Sosbudpar

Ada Rapid Test, Bromo Sepi


SUKAPURA – Kebijakan memberlakukan tes rapid antigen bagi setiap wisatawan Gunung Bromo pada momentum Natal dan tahun baru (nataru) membuat angka kunjungan sepi. Hal itu dirasakan langsung oleh pelaku jasa wisata di kawasan Gunung Bromo.

Selama Nataru, Balai Besar TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) memberlakukan syarat semua pengunjung Bromo wajib menyertakan hasil non reaktif rapid antigen. Itu berlaku dari 30 Desember 2020 hingga 3 Januari 2021.

Kebijakan itu sangat berdampak. Bahkan tamu yang sudah terlanjur pesan tiket harus membatalkan diri dan menunda kunjungan ke Gunung Bromo. “Ya banyak yang cancel saat ada rapid antigen itu,” jelas Irwan, salah satu pelaku jasa jeep wisata Bromo, kemarin (3/1).

Irwan menilai, kebijakan itu memang memberatkan calon wisatawan. Sebab, jika harus melalui prosedur itu, biaya perjalanan mereka pun akan membengkak. “Ya alasan mereka seperti itu. Biaya rapid saja 250 ribu. Ya tinggal dikalikan saja. Makanya banyak yang menunda,” jelasnya.

Kebijakan BB TNBTS tentu bisa dipahami. Tujuan utamanya adalah pencegahan penyebaran Covid-19 di kawasan wisata Gunung Bromo. “Memang sudah aturannya seperti itu.  Jadi nggak bisa apa apa. Yang penting bersyukur masih sehat, karena kondisinya memang masih pandemi,” terangnya.

Sementara, Plt Kepala BB TNBTS Agus Budi Santosa mengatakan selain ada pembatasan kuota, TNBTS juga mewajibkan kepada wisatawan untuk menyertakan bukti negatif rapid antigen. Untuk aturan ini berlaku pada 30 Desember 2020 – 3 Januari 2021.

Calon wisatawan harus menyampaikan kepada pengelola maksimal tiga hari sebelum rencana kunjungan. Hal itu dilakukan guna memastikan wisatawan yang datang ke Bromo selama periode tersebur dalam keadaan sehat dan bebas Covid-19.

“Wisatawan juga wajib menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan atau memakai hand sanitizer dan menjaga jarak. Serta tidak membuang sampah sembarangan,” jelas Agus dalam rilis resminya.

Penerapan kebijakan itu dilakukan sebagai upaya agar penyebaran covid 19 tidak terjadi di akwasan Gunung Bromo. “Sehingga keamanan dan kenyamanan itu yang menjadi prioritas kami, ya harapan kami teman teman pelaku jasa wisata bisa memaklumi langkah yang kami lakukan,” terangnya.

Tidak hanya itu, saat penerapan tambahan rapid antigen, TNBTS juga menerapkan sistem site. Artinya pengunjung atau wisatawan harus memperhatikan dengan baik site yang mereka kunjungi. Kunjungan yang dilakukan harus sesuai site yang tertera di tiket masuk. Hal itu agar pengelola juga lebih mudah melakukan monitoring ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Tiket dipesan secara online. Lalu khusus untuk pengunjung yang memesan tiket di lautan pasir bisa mulai memasuki pukul 06.00 WIB,” katanya.

Terlepas dari itu, Agus menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil demi kebaikan bersama. Terlebih kasus Covid-19 di Jawa Timur saat ini masih cukup tinggi. “Pengelolaan TNBTS ini sangat penting. Karena cukup banyak pihak yang bergantung pada pariwisata ini,” pungkasnya. (rul/iwy)


Bagikan Artikel