Sosbudpar

Balita asal Paiton Idap Kelainan Jantung, Butuh Bantuan untuk Operasi


PAITON – M. Reza Al-Farendra Wicaksana, bayi 2 tahun asal Dusun Cempaka, RT 10 – RW 05, Desa Pondok Kelor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, didera kelainan jantung. Penyakit bayi ini tidak segera tertangani lantaran keterbatasan ekonomi keluarganya.

Muhammad Reza Al-Farendra Wicaksana merupakan anak dari pasangan suami istri dari Mohammad Paryono dan Surahwati. Dengan penyakit kelainan jantung yang menderanya, balita Reza hanya bisa terbaring lemah di atas kasur rumahnya.

Kondisinya tiap hari kian lemah. Bahkan, efek dari kelainan jantung yang diderita Reza membuat nafasnya ngos-ngosan, tangan dan kakinya kian menghitam. Kondisi tubuh Reza sangat memprihatinkan.

Penyakit yang dirasakan Reza seperti penyakit musiman yang bisa menyerang kapan saja. Jika penyakitnya tengah kambuh, rasa sesak pada pernafasannya terdengar kencang. Persis orang yang baru kelar lari-larian. Terutama pada malam hari, ketika tidur, suara sesak itu sering datang menyerang.

Namun, kondisi demikian masih menyempatkan Reza mengulas senyumnya di hadapan Surahwati dan suaminya. Balita yang belum bisa berbicara itu bertingkah seolah terus ingin memberikan kebahagiaan dan menepis kekhawatiran ibunya terhadap dirinya.

Kedua orang tuanya saat ini hanya bisa pasrah dengan kondisi anaknya itu. Namun, yang membuat keduanya prihatin, penyakit kelainan jantung itu tidak hanya dialami oleh anak kedua-nya yang bernama M.Reza saja.

Melainkan, kakak Reza yang bernama M. Aulian Ghayda Fattana Al-Ghoniyuh juga menderita penyakit yang sama yakni penyakit kelainan jantung. Dari kondisi itu, kedua orangtua balita itu berharap ada dermawan yang membantunya untuk biaya pengobatan kedua anaknya.

Surahwati mengaku dirinya hanya bisa pasrah dengan kondisi kedua anaknya. Dia berharap, ada orang baik yang bisa membantunya. Melihat kondisi perekonomian keluarganya yang sangat tidak mampu untuk melakukan pengobatan pada anaknya. Lantaran biaya yang di luar kemampuan ekonomi mereka.

Maklum pekerjaan suminya, hanya sebagai buruh tani yang penghasilannya tak tetap setiap hari. Untuk bisa menyambung kehidupan dari hari ke hari, sudah sangat kesusahan. Namun dengan kondisi serba kekurangan itu, keluarganya harus menerima torehan takdir dari semesta.

Jika boleh meminta dan memilih, Surahwati berharap penyakit yang didera kedua buah hatinya itu dijatuhkan pada dirinya sendiri. Hatinya tak mampu menahan derai air mata tiap kali melihat anaknya merengek kesakitan. Tak ada yang bisa ia lakukan salain berharap dari semoga ke semoga.

“Kami terima kondisi ini, karena ini sudah menjadi suratan takdir keluarga kami. Kami juga berharap ada orang baik yang dapat membantu,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Tidak hanya itu, Surahmi sudah beriktiar dengan mendaftarkan kedua anaknya untuk ikut jaminan kesehatan berupa Badan Pelayanan Jaminan Sosial atau BPJS. Namun, karena besarnya biaya perawatan dan operasinya yang harus dilakukan pihak Rumah Sakit. Menurut Surahmi, pihak BPJS tidak bisa menanggungnya.

“Kami sudah punya BPJS. Karena biaya yang harus dibayarkan cukup besar,  pihak BPJS tidak bisa menanggung beban biaya pengobatan itu. Kami berharap kepada Pemerintah daerah melalui K3S maupun Baznas agar bisa sedikit membantu kami,” tuturnya. (yek/iwy)


Bagikan Artikel