Sosbudpar

Terdampak Kuota, Target Pendapatan Rp 650 Juta Belum Tercapai


SUKAPURA – Wisata Gunung Bromo selama ini menjadi andalan pendapatan Kabupaten Probolinggo dari sektor retribusi wisata. Namun, pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret lalu, membuat pendapatan wisata dari retribusi Gunung Bromo tidak maksimal. Bahkan target pendapatan sebesar Rp 650 juta sampai kini belum tercapai.

Wisata Gunung Bromo di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo memang ikut terdampak pandemi Covid-19 sejak Maret lalu. Wisata ini ditutup begitu pandemi merajalela, dan baru dibuka kembali pada akhir Agustus lalu.

Namun, meski wisata kembali dibuka, pengelola wisata Gunung Bromo, yaitu Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger (BB TNBTS) memberlakukan pembatasan ketat demi mencegah terjadinya klaster wisata Bromo. Di antaranya ialah membatasi kuota pengunjung hanya 20 persen, meskipun hingga rapat evaluasi reaktivasi wisata Gunung Bromo terakhir memutuskan kuota naik hingga 50 persen atau 1.650 orang per hari.

Wisata alam dengan keindahan matahari terbit dan panorama kawah Gunung Bromo ini memang menarik wisatawan lokal dan manca. Namun, untuk wisatawan mancanegara sampai saat ini belum ada izin untuk memasuki kawasan itu.

Kebanyakan, warga lokal dari Jatim masih mendominasi kunjungan wisata Gunung Bromo. Ada juga beberapa daerah lain khususnya di pulau Jawa yang sudah berkunjung ke kawasan ini meskipun harus menjalankan protokol kesehatan ketat.

Dalam kondisi pandemi ini, praktis hanya ada empat bulan bagi pengelola wisata Gunung Bromo untuk mencapai target pendapatan. Durasi itu dirasa kurang cukup karena target PAD dari retribusi sebesar Rp650 juta. Capaian sementara masih Rp 450 juta. “Ya memang adanya pandemi ini akhirnya nggak bisa maksimal,” jelas Kasi Destinasi wisata pada Disporaparbud Kabupaten Probolinggo Musa.

Pria asli Ngepung itu mengatakan, sejatinya wisata Gunung Bromo menjadi penopang utama PAD sektor wisata selain empat tempat wisata lain. Tetapi yang terbanyak memang dari Gunung Bromo. “Ya terbesar dari Gunung Bromo,” ujarnya.

Musa mengatakan, target tahun ini lebih kecil dibanding target PAD tahun lalu. Tahun lalu ditarget kurang lebih Rp 1,6 miliar. Tetapi di akhir tahun surplus. “Saat P-APBD lalu memang sudah ada penurunan Rp 650 juta. Cuma memang kondisinya tidak bisa diprediksi.  Akhirnya capaian sementara Rp 450 juta,” terangnya.

Menurut Musa, ada beberapa faktor penyebab alotnya pemenuhan target pendapatan dari Gunung Bromo. Yang paling terasa dampaknya ialah batasan atau kuota kunjungan. “Kan ada kuota sekarang. Jadi kami sendiri juga belum bisa maksimal,” ujarnya.

Namun, Disporaparbud tidak kehilangan optimism. Musa berharap hingga saat tutup  tahun nanti target bisa tercapai. “Kami tetap optimis bisa tercapai,” kata Musa. (rul/iwy)


Bagikan Artikel