Sosbudpar

Cerita Mantan Ajudan Wabup yang Terpapar Covid, Obatnya Saja Rp 1,5 Juta dalam Sehari


MARON – Al Yafi Zakaria yang merupakan mantan ajudan Wakil Bupati Probolinggo Drs. H A Timbul Prihanjoko berkisah bahwa dirinya positif Covid-19. Yafi pun harus menjalani isolasi mandiri dan perawatan di salah rumah sakit rujukan khusus pasien Covid-19 di Kabupaten Probolinggo. Dari pengalaman ini, Yafi menegaskan bahwa Covid-19 bukan aib.

Tempat tinggal Al Yafi Zakaria berada di Desa Maron Kidul, Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo. Yafi, begitu ia biasa disapa, kini menjabat sebagai pendamping PKH (Program Keluarga Harapan) di Kecamatan Sumberasih.

Saat ditemui di kediamannya, Yafi menuturkan awal mula dia dinyatakan positif Covid-19. Disampaikannya bahwa rutinitasnya yang kerap bepergian keluar kota untuk urusan pribadi. Ia jadi tidak bisa melakukan work from home (WFH).

Yafi yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumahnya tampak sangat tertutup dan sengaja menghindar apabila diajak untuk bertemu dengan orang lain. Hal itu wajar lantaran oleh dokter yang merawatnya di rumah sakit, Yafi diwanti-wanti agar tidak keluar rumah terlebih dahulu dan wajib mengonsumsi obatnya.

“Tetap jaga jarak ya. Sampeyan tahu kan saya ini positif Covid-19. Jadi harus tetap taat prokes demi kesehatan dan keselamatan diri masing-masing,” kata Yafi saat diwawancara Koran Pantura, Minggu (20/12).

Dalam percakapan berjarak 2,5 meter lebih, Yafi menuturkan bahwa dirinya baru saja keluar dari rumah sakit sehari sebelumnya. Dengan bermasker, Yafi menyampaikan bahwa semenjak dinyatakan positif Covid-19, dirinya langsung down dan merasa seakan dirinya divonis bersalah layaknya seorang narapidana dalam penjara.

“Ceritanya pada akhir November lalu saya pergi ke Jakarta, Bojonegoro, dan Surabaya. Di situ saya yang sangat taat pada prokes yakni selalu pakai masker dan kemana-mana bawa hand sanitizer memang berinteraksi dengan banyak orang. Mungkin dari situ atau bahkan saat saya di Probolinggo ini saya kena virus itu,” tuturnya.

Setelah itu, pada awal Desember, dirinya pun mulai mengalami gejala awal Covid-19 yang disebutnya yakni mulai dari batuk yang disertai dengan mual dan muntah. Selain itu, badan terasa nyeri hingga indra pengecap dan penciumannya yang kehilangan kepekaan. Bahkan setelah meminum sejumlah obat yang dibeli di apotek pun ternyata batuknya tak kunjung reda.  Justru makin parah.

Karena dia khawatir bahwa dirinya suspek Covid-19, akhirnya Yafi sempat pergi melakukan tes swab di salah satu rumah sakit di Surabaya. Hasilnya pun sesuai dengan ketakutan dari Yafi yakni positif pnemonia.

Pnemonia yakni infeksi yang menimbulkan peradangan pada kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru, yang dapat berisi cairan. Pada pneumonia, kantung udara bisa berisi cairan atau nanah. Infeksi dapat mengancam nyawa siapa pun, terutama pada bayi, anak-anak, dan lansia di atas 65 tahun.

“Karena kata dokter saya ada gejala pneumonia, akhirnya saya langsung dinyatakan positif Covid-19. Karena memang gejala awalnya yakni pneumonia itu merupakan awal dari serangan virus Covid-19,” terangnya.

Lantas, Yafi pun bergegas pulang kembali ke Probolinggo dan tanpa pikir panjang langsung berkemas dan langsung pergi ke RSUD Waluyo Jati Kraksaan seorang diri. Di sana dia langsung menyampaikan secara terus terang bahwa dirinya terpapar Cohid-19.

Dengan cekatan, para tenaga kesehatan (nakes) di rumah sakit itu, kata Yafi langsung membawanya kedalam ruang IGD khusus pasien Covid-19. “Di dalam ruangan IGD itu hanya untuk dua pasien. Kebetulan saya berbarengan dengan salah satu komandan Koramil saat itu. Dia juga dinyatakan positif Covid-19 dan kami berdua langsung mendapat perawatan mulai dari diberi cairan semacam infus dan obat-obatan lainnya,” katanya.

Yafi sadar bahwa tak mudah bagi nakes untuk merawat seorang pasien Covid-19. Karena di balik baju hazmat yang mereka kenakan dan sarung tangan yang mereka pakai, mereka tetap harus bisa bekerja profesional seperti saat hendak memasukkan jarum infus. Karena terhalang sarung tangan sehingga nakes tidak bisa merasakan urat dari pasien.

“Sampai bolak balik mereka itu minta maaf karena salah memasang jarum infus itu. Bukannya mereka tak bisa, tapi mereka memang tak leluasa dengan pakaian yang mereka kenakan itu,” kata Yafi.

Alhasil, Yafi harus dirawat dalam kurun 3 hari, dimana selama perawatannya Yafi mendapatkan obat-obatan yang disebutkan Yafi termasuk obat kategori mahal. Bahkan sempat dihitungnya dalam sehari, Yafi yang tahu harga dari beberapa jenis obat yang dikonsumsinya itu. Mengaku bahwa tak kurang dari Rp 1,5 juta harga obat yang dikonsumsinya tiap hari.

“Obatnya memang yang paling bagus yang diberikan. Saya percaya para nakes ini memang bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh. Itu baru dari obatnya, belum lagi yang lain-lainnya,” tegasnya.

Lepas 3 hari usai menjalani perawatan, Kondisi Yafi berangsur membaik dan dia pun diizinkan untuk pulang dan menjalani isolasi mandiri. Selama masa isolasi mandiri yang dijadwalkan selama 14 hari itu, Yafi tetap diminta untuk datang dan melakukan kontrol rutin tiap 3 hari sekali. Tujuannya untuk memastikan kondisinya benar-benar sudah terbebas dari virus Covid-19. “Setelah dirawat, batuk saya mulai reda dan indra perasa saya mulai pulih kembali,” ujarnya.

Di tengah sesi wawancara itu, Yafi pun sempat menyodorkan segelas kopi kepada Koran Pantura. Dengan rasa was-was Koran Pantura pun meminum kopi yang disajikan oleh tuan rumah tersebut. Memang rasa khawatir terpapar Covid-19 itu ada, namun demi menghargai tuan rumah akhirnya kopi tersebut tetap harus diminum. “Sudah jangan khawatir, hasil test swab saya hasilnya sudah negatif. Makanya saya bisa keluar rumah sakit,” kata Yafi meyakinkan Koran Pantura.

Dilanjutkan bahwa hal yang dialaminya ini pada dasarnya dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Yafi pun mengaku beruntung karena dia langsung datang berobat ke rumah sakit. Sebab menurutnya, ada koleganya yang mengalami gejala yang sama namun tak kunjung berobat hingga akhirnya meninggal dunia karena serangan virus Covid-19 yang mengganas dan telat untuk diobati.

“Saya ini kata dokter sudah masuk kategori pneumonia tingkat sedang saat masuk rumah sakit. Kalau terlambat ditangani kata dokter waktu itu, mungkin nasib saya juga sama. Tidak bisa dibayangkan bagaimana nasib anak dan istri saya tanpa saya kalau sampai saya juga meninggal dunia,” katanya sambil mengelus dada.

Oleh karena itu, Yafi menyarankan agar tidak menyepelekan Covid-19. Sebab, corona   memang benar-benar ada dan dia sendiri telah membuktikannya. Namun lebih penting dari itu yakni kepada warga lainnya agar tetap waspada dan mawas diri dengan menerapkan protokol kesehatan dan menjaga jarak.

“Yang perlu saya ingatkan dan ini yang paling penting, yakni Covid-19 dapat disembuhkan asalkan ditangani secara cepat dan tepat. Dan jangan jadikan pasien positif Covid-19 itu sebagai aib dalam keluarga atau lingkungan. Karena hal itu berbahaya bagi mental dan kesehatan pasien yang selayaknya mendapatkan dukungan moril agar lekas memulihkan imun tubuhnya,” tuturnya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel