, dan hanya bisa membantu orang tuanya membersihkan lumpur sisa banjir di rumahnya. “Bukunya rusak pak, tidak bisa belajar,” akunya kepada Koran Pantura, Senin (15/3) pagi.

Hal ini  dibenarkan oleh Rahma (34), orang tua Candra. Menurutnya kini seluruh alat tulis dan buku pelajaran milik anaknya sudah tidak bisa dipakai kembali. Begitu juga dengan seragam sekolah milik anaknya yang disimpan dalam lemari. Semuanya rusak kena air banjir. “Nggak tahu sudah mau ngomong apalagi, sudah capek mengeluh terus,” sebutnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Probolinggo Rika Apria Wijayanti mengatakan bahwa apa yang dialami oleh Rahma dan anaknya itu adalah representasi dari permasalahan yang dialami oleh seluruh korban banjir. Bahkan Rika melihat langsung kondisi buku-buku pelajaran yang berserakan dan bahkan ada yang sampai digantung diatas kasur demi menyelamatkan aset berharga pendidikan anak tersebut.

“Kami sudah melihat langsung hal yang sangat memperihatinkan tersebut. Selama ini bantuan yang difokuskan hanyalah pada sembako dan tenaga untuk membersihkan lumpur, dan itu sama sekali tidak salah,” katanya.

Namun, ada yang luput dari perhatian. Oleh karena itu, pihaknya akan segera melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo. Terutama untuk mencarikan solusi atas permasalahan tersebut melalui anggaran dana Tidak Terduga (TT) ataupun APBD untuk bantuan pengadaan buku tulis dan buku pelajaran.

“Untuk itu kami meminta kepada Dispendik untuk melakukan pendataan terhadap para anak korban banjir yang berstatus sebagai pelajar. Apa saja yang mereka butuhkan harus dilist dan dipastikan untuk bisa disediakan demi masa depan generasi penerus bangsa tersebut,” tegasnya.

Sementara, Kabid Pembinaan SD Sri Agus Indariyati menyampaikan bahwa pihaknya akan terlebih dahulu menyampaikan permasalahan tersebut kepada kepala dinasnya. Lebih lanjut, dikatakannya bahwa hingga saat ini proses pembelajaran yang dilakukan masih belum tatap muka.

“Akan kami koordinasikan terlebih dahulu. Namun demikian, pembelajaran yang berlangsung saat ini masih menerapkan metode daring dan luring. Sehingga untuk pembelajaran tatap muka masih menunggu keputusan dari ketua satgas Covid-19 sesuai zona yang ada di kabupaten Probolinggo,” terangnya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel