Sosbudpar

Gegara Termakan Hoax, Pedagang Sembunyi Saat Rapid Test


DRINGU – Satgas Covid-19 Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo Selasa (12/1) menggelar rapid test antigen di Pasar Bawang, Dringu. Di luar dugaan, kegiatan ini membuat Pasar Bawang mendadak sepi. Ternyata ini terjadi karena ada kabar hoax yang lebih dulu beredar.

Sebelum rapid test antigen dilangsungkan, beredar berita hoax. Kabar tak benar itu menyebutkan bahwa rapid antigen menyebabkan hidung berdarah.

Kabar hoax itu kontan membuat ratusan pedagang dan pengunjung Pasar Bawang Dringu mendadak kabur saat kedatangan tim satgas pelaksana rapid antigen kecamatan setempat. Alhasil suasana pasar bawang yang awalnya ramai, berubah seketika menjadi sepi.

Dalam pantauan Koran Pantura, pada awalnya kegiatan rapid test antigen yang diselenggarakan oleh Satgas Covid-19 kecamatan Dringu digelar secara bersamaan sekitar pukul 09.00 di dua titik berbeda. Masing-masing ialah di Pasar Bawang dan Pasar Dringu yang ada di Desa Kedungdalem.

Pada awalnya, kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan disambut biasa saja oleh para pedagang dan pengunjung di kedua pasar tersebut. Tak seperti di pasar Dringu yang mana banyak diantara pedagang dan pengunjungnya dengan sukarela tanpa adanya paksaan mengikuti tes rapid antigen tersebut.

Hal sebaliknya justru terjadi di Pasar Bawang Dringu. Meski sama tanpa paksaan, banyak pedagang dan pengunjung yang justru menghindar dan kabur dari areal pasar lantaran takut.

Setelah ditelusuri oleh Koran Pantura, ternyata banyak pengunjung pasar bawang yang mayoritas bekerja sebagai tukang protol bawang itu bersembunyi di kawasan persawahan di sekitar pasar bawang. Sedangkan bagi para sopir dan pedagang yang hendak menjual bawangnya dengan menggunakan mobil pikap justru sengaja memarkirkan kendaraanya di tepian jalan sebelum masuk areal pasar bawang.

Senati (50), salah satu tukang protol bawang, mengaku takut dites rapid antigen. Alasannya karena dia mendengar kabar yang beredar di antara para tukang protol bawang lain, bahwa tes rapid antigen nanti bikin hidung berdarah karena dicolok menggunakan selang.

“Ya takut lah, masak iya hidung saya mau dicolok dengan alat itu. Kalau benar nanti menyebabkan pendarahan dari hidung, kan sama saja nyari penyakit. Biar sudah, tidak usah rapip-rapid-an,” tutur Senati kemarin.

Hal senada disampaikan Jupri (37) salah seorang sopir pikap pengangkut bawang merah. Ia sengaja memarkir kendaraannya di tepian jalan pantura di sisi timur Pasar Bawang Dringu. Dikatakannya bahwa dia sebelumnya dapat telepon dari temannya yang ada di dalam Pasar Bawang, bahwa sedang ada tes rapid antigen masal yang diwajibkan.

“Karena dari kejauhan saya lihat ada polisi dan tentara, akhirnya saya parkir saja di pinggir jalan, sampai acaranya selesai. Saya takut hidung saya rusak kalau dicolok-colok seperti itu. Biar gratis, saya tidak mau. Takut mimisan atau berdarah,” katanya.

Alhasil dengan kaburnya para pengunjung pasar, kegiatan tes rapid antigen masal yang digelar secara gratis oleh Satgas Covid-19 menjadi tak maksimal. Karena total dari 2 pasar yang jadi sasaran kegiatan tersebut hanya tercatat sebanyak 108 warga saja yang mengikutinya. Rinciannya 50 orang menjalani tes rapid antigen di pasar bawang dan 58 orang di pasar tradisional Dringu.

“Karena dengar isu mau adanya tes rapid antigen itu, mayoritas pedagang menutup gudangnya dan membawa para sopir dan pekerjanya (tukang mrotol) untuk sementara waktu tidak bekerja. Bahkan tadi ada yang sampai naik pagar karena saking takutnya,” sebut Kepala Pasar Bawang Dringu Sutarman.

Sementara, Kapolsek Dringu Iptu Taufiq Nur Hidayat mengakui hasilnya kurang maksimal. Hal itu terjadi lantaran kurangnya sosialisasi terhadap para pedagang dan pengunjung pasar. “Mereka kadung termakan isu-isu hoax soal hidung berdarah. Jadinya, meskipun kita sama tidak memaksa kepada mereka, akhirnya mereka takut sendiri,” sebutnya.

Namun demikian, setelah dilakukan sejumlah tes rapid antigen kepada beberapa pengunjung pasar yang secara sadar dan sukarela mengikuti tes tersebut. perlahan mereka mulai mendekat dan mengawasinya dari kejauhan. “Memang masih banyak yang takut karena isu hoax terlalu dipercaya. Semoga ini nanti jadi bahan evaluasi bagi kami selaku bagian dari Satgas Covid-19 kecamatan Dringu,” terangnya.

Ditambahkan, Kecamatan Dringu mendapatkan jatah sebanyak 1.000 alat rapid antigen. Jumlah tersebut akan dibagi dalam 15 titik pelaksanaan tes rapid antigen di seluruh titik strategis yang ada di kecamatan Dringu. “Kebetulan hari ini ada di dua pasar itu. Selanjutnya akan kami gelar juga di desa-desa yang ada kasus paparan Covid-19-nya,” katanya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel