Sosbudpar

Vaksin Bisa Perbesar Alat Vital? Satgas: Jangan Mudah Percaya


PROBOLINGGO – Beredar banyak informasi tentang efek samping vaksin Covid-19 yang sudah dijalankan di beberapa negara. Namun, tidak semua informasi itu mengandung kebenaran. Plt Direktur RSUD Dr Moh. Saleh sekaligus jubir Satgas Covid-19 Kota Probolinggo dr Abraar HS Kuddah minta masyarakat tidak mudah percaya informasi seperti itu.

Dalam sebuah jurnal terbitan Inggris misalnya, vaksin Sinovac disebutkan memberi efek samping pembesaran alat kelamin. Lelaki yang sudah disuntik vaksin buatan China tersebut disebutkan alat vitalnya memanjang sampai 3 inchi.

Dokter Abraar dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi III DPRD Kota Probolinggo Selasa (5/1) siang mengingatkan warga agar tidak mudah percaya dengan informasi tentang efek samping vaksin Covid-19 yang bertebaran.

Abraar berharap, warga tidak khawatir dan takut, serta tetap mau divaksin agar kebal terhadap virus corona. Apalagi program vaksinasi merupakan aturan dari pemerintah yang harus dilaksanakan dan diikuti.

Dokter Abraar yang juga CEO dari RS Dharma Husada Kota Probolinggo ini juga mengingatkan, berita-berita seperti itu tidak benar, karena belum ada warga yang divaksin di Indonesia sehingga terdampak. “Kalau memang warga harus divaksin, ya kita ikuti saja aturannya. Jangan takut, karena tidak mungkin pemerintah akan menjerumuskan warganya,” kata Abraar kepada sejumlah wartawan usai RDP.

Dijelaskan, vaksin yang akan digunakan pemerintah Indonesia ada 4, yaitu Sinovac (Tiongkok), Novavax (Amerika), AstraZeneca (Inggris) dan BioNTech-Pfizer (Jerman-Amerika). Dari empat jenis vaksin tersebut yang akan dipergunakan awal yakni Sinovac. “Vaksin itu tidak menyembuhkan, tetapi memberi kekebalan terhadap virus corona,” katanya.

Karena itu, meski telah divaksin, nantinya masyarakat harus tetap menjalankan protokol kesehatan (prokes). Sebab, bisa saja orang yang sudah divaksin dapat menularkan virus corona kepada orang lain. “Orang yang sudah divaksin memang kebal. Tapi mereka bisa menularkan atau menyebakan virus corona ke orang lain. Makanya prokes tetap dilaksanakan,” ujarnya.

Untuk tahap awal, kata dokter Abraar, yang akan divaksin adalah tenaga medis (nakes). Sebab, nakes bersentuhan langsung dengan warga dan pasien Covid-19. Seandainya vaksin yang dimaksud berbahaya dan berefek buruk, maka nakeslah yang pertama kali terkena dampaknya. “Saya yakin enggak ada satupun negara di dunia ini yang akan melumpuhkan nakes,” tegasnya.

Sedangkan Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Probolinggo dr Nurul Hasanah Hidayati mengatakan, nakes yang akan divaksin sebanyak 2.233 orang. Untuk warga yang akan divaksin sebanyak 144.967 orang. Adapun untuk lokasi atau tempat vaksin ada 13 pos. Terdiri dari fasilitas kesehatan (faskes) milik swasta, puskesmas, dan rumah sakit.

Selain faskes, puskesmas dan rumah sakit yang sudah siap, tempat penyimpanan vaksin berupa almari pendingin juga sudah dipersiapkan. Faskel milik swasta yang sudah memenuhi syarat sebagai pos vaksin itu sudah ada. “Semua fasilitas sudah siap. Tinggal pelaksanaan,” kata dokter Ida, sapaan karibnya.

Tentang siapa saja yang akan divaksin, dokter Ida menyebut seluruh warga berusia di atas 18 tahun. Soal kapan vaksin akan dimulai, Ida belum tahu. Hingga saat ini vaksin Sinovac belum dikirim. “Kapan pelaksanaan, menunggu petunjuk lebih lanjut. Informasinya untuk Jawa Timur, tanggal 7 Januari datang,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III Agus Riyanto bersedia divaksin pertama kali. Bahkan, ia telah mendaftarkan diri ke Dinkes untuk dipanggil saat vaksinasi dimulai. Hal itu dilakukan untuk menjawab ketakutan dan kekhawatiran warga. “Saya tadi sudah mendaftar dan berpesan agar dihubungi saat vaksinasi dimulai. Ya, saya akan vaksin pertama. Enggak takut. Takdir kan dari Tuhan,” katanya.

Terkait efek samping, Agus mengatakan pasrah. Kalaupun ada warga yang terdampak usai vaksin, sifatnya kasuistik. Artinya, vaksin yang dimaksud berefek ke seseorang, namun ke orang lain belum tentu. “Kalau memang ada warga yang kena efek samping, jangan khawatir. RSUD telah menyiapkan 9 dokter dan nakes yang akan menangani,” ujarnya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel