Sosbudpar

Didera Asam Lambung, Legenda Tinju Probolinggo Bugiarso “The Killers” Tutup Usia


PROBOLINGGO – Dunia tinju Probolinggo berduka. Petinju legendaris yang telah mengharumkan nama Probolinggo, yakni Bambang Mugiarso atau dikenal sebagai Bugiarso, meninggal dalam usia 49 tahun. Mantan pemegang sabuk juara tinju dunia bulu yunior versi Pan Asian Boxing Association (PABA) tahun 1996 lalu itu wafat Rabu (13/1) pagi akibat serangan penyakit asam lambung.

Kabar duka menyentak Sagitarius Wanto (56), mantan asisten pelatih Bugiarso saat masih aktif sebagai petinju di Sasana Tinju AKAS Boxing Camp Probolinggo. Tarius, begitu ia biasa disapa, sangat terkejut dengan kabar wafatnya mantan atlet didikan sekaligus teman dekatnya itu.

“Kaget, pagi-pagi dapat kabar kalau Bugiarso sahabat saya itu meninggal dunia. Karena ingin memastikannya langsung, maka saya langsung mendatangi rumahnya. Benar saja sudah ada bendera duka di rumahnya, bahkan saya juga sempat ikut prosesi penguburannya bersama dengan pihak keluarga almarhum,” sebutnya, kemarin.

Tarius menuturkan, wafatnya petinju dengan rekor kemenangan 42 kemenangan dan 1 kekalahan itu disebabkan oleh penyakit asam lambung yang dideritanya sejak lama. Puncaknya yakni pada saat petinju berjuluk “The Killers” itu terkena stroke ringan pada medio awal tahun 2020 yang membuatnya harus berhenti sebagai pelatih cabang olahraga (Cabor) Tinju di Pertina Kabupaten Probolinggo.

“Sempat pulih dari stroke ringannya itu, almarhum sesekali hadir dan melihat atletnya berlatih. Namun sejak awal tahun ini dia mengeluhkan nyeri pada bagian perutnya. Hingga akhirnya dia mendahului kita semua pada Rabu pagi sekitar jam 05.00 tadi pagi,” jelasnya.

Bahkan hal yang masih teringat kuat oleh Tarius, yakni ketika dia mendampingi Bugiarso sebelum naik ring menghadapi petinju asal Kediri dari sasana Mirah Silver Bali, yang kemudian dia KO (Knock Out)  pada ronde ke-12 pada sebuah pertandingan sengit yang digelar pada tahun 1995 lalu.

“Dia menjadi sangat sedih jika mengenang pertandingan itu. Karena lawan yang dikalahkannya itu, tak lama dinyatakan meninggal dunia. Bugiarso sempat syok dan tak mau naik ring lagi. Tetapi berkat dukungan dari orang-orangnya di sekitarnya akahirnya dia bangkit lagi hingga akhirnya gantung sepatu setelah dikalahkan petinju asal Thailand Yudam Ring Shid pada tahun 2002 lalu,” kisahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh istri mendiang Bugiarso, Leni Vera. Disebutkan  bahwa di malam sebelum suami yang telah memberinya 3 orang anak tersebut masih sempat duduk dan bercengkerama dengannya di teras rumah. Bahkan almarhum sempat makan dengan lahapnya sembari meminta secangkir kopi padanya.

“Tidak biasanya bapak makan selahap dan sebanyak itu. Tidak tahunya saat pagi ketika hendak saya bangunkan dia sudah menghembuskan nafas terakhirnya di ranjang kami berdua,” katanya sambil terisak menangis.

Leni juga menyampaikan bahwa sosok mendiang Bugiarso adalah sosok seorang suami yang keras, tegas, dan disiplin. Baik ketika berumah tangga maupun ketika mendidik anak-anaknya yang kini telah sukses bekerja.

“Ketika dia berkata sesuatu maka kami akan mendengarkan dan menurutinya. Dia suami yang baik dan bertanggung jawab serta seorang pekerja keras. Saya sangat kehilangannya dan tidak tahu bagaimana harus menjalani hari-hari selanjutnya. Namun pesan terakhir yang masih saya ingat yakni titip untuk merawat anak-anak sebaik-baiknya,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris KONI Kabupaten Probolinggo Chalid Abubakar yang juga mantan sekretaris Pertina Kabupaten Probolinggo menyampaikan rasa belasungkawanya mewakili para insan olahraga yang menjadi sejawat dari almarhum Bugiarso.

“Kami sangat kehilangan sosoknya yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengembangkan dan membina olahraga tinju di kabupaten Probolinggo hingga disegani oleh daerah lainnya,” katanya.

Dipaparkannya bahwa sosok Bugiarso adalah seorang petinju sejati. Pasang surutnya olahraga tinju di kabupaten Probolinggo telah dicecapnya. Mulai dari tempat latihan yang kurang lengkap dan layak, hingga seperti saat ini. Bahkan banyak diantara atlet tinju binaannya yang kini telah bergelimang prestasi dan telah hidup secara layak.

 “Kesederhanaan dan keramahannya membuat atlet-atlet binaannya menjadi penurut dan selalu berlatih dengan serius. Hal itu dibuktikan dengan berbagai Raihan medali emas yang kerapkali disabet oleh para atletnya,” paparnya.

Vita Dwi Darmayanti, salah seorang petinju wanita didikan Bugiarso, mengatakan bahwa dirinya merasa sangat kehilangan sosok pelatihnya itu. Menurutnya, almarhum adalah pelatih sekaligus ayah ketika dia berlatih dan bertanding tinju.

“Pak Bugi selalu mendukung dan memberi saya semangat ketika bertanding. Dia selalu berujar jangan pernah takut pada siapapun ketika sedang naik ring. Hanya kekuatan doa dan hasil latihan yang bisa mengalahkan lawan dan jangan pernah mundur. Kata-kata itu yang akan selalu saya ingat dari beliau,” kenangnya.

Mewakili rekan-rekannya sesama petinju didikan Bugiarso, dia hanya bisa mendoakan agar arwah almarhum dapat diterima di sisi Sang Pencipta.  “Beliau orang yang baik dan banyak amalnya, kami saksinya untuk beliau. Semoga pak Bugi tenang dan masuk surga,” tutur Vita.  (tm/iwy)


Bagikan Artikel