Sosbudpar

Warga Bantu Listrik untuk Sriati


PROBOLINGGO – Setelah ramai diberitakan berbagai media, Sriati (53), warga Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo, akhirnya mendapat perhatian. Rumah Sriati yang berlokasi di Jl KH Ilyas RT 5 – RW 1 Kelurahan Jrebeng Kidul, dialiri listrik oleh warga setempat.

Sriati bukan pasang jaringan listrik baru dari PLN. Rumahnya mulai kemarin (3/3) dialiri listrik dari rumah adiknya yang bersebelahan dengan rumahnya. Dengan begitu, Sriati tidak perlu lagi mengandalkan lampu templek untuk penerangan rumahnya di malam hari.

Untuk listrik ini, Sriati tidak perlu membayar. Sebab, setiap bulannya pembayaran listrik Sriati ditanggung dana dari RT 5 yang didapat dari iuran warga.

Penyaluran listrik ke rumah Sriati kemarin disaksikan oleh Ketua RW 1 Kelurahan Jrebeng Kidul Agus bersama sejumlah warga. Menurut Agus, apa yang dilakukan merupakan inisiatif warga. Lalu pemilik meter yang masih adik Sriati, memastikan tidak keberatan menyalurkan listrik ke rumah Sriati.

Agus mengatakan, sebelumnya, Sriati sudah pernah nyambung listrik dari rumah adiknya. Tetapi sambungan itu sudah lama diputus. “Nggak tahu kenapa kok putus. Ini bekas kabelnya masih ada,” ujar Agus sembil menunjuk bekas kabel di dinding rumah Sriati.

Mengenai pembayaran listrik yang dialirkan ke rumah Sriati, menurut Agus, ditanggung bersama warga dengan pemilik meter atau adik Sriati.

Besarnya sumbangan dari warga  tergantung pemilik meter. “Punyanya berapa. Warga tinggal nambahi. Kalau memang tidak punya uang, biar warga yang bayar. Yang mengkoordinir ketua RT 5,” tandasnya.

Sementara, Rohadin (59), suami Sriati, kemarin tampak ikut membantu penyambungan listrik ke rumahnya. Rohadin mengakui pernah menyambung aliran listrik dari rumah adik iparnya itu. Tetapi sambungan itu putus diterpa angin dan tidak disambung lagi hingga sekarang. Alasannya, Rohadin takut kesetrum dan tak memiliki uang untuk membantu pembayarannya.

Tentang bantuan dari pemkot, pria yang bekerja sebagai tukang becak tersebut mengakui  pernah mendapat bantuan. Namun, ia lupa dan tidak tahu nama program bantuan yang diterimanya. Begitu juga dengan Sriati. “Kami pernah dapat, tapi enggak tahu nama programnya. Bantuan beras dan sembako,” kata Rohadin. 

Sedangkan Sriati mengaku pernah mendapat bantuan etalase yang terbuat dari alumunium. Hanya, ia tidak ingat dinas yang memberi bantuan itu.  

Terpisah, Camat Wonoasih Deus Wanandi menjelaskan, baik kelurahan, kecematan dan dinas sudah membantu Sriati. Bahkan jika yang bersangkutan tidak datang saat penyerahan bantuan, petugas yang mengalah dengan mendatangi rumahnya. “Sering tidak datang. Ya, kami antar ke rumahnya,” jelasnya.

Menurut Deus, Sriati sudah masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosal (DTKS) termasuk cucunya sudah masuk data anak terlantar. Sriati juga sudah mendapat bantuan Sosial Pangan (BSP) dan bantuan rutn dari Baznas Cabang Kota Probolinggo. “Bantuan rutin dari CSR e-warung juga dapat,” tandasnya.

Bahkan, KTP dan kartu BPJS sudah dibuatkan oleh kelurahan, namun sering hilang. Sriati, lanjut Deus, juga sudah mendapat bantuan Covid-19 yang dibayai APBD Kota, namun tidik pernah diambil.

“Ya, kita antarkan. Untuk listrik, pernah nyalur dari rumah saudaranya. Sudah kami tempeli stiker bantuan, tapi disobek. Kan tidak boleh. Tapi tidak apa-apa, kita yang ngalah,”  ujar Camat.  

Hal senada diungkap Kepala Dinsos Rey Suwigtyo. Menurutnya, Sriati sudah mendapat seluruh program bantuan yang ada di Dinsos. Bukti penerimaan tercatat di kantornya. Tadi saya ke rumahnya bersama Polsek Wonoasih. Polsek memberi bantuan beras. Kalau dari kami (Dinsos, red) sudah dapat semua. Buktinya ada,” ungkapnya.

Sebelumnya, pasutri Rohadin (59) dengan Sriati (53) tinggal di Jalan KH Ilyas, RT 5 – RW 1 Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Rumah sederhana yang ditinggali pasutri ini belum teraliri listrik.

Dalam kondisi hidup serba kekurangan, pasutri tersebut masih harus merawat cucunya, yaitu Slamet Nur Rahman. Bocah yang masih berusia 10 tahun tersebut tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Ia mengalami keterbelakangan mental. Penglihatan dan pendengarannya terganggu hingga tak mampu berbicara.

Di malam hari, rumah pasutri ini hanya diterangi lampu templek dengan bahan bakar minyak goreng. Maklum, harga minyak tanah lebih mahal dari premium, sulit didapat pula.  Jangankan untuk memasang listrik, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja pasutri ini serba kekurangan. (gus/iwy)


Bagikan Artikel