Sosbudpar

Banjir Dringu Terparah, Gubernur: Segera Pasang Bronjong  


DRINGU – Kecamatan Dringu diterjang banjir untuk kali keempat pada Rabu (10/3) petang. Banjir kali ini bahkan lebih parah, dan lebih luas areanya. Atas bencana banjir yang terus terjadi di Dringu ini, Kamis (11/3) Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa datang meninjau. Gubernur menyatakan bakal segera memasang bronjong di tanggul yang jebol di Dusun Gandekan, Desa Dringu.

Sebelum meninjau langsung lokasi banjir dan tanggul yang jebol itu, Gubernur Khofifah secara simbolis menyerahkan sejumlah bantuan kepada Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari. Bantuan itu berupa 2.000 buah glangsing, 20 lembar bronjong, terpal 10 lembar, jumbo bag 30 pcs, velbad 5 unit, gergaji mesin 1 unit, pemotong dahan 2 unit, 100 paket sembako, dan  sejumlah jenis barang lainnya.

Lalu, Gubernur Khofifah bersama Bupati Tantri yang kemarin didampingi suaminya, yaitu Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hasan Aminuddin, melihat dapur umum (DU). Mereka   menyapa para anggota Tagana yang betugas.

Dari dapur umum, mereka menuju lokasi pengungsian di SDN Kedungdalem 1 yang letaknya berada disisi barat kantor kecamatan Dringu. Sekolah itu dijadikan posko penanggulangan bencana.

Di tempat tersebut, Khofifah menyapa para pengungsi. Khofifah sempat diwaduli soal lahan rumah salah satu pengungsi yang kondisinya tersisa dua meter saja dari bibir sungai, lantaran tergerus arus sungai Kedunggaleng.

Mendapat pengaduan dari pengungsi itu, Khofifah mengatakan akan mengeceknya secara langsung ke lokasi. “Baik bapak, akan kami cek ke lokasi setelah ini. Semoga bisa kita carikan solusinya,” ujarnya.

Saat itu Khofifah juga menyerahkan bantuan berupa buku tulis kepada anak-anak yang ditemuinya di pengungsian. “Tetap semangat dan terus belajar. Cobaan ini pasti segera berlalu,” katanya memberi semangat.

Setelah itu, Khofifah bersama rombongan langsung menuju ke lokasi bekas banjir di desa Kedungdalem. Di sana Khofifah melihat langsung kondisi air sungai Kedunggaleng yang bewarna keruh dan banyak ditemui sampah. Lantas rombongan bergeser kembali ke lokasi tanggul yang jebol di Desa Dringu.

Dari pengamatannya itu, Khofifah menyampaikan bahwa permasalahan banjir yang terjadi di Kabupaten Probolinggo dan bahkan wilayah lainnya di Jawa Timur nyaris identik. Selain karena tingginya curah hujan dan banyaknya sampah, juga karena faktor pendangkalan sungai akibat tebalnya sedimentasi. 

“Karena itu, kami mendorong untuk adanya kesadaran warga sebagai relawan jogo kali. Melalui relawan ini kebiasaan membuang sampah di sungai harus dihilangkan. Bersamaan dengan itu kegiatan reboisasi hutan harus terus digalakkan dikawasan hulu sungai,” katanya.

Terkait tanggul di sepanjang sungai Kedunggaleng yang mengalami kerusakan, Khofifah menegaskan bahwa proses perbaikan akan segera dilakukan oleh Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur. Bahkan untuk jangka panjangnya, pemprov akan mengalokasikan dana untuk melakukan pembangunan tanggul permanen dan normalisasi sungai Kedunggaleng.

Namun menurutnya, untuk saat ini yang paling mendesak yakni pemasangan bronjong terlebih dahulu. “Yang rawan harus dibronjong lebih dulu. Setelah itu kami akan membangunkan plengsengan untuk penanganan secara lebih permanen. Ini sedang dihitung, DED (Detail Engineering Design) kira-kira butuh waktu 1,5 bulan,” katanya.

Disebutnya pembangunan bronjong paling cepat akan dimulai maksimal Minggu ini. Hal ini demi percepatan penanganan di titik rawan agar proses recovery bisa berjalan lebih dulu. “Sambil kita cocokkan anggaran di tahun 2022. Tapi Kementerian PU-PR lewat BBWS Brantas sudah menyediakan alokasi anggaran. Terpenting Pemkab dan Pemprov sudah sejalan,” pungkasnya.

 

Banjir Lebih Parah

Pada Rabu (10/3) petang, banjir kembali menerjang Probolinggo. Hujan lebat di wilayah lereng gunung Bromo membuat aliran sungai Kedunggaleng meluap dan merendam sejumlah desa di wilayah kabupaten Probolinggo. Tetapi yang terparah memang tetap di Kecamatan Dringu.

Desa-desa itu meliputi  Kropak dan Kramatagung di kecamatan Bantaran, desa Jorongan di kecamatan Leces, desa Tegalrejo, Kalirejo, Kedungdalem dan Dringu. Desa-desa tersebut terdampak luapan air sungai dari hulu sungai Kedunggaleng di wilayah Kecamatan Sumber, Kuripan, dan Bantaran.

Saking derasnya hujan yang terjadi diwilayah hulu sungai itu membuat ketinggian debit air sungai Kedunggaleng naik dengan cepat dan mencapai ketinggian di atas 320 cm diukur di pintu air Dam Kalimas. Hal itu lantas membuat banjir meluap dengan cepat ke wilayah pemukiman warga di sepanjang daerah aliran sungai Kedunggaleng, utamanya di 4 desa di kecamatan Dringu.

Tercatat hanya dalam kurun waktu tiga jam pasca guyuran hujan di wilayah hulu yang terjadi sejak pukul 12.00 siang, debit air sungai Kedunggaleng naik drastis dan langsung masuk ke rumah warga diwilayah kecamatan Dringu sekitar pukul 16.00 sore.

Luapan air sungai langsung menerjang masuk ke dalam rumah-rumah warga. Namun sebelum banjir tersebut datang, peringatan soal akan datangnya banjir sudah disiarkan di masjid-masjid yang ada di empat desa. Sehingga warga masih bisa mengevakuasi barang berharganya, dan menyiapkan tangkis di pagar dan pintu rumah masing-masing.

Namun, banjir yang datang ternyata lebih tinggi. “Biasanya tidak setinggi ini. Sia-sia saja kerja bakti membersihkan lumpur di dalam rumah. Ternyata tangkisnya dilewati,” kata Sugeng (48), salah seorang warga dusun Krajan desa Dringu, Rabu (10/3) sore.

Rentetan banjir ini menurutnya adalah yang terparah dibanding sebelumnya. “Dua puluh tahun saya tinggal di sini, banjir kali ini merupakan yang paling parah. Kasur, sofa, dan barang elekronik seperti kulkas dan mesin cuci rusak semua terendam banjir,” jelasnya.

Tak hanya merusak perabotan rumah tangga, sejumlah rumah pun rusak akibat derasnya terjangan banjir. Total sebanyak 7 rumah rusak di desa Kedungdalem dan Dringu, baik yang rusak parah maupun rusak sedang. “Rumah saya ambruk. Temboknya tidak kuat, kena banjir,” ujar Sukiyono, warga dusun Gandekan desa Dringu.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo mengatakan,  dampak banjir kali ini skalanya lebih luas dibanding banjir sebelumnya. Jumlah warga terdampak mencapai 1.837 KK (Kepala Keluarga) atau 5.692 jiwa. “Data pastinya masih dalam proses assesmen. Kami masih menghitungnya. Yang jelas bertambah jika dibanding jumlah warga terdampak sebelumnya,” katanya.

Disebutkan pula bahwa selama banjir yang kemudian surut sekitar pukul 19.00 itu ada sekitar 74 jiwa yang dievakuasi ke kantong-kantong pengungsian di SDN Dringu, pendopo kecamatan Dringu, dan SDN Kedungdalem 1.

“Fokus utama kami untuk menyelamatkan warga terlebih dahulu. Sambil mendistribusikan bantuan kepada warga terdampak banjir. Sedangkan untuk proses perbaikan tanggul masih terus kami koordinasikan dengan Pemprov,” ujar Tutug. (tm/iwy)


Bagikan Artikel