Sosbudpar

Kurang Tidur Demi Isi Perut Korban Bencana


PROBOLINGGO – Pertama kali banjir datang dan merendam dua desa di kawasan kecamatan Dringu pada Sabtu (27/2) malam hingga Minggu (28/2) dini hari. Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Probolinggo langsung mendirikan dapur umum pada Minggu siangnya. Pendirian dapur umum itu sendiri tak lepas dari pengorbanan kepala dinasnya yang berhutang sana sini untuk bisa mendirikan dapur umum saat itu juga.

Lima hari sudah dapur umum bagi korban banjir di kecamatan Dringu berdiri. Selama itu pula para relawan bencana yang tergabung dalam Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinsos Kabupaten Probolinggo terus memasak makanan diatas kompor yang tak berhenti membara setiap harinya, baik pagi, siang, sore,  dan malam hari.

Ada 4 kompor berukuran besar yang dipajang di depan mobil dapur umum. Diatasnya ada panci berukuran besar dengan kapasitas memasak beras hingga setengah kwintal atau 50 kilogram sekali masak. Panci itu pun kerap dibuka tutup penutupnya untuk mengecek kondisi beras apakah sudah masak atau belum.

Tak tanggung-tanggung untuk mengaduk beras tersebut, dibutuhkan dua orang yang bergantian menggunakan pengaduk dari dua sisi untuk membalik-balik beras agar matang merata. Terkadang mereka menambahkan air untuk benar-benar memastikan beras itu masak.

Setelah memasak nasi, kegiatan selanjutnya dilanjutkan dengan memasak mie ataupun menggoreng tempe atau telur untuk kemudian disajikan dalam bungkusan nasi yang telah disiapkan. Namun sebelum itu tampak ada kegiatan lainnya didalam tenda yang berada disisi Utara mobil dapur umum. Dimana didalamnya tampak para petugas Tagana tengah membuat racikan bumbu untuk dicampurkan kedalam menu lauk pauk yang disiapkan.

Mereka tak banyak bicara, namun sesekali mereka bergurau satu sama lainnya. Seakan ingin menghilangkan rasa capek dan penat lantaran harus meninggalkan keluarga dirumah selama berhari-hari demi memastikan para korban bencana banjir tak sampai kelaparan.

Mereka bekerja begitu teroganisir, seperti sudah ada pembagian tugas sebelumnya. Dimana para pria bertugas pada bagian memasak dan yang perempuan bertugas membuat bumbu hingga membungkus satu-persatu makanan yang telah dimasak sebelumnya. 

Belum lagi mereka harus bertugas mengantarkan makanan ke lokasi tertentu apabila ada laporan korban banjir belum menerima pasokan makanan yang telah dibagikan sebelumnya. Pada intinya harus selalu ada nasi bungkus yang siap di distribusikan sewaktu-waktu diminta oleh warga baik yang melapor via telpon maupun yang datang langsung ke dapur umum.

Dalam sehari, dapur umum itu harus mampu memasak hingga 3.000 bungkus makanan. Bukan jumlah yang sedikit tentunya, namun berkat pengalaman mereka bertahun tahun di dapur umum. membuat mereka seakan tak peduli akan berapa banyak mereka memasak dalam sehari. Terlebih informasinya, salah satu koki masak di dapur umum itu merupakan juara lomba masak tingkat nasional khusus kategori dapur umum.

Tak heran, fakatanya dilapangan setiap nasi bungkus yang mereka kirimkan selalu habis dinikmati oleh para korban bencana banjir. Meskipun kalau dilihat menunya sangat sederhana sekali yakni nasi, mie, telur dan 2 potong tempe lengkap beserta sambalnya. Namun meski sederhana, seakan nasi bungkus buatan dapur umum itu selalu menjadi menu spesial bagi para korban banjir.

Koordinator Tagana Kabupaten Probolinggo Cholifah mengungkapkan dalam sehari proses memasak yang dilakukan di dapur umum dibagi berdasarkan shift. Sehingga terdapat petugas yang tengah bertugas dan ada yang beristirahat. Mereka bergantian darinwaktu ke waktu agar tentunya mereka tidak kepayahan.

“Kami memasak mulai dini hari hingga petang, terkadang lanjut sampai malam. Apalagi pada saat awal bencana, kami benar-benar dikejar target untuk membuat nasi bungkus sebanyak 3.000 bungkus dengan waktu yang singkat karena sudah ditunggu para korban banjir,” ujarnya.

Namun dikatakan perempuan ramah, bahwa target memasak dengan cepat adalah sebuah hal yang biasa dalam menangani para korban bencana. Karena mereka berprinsip membantu korban bencana tak harus turun langsung ke lokasi, tapi juga bisa memberikan bantuan berupa makanan yang dibuat dengan tangan mereka.

“Kalau korban bencana kelaparan, mereka pasti akan sangat emosional dan menganggap taknada perhatian buat mereka. Untuk meredamnya salahn satunya adalah dengan memberikan mereka bantuan makanan secepatnya,” katanya.

Menurutnya ada kepuasan tersendiri bagi mereka yang berjiwa sosial untuk saling membantu sama lain utamanya para korban bencana. Karena di dapur umum pula mereka akan tahu siapa-siapa saja dermawan yang menyumbangkan sebagian rejekinya untuk dibagikan kepada para korban bencana alam. “Biasanya mereka hanya datang dan mengantarkan bantuan baik berupa beras maupun bahan makanan lainnya dan langsung pergi,” ungkapnya.

Cholifah pun mengaku, bahwa sebenarnya dapur umum itu hanya akan dibuka selama dua hari pada awalnya. Namun kemudian oleh Kepala Dinsos kabupaten Probolinggo Ahmad Arif kemudian diinstruksikan untuk dibuka selama sepekan. Dan sebagai bawahan, tentunya dia beserta rekan-rekannya yang lain hanya mematuhinya tanpa mengeluh sedikit pun,”Kalau mengeluh bukan di Tagana tempatnya,” katanya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel