Sosbudpar

Setahun, 2.326 Pasutri Sah Bercerai


KRAKSAAN – Selama tahun 2020, Pengadilan Agama Kraksaan cukup disibukkan dengan banyaknya perkara perceraian. Tercatat, sepanjang tahun tersebut, ada 2.326 perkara cerai yang disahkan.

Panitera Muda (Pandmud) Hukum pada PA setempat Syafiudin mengatakan, sebelum pandemi Covid-19 merebak, kasus perceraian yang ditangani oleh pihaknya sudah cukup banyak, namun angkanya masih belum mencapai seribu perkara.

“Selama 3 bulan pertama di 2020 atau sebelum pandemi, sudah ada 648 perkara cerai yang kami putus. Jadi memang sudah banyak sejak awal tahun,” katanya, Senin (4/1).

Setelah itu, meski ada pandemi Covid-19 pihaknya tetap banyak menerima berkas perkara cerai. Bahkan pada penghujung tahun 2020, pihaknya kembali memutus 221 perkara cerai.

“Terhitung sejak adanya pandemi ini atau dari April hingga Desember, perkara cerai yang kami putus itu ada 1.678. Tetap banyak. Jadi total selama setahun sudah ada 2.326 yang kami putus,” ungkapnya.

Mirisnya, dalam 4 bulan terakahir, penyebab pernyeraian yang faktornya masalah ekonomi mengalami peningkatan. Ia pun berharap, dengan kondisi pandemi ini, pasangan suami istri (Pasutri) dapat lebih meningkatkan rasa saling pengertian, sehingga potensi untuk melakukan perceraian bisa ditekan.

“Seharusnya dengan adanya pandemi ini, pasutri bisa lebih saling pengertian dalam menjaga hubungannya, karena memang pandemi sangat berdampak terhadap sektor perekonomian.

Selain itu Syafiudin mengungkapkan, angka perceraian di tahun 2020 sedikit mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Ia pun berharap, tahun ini perkara perceraian di Kabupaten Probolinggo bisa kembali mengalami penurunan.

“Kalau dibandingkan dengan tahun 2019, di tahun 2020 ada penurunan. Tahun 2019 itu ada 2.414 perkara cerai yang putus. Jadi ada penurunan hampir 100 perkara,” sebutnya. (ay/awi)


Bagikan Artikel