Sosbudpar

Wisata Mistik di Desa Keben


1

Beberapa orang sering mendatangi makam Mbah Guru di Desa Keben Kecamatan Gading dan mengunjungi goa yang mulutnya hanya bisa dimasuki dengan merayap. (Istimewa/Koran Pantura)

GADING – Di Desa Keben Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo ada wisata mistik yang bisa dikunjungi. Tempat itu berupa makam Mbah Guru. Di tempat itu ada sebuah batu tempat tafakur atau tirakat, dan sebuah goa bermulut kecil, namun ruang dalamnya besar.

Rifa’i, salah satu peziarah asal Besuk, mengatakan bahwa makam Mbah Guru terletak di tengah sawah desa setempat. Sedangkan tempat tirakatnya ada di bukit sebelah selatan. Sedangkan goa landak yang memiliki mulut kecil itu lokasinya ke arah utara dari makam.

“Saya datang ke goa itu. Mulut goa kecil. Hanya bisa dimasuki dengan cara merayap. Tetapi kabarnya, di dalamnya luas, sebesar musholla. Goa itu dipakai untuk tirakat oleh Mbah Guru,” ujar Rifa’i, kemarin (13/1).

Dia menjelaskan lagi, Mbah Guru yang dimaksud adalah seorang ulama wanita yang juga menjadi guru ilmu kanuragan. Biasanya warga Tapal Kuda menyebutnya dengan istilah pegurun.

“Kabarnya Mbah Guru itu yang mbabat alas di sekitar Keben. Mendirikan perguruan ilmu agama dan kanuragan. Dulu banyak pengikutnya dan sekarang masih ramai diziarahi,” jelas Rifa’i. Bahkan ada yang bertapa di area itu untuk meminta pusaka. Banyak diantara mereka yang kemudian menemukan cincin akik, dan benda-benda lainnya yang dianggap bertuah.

“Tapi sebenarnya yang diincar adalah sebuah manuskrip atau kitab dan sebuah keris. Namun sampai sekarang belum berhasil didapat, padahal itu warisan utama yang diharapkan,” jelas Rifa’i. Dia mendengar cerita lisan yang berkembang bahwa Presiden pertama Ir. Soekarno pernah datang ke Keben. Tetapi sumber cerita lisan itu tidak jelas, begitu pula dengan saksi hidupnya.

Sedangkan Kades Keben Agus mengatakan, Mbah Guru dihormati sebagai tetua desa itu. Maka tiap bulan menjelang Jumat Legi, warga berziarah ke makam Mbah Guru. “Setahun sekali ada selamatan besar. Memang tradisi kami berziarah sebagai wujud penghormatan atas jasanya” kata Kades Agus yang bertindak sebagai pemimpin selamatan dan ziarah tersebut.

Dia bercerita, kadang kala warga melihat ada rombongan seperti pasukan berbaju putih dan membawa cahaya di tangannya. Mereka berjalan tergesa-gesa melewati jalan desa, namun kemudian hilang.

Ada pula cerita sopir truk yang biasanya bertugas mengangkut sengon di desa tersebut. Sopir juga biasa ziarah. Pasalnya, ada kejadian mesin truk bisa mati dan mogok sama sekali jika tidak didahului ziarah. (ra/iwy)


Bagikan Artikel