Sosbudpar

Bosan Main Gadget, Bikin Truk dan Pikap dari Kardus


PROBOLINGGO – Bosan bergumul dengan gadget setiap hari, anak-anak RT 1 – RW 1 Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, beralih mainan. Mereka bermain mobil-mobilan yang terbuat dari kardus bekas.  

Pandemi Covid-19 sejak Maret lalu membuat anak-anak usia sekolah jadi banyak beraktivitas di rumah. Maklum, sekolah hanya bisa dilakukan secara daring. Tak ubahnya libur panjang, anak-anak memiliki waktu berlebih untuk bermain.

Salah satu media permainan yang paling banyak digunakan ialah gadget. Bermain game online, atau sekedar nonton video-video di youtube.  Tetapi ada masanya juga anak-anak mengalami kebosanan bermain dengan gadget. Alhasil, mereka mencari permainan alternatif yang bisa lebih menghibur.

Nah, anak-anak di RT 1 – RW 1 di Kelurahan Pilang sedang marak beralih bermain mobil-mobilan bikinan sendiri yang terbuat dari kardus bekas. Truk dan pikap berbahan kardus itu kemudian ditarik tali yang dikaitkan dengan pegangan berupa kayu. Setiap hari hingga malam mereka berkeliling, menarik mobil-mobilan itu melintasi gang-gang perkampungan. 

Pemandangan seperti itu mengingatkan permainan anak-anak sebelum ada game watch apalagi gadget. Selain dari kardus, dulu mobil-mobilan juga bisa dibuat dari kulit jeruk Bali.  Bahkan ada yang dibuat dari kembang tebu yang sudah menua atau dalam bahasa Madura disebut tonggul.

Selain itu mobil-mobilannya polos tanpa aksesories stiker yang kalimatnya menggelitk,  dan lampu serta sound seperti sekarang. Karena itu permainan mobil-mobilan ala jaman sekarang tetap lebih meriah.

Di kampung RT 1 – RW 1 ada Rasya Wahyu Pratama (11) dan Kurnia Muladi Ahmad (11) yang memulaii dan pembuat permainan mobil-mobilan kardus. Awalnya hanya iseng belaka. Mereka ingin membuat sesuatu dari kardus bekas yang ada di rumahnya. “Pilihannya mobil-mobilan. Karena kami anggap, bikinnya lebih mudah ketimbang yang lain,” kata Rasya, Minggu (6/12) siang.

Dari beberapa jenis kendaraan, pikap paling banyak dipilih. Lagi-lagi alasannya karena lebih gampang dibuat ketimbang truk. Mereka berdua kemudian saling membantu hingga terwujudlah kendaraan terbuka. “Kalau pikap enak. Cukup bikin kepala atau kabinnya saja,” ujarnya.

Mereka berdua lalu menarik mobil-mobilan tanpa aksoseries stiker dan lampu tersebut berkeliling gang. Setelah itu, mereka terinspirasi tulisan dan lampu kelap-kelip yang ada di truk. Maka keduanya membeli stiker dan lampu led bertenaga baterai di warung dekat rumahnya. “Awalnya jelek. Lalu saya kasih stiker dan lampu. Nyontoh di truk. Kok bagus,” kata Rasya.

Dikatakan, lampu kelap-kelip tersebut sebenarnya bukan untuk mobil-mobilan, tetapi untuk sepeda. Begitu juga dengan stiker yang diciptakan bukan untuk mobil-mobilan. Setelah diberi dua aksesoris itu, tampilan mobilan-mobilan tambah keren. “Akhirnya teman-teman banyak yang bikin. Kadang menyuruh saya atau bikin sendiri yang dibantu orang tuanya,” kata Rasya yang diangguki Kurnia.

Biaya pembuatan plus aksesorisnya lanjut Rasya sekitar Rp 17 ribu untuk satu unit pikap. Sementara bahan dan alat yang dibutuhkan, selain kardus bekas, juga lem tembak, bambu yang diraut bundar untuk roda. “Pensil untuk ngemal dan gunting untuk memotong kardus. Teman-teman yang enggak punya lem tembak, pinjam ke kami,” tambah Rasya.

Soal dana, Rasya dan Kurnia menyebut hasil pemberian orang tua yang dikumpulkan. Mereka rela tidak jajan demi memiliki mobil-mobilan. Dengan permainan baru tersebut, anak-anak sudah tidak lagi seharian bermain gadget. “Kalau main gaget terus dimarai mama. Katanya bahaya. Kalau main mobil-mobilan, enggak. Cuman pesan mama, jangan bertengkar,” katanya Rasya.  (gus/iwy)


Bagikan Artikel