Sosbudpar

Kisah Pilu Muhammad Bakri, Bocah Penderita Lumpuh Otak dan Epilepsi


PROBOLINGGO – Di usia hampir 3 tahun, Muhammad Bakri dibekap dua penyakit yang membuatnya hanya bisa berbaring dan menangis. Bocah asal Kelurahan Triwung Lor, Kademangan Kota Probolinggo itu menderita cerebral palsy (lumpuh otak) dan epilepsi. 

Kasur tipis itu digelar di atas lantai sebuah rumah di Jalan Mawar atau Gang Sukun, RT 04 – RW 01 Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. Di atas kasur itulah Muhammad Bakri berbaring menghabiskan waktu setiap hari.

Saat dikunjungi wartawan pada Selasa (26/1) pagi, Bakri terbaring ditunggui ibunya, Khoiriyah (25). Sambil menangis, tangan dan kakinya bergerak tak berhenti seperti kejang. Otot di lengan dan kakinya terlihat mengeras, seperti orang dewasa sedang mengangkat benda berat.

Bakri yang pada Maret 2021 nanti berusia 3 tahun, hanya bisa telentang. Ia bahkan tak mampu membalikkan tubuhnya untuk tengkurap. Tangisnya terhenti setelah berada di pangkuan ibunya. Sesekali sang ibu membersihkan air liur yang keluar dari mulut Bakri dengan tisu.

Di usianya saat ini, Bakri belum bisa berbicara dan tak mampu berdiri, meskipun kaki dan tangannya terlihat berotot. Bisanya ia hanya bergerak-gerak seperti kejang dan menangis. “Ototnya keluar karena menahan kejangnya. Berhenti menangis kalau tidur dan digendong,” ujar Khoiriyah.

Muhammad Bakri merupakan putra pasangan Syamsul Arifin (35) dan Khoiriyah. Jika terbangun dari tidurnya saat malam, Bakri jarang bisa tidur lagi. Karena itu, Khoiriyah dan Syamsul Arifin bergantian menghibur Bakri agar tidak menangis dan berhenti bergerak. “Kalau siang, saya sendirian. Suami saya kerja di bengkel. Saya dulu kerja di perusahaan garmen. Sekarang berhenti, merawat anak,” katanya.

Sejak lahir hingga kini, Bakri hanya bisa makan nasi tim, yaitu beras yang ditanak dicampur dengan air. Bakri tidak mau makan nasi seperti bocah normal.

Saat ini, bocah yang raut wajahnya seperti melebihi usianya tersebut menjalani terapi pengobatan alternatif. “Pijat. Sudah 6 kali pijat ke orang yang sama. Alhamdulillah, ada hasilnya. Seminggu dua kali,” aku Khoiriyah.

Dulu Bakri sempat menjalani fisioterapi di rumah sakit. Tetapi setahun terakhir terapi itu tidak berlanjut. Khoiriyah mengaku tidak mampu memenuhi ongkos pulang-pergi dan tinggal di dekat rumah sakit selama putranya dirawat. “Kalau pengobatan dan rawat inapnya dibiayai BPJS. Biaya lain-lainnya itu, kami tidak punya. Kan rumah sakitnya di Malang atau Surabaya,” ucapnya.

Khoiriyah bercerita, dulu oleh dokter  RSUD dr Moh. Saleh yang menangani anaknya, Khoiriyah disarankan berobat ke RSUD Kota Malang. Alasannya, RSUD dr Moh. Saleh alatnya kurang lengkap. Hanya, pada waktu itu ia tidak diberi surat pengantar. Selain itu, saran tersebut tidak dijalankan karena tidak memiliki dana. Bakri akhirnya dibawa ke pengobatan alternatif.

Khoiriyah menidurkan anaknya bukan di atas dipan, tetapi di lantai yang di atasnya digelar kasur. Tempat tidur Bakri di ruang tamu ukuran 2,5 x 5 meter dengan alasan agar mudah dipantau ketika ditinggal Khoiriyah mencuci dan memasak di ruang belakang.

Bakri sejatinya anak kedua Khoiriyah. “Ini anak kedua saya. Anak pertama perempuan dan meninggal dunia dua hari setelah dilahirkan prematur,” jelasnya.

Menurut Khoriyah, dulu Bakri lahir normal dan sehat. Namun, menginjak usia 6 bulan, Bakri sering panas dan kejang-kejang. Sejak itu, Bakri sering keluar-masuk rumah sakit. Hanya,    penyakitnya tak kunjung sembuh. Bakri kemudian divonis menderita penyakit cerebral palsy dan epilepsi.

 “Pernah rekam otak atau EEG (Elektroensefalogram-red) di RSUD dr Moh. Saleh. Katanya cerebral palsy sama epilepsi,” ungkap Khoiriyah dengan mata berkaca-kaca.

Perempuan yang pernah bekerja di pabrik garmen tersebut menyatakan, keluarganya  tidak ada yang memiliki penyakit seperti yang diderita anaknya. Khoiriyah tidak tahu penyebabnya.

Khoiriyah hanya ingat bahwa pada saat usia kehamilannya 7 bulan, ia pernah jatuh saat bekerja. “Enggak tahu penyebabnya anak saya kok jadi begini. Yang pasti saat hamil, saya jatuh,” katanya.

Dengan kondisinya ini, Khoiriyah mengaku hanya sekali dapat bantuan dari Dinas Sosial. Bantuan itu berupa 2 popok bayi dan susu 4 kotak susu isi 400 gram. Saat ditanya apakah ikut Program Keluarga Harapan (PKH), Khoiriyah menjawab tidak.

Bahkan, selama anaknya sakit, Dinas Kesehatan dan Puskesmas terdekat tidak pernah berkunjung ke rumahnya. Khoiriyah berharap ada bantuan untuk biaya pengobatan anaknya. “Hanya itu harapan saya. Kami berharap Dinkes dan puskesmas ke sini melihat kondisi anak saya,” kata Khoiriyah. (iwy)


Bagikan Artikel