Sosbudpar

Kenangan Pahit Pariyem Selama Jadi ART: Tidur tanpa Alas, Mandi tanpa Sabun


PROBOLINGGO – Pariyem (44) dan anaknya, Putri Ella Wahyuningsih, kini kembali menjalani hidup normal. Mereka tinggal bersama anak tiri Pariyem, yaitu Chandra Hidayat (30). Hanya, Pariyem masih belum bisa menghapus pengalaman pahit yang menimpa dirinya saat masih menjadi asisten rumah tangga.

Tidak seperti hari-hari sebelumnya, rumah Candra Hidayat di Jalan Raya Panglima Sudirman, Gang Priksan, Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Kamis (18/2) sekitar pukul 14.00 tampak sepi. Pintu rumah itu tertutup rapat.

Saat wartawan mengetuk pintu dan berucap salam, seorang gadis membuka pintu seraya berucap bahwa Pariyem tengah tidur siang. Dia adalah anak Candra Hidayat, atau cucu Pariyem. Ia mengaku tidak berani membangunkan neneknya. Tetapi, ia tetap mempersilahkan wartawan masuk. Setelah itu, anak gadis itu bergegas masuk ke ruang keluarga.

Beberapa saat kemudian, perempuan berbadan subur menemui sejumlah wartawan yang datang. Dia adalah istri Candra Hidayat. Ia mengaku bernama Eka Wahyu, berusia 36 tahun. Saat wartawan berbincang-bincang dengan Eka, beberapa kali Putri Ella Wahyuningsih berseliweran sambil membawa handphone. Anak Pariyem tersebut ikut menjawab saat ditanya wartawan seputar pengalamannya tinggal di rumah majikan ibunya.

Pariyem sebelumnya bekerja sebagai asisten rumah tangga pada pasangan suami istri Usman dan Menuk. Pasutri ini lebih dulu tinggal di Jl Cokroaminoto sebelum menempati rumah megah milik mantan calon walikota Probolinggo Dewi Ratih di Jl Juanda, Kelurahan Tisnonegaran.

Pariyem bekerja dengan pasutri tersebut sejak tahun 2014, hingga pindah menempati rumah milik Dewi Ratih. Tetapi karena mendapat perlakuan tidak baik, gaji tidak diberikan, sering mendapat kekerasan fisik, bahkan sampai kelaparan, Pariyem akhirnya kabur dari rumah berlantai tiga itu bersama putrinya, Selasa (16/2) pagi. Dan seperti diberitakan, Pariyem akhirnya didukung warga, melaporkan majikan perempuannya ke Polres Probolinggo Kota.

Dalam ingatan Putri Ella Wahyuningsih, ia setiap hari makan dua kali, diberi orang tuanya. Tetapi tidak pernah diberi makan oleh majikan ibunya. Ia bersama ibunya tidur tanpa alas, apalagi kasur. Mandi pun tanpa sabun.

Anak semata wayang Pariyem tersebut mengaku betah atau kerasan tinggal di tempat barunya sekarang, yaitu di rumah Candra. “Lebih enak di sini. Bebas, kemana-mana bisa,” ujarnya.

Putri ingin segera sekolah seperti bocah seusianya. Ia menggelengkan kepala saat ditawari sekolah di kelas 5 sesuai usianya yang 11 tahun. Bocah polos tersebut kalau sekolah lagi minta kelas tiga, karena ia berhenti sekolah dikelas dua. “Enggak, kelas tiga saja. Kan saya berhentinya kelas dua,” katanya.

Saat ditanya handphone yang dipegang diberi siapa, Putri menjawab HP itu dibelikan istri kakak iparnya (Eka Wahyu). Tetapi uangnya pakai uang gaji Pariyem. Dua hari memegang handphone, Putri mengaku sudah bisa mengoperasikan. “Sudah bisa. Belajar sendiri. Baru pertama kali punya hand phone,” katanya.

Khawatir ditanya-tanya lagi, Putri pun keluar rumah dan bergabung dengan tetangganya. Sementara itu, Eka Wahyu mengaku tidak enak membangunkan mertua tirinya, Pariyem, yang lagi tidur di kamar tidur depan. Mengingat, Pariyem badannya panas. “Mungkin kecapekan setelah menemui tamunya. Kemarin sampai dini hari di mapolresta,” katanya.

Ya, Selasa malam lalu, Pariyem diajak warga Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Mayangan, melaporkan ulah majikan perempuannya ke polreta. Padahal, sesungguhnya Pariyem tidak ada niatan untuk melapor, karena permasalahan tersebut dianggapnya sudah selesai.

Keluarga majikan telah meminta maaf atas perbuatan MN. “Usman, suami MN bersama 4 anaknya, tadi pagi ke sini. Minta maaf lagi. Malah anak-anaknya minta izin sewaktu-waktu akan sering main ke sini. Ya, kami izini,” ungkapnya.

Eka menambahkan, sampai saat ini Pariyem masih syok dengan kejadian yang dialami. Karenanya, Eka meminta ibu tirinya tersebut tinggal di rumahnya. Ia tidak ingin Pariyem bekerja menjadi asisten rumah tangga, khawatir kejadian seperti itu terulang lagi. “Keluarga kami trauma. Takut terjadi lagi. Bapak saya sendiri sampai sakit. Mungkin karena mendengar cerita bu Pariyem,” tandasnya.

Eka membenarkan kalau Pariyem kelahiran Solo, Jawa Tengah. Pariyem berada di Kota Probolinggo karena dinikahi mertuanya atau orang tua Chandra. Keduanya kenal di Negeri Jiran Malaysia. “Kan mertua setelah istrinya meninggal, kerja di Malaysia. Di sana kenal dengan Pariyem yang sama-sama kerja di Malaysia. Mereka pulang dan kawin di sini,” katanya.

Dari hasil perkawinanya, mereka memiliki satu anak yakni Putri. Tahun 2013, mertuanya meninggal dan Pariyem menjadi janda. Setahun kemudian, Pariyem dan Putri dibawa Slamet untuk dinikahi.

“Sejak saat itu, Mas Chandra dan kami tidak tahu kabar berita Pariyem dan Putri. Tahunya Selasa kemarin saat pariyem ditemukan warga keluar dari rumah lantai tiga,” tutur Eka. (gus/iwy)


Bagikan Artikel