Sosbudpar

Ada “Tempe Santri” di Pondok HATI, Jadi Bekal Life Skill dan Sarana Dakwah Bisnis


KRAKSAAN – Dunia pesantren kini semakin modern. Para santri tidak hanya diajari pendidikan keagamaan dan akademik. Ilmu bisnis juga diajarkan. Simak saja pendidikan yang diterapkan di Pondok HATI di Dusun Toroyan, Desa Rangkang, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Para santrinya diajari menjalankan program industri tempe. Produk itu disebut Tempe Santri.

Seorang perempuan berhijab dan mengenakan masker menyambut kedatangan Koran Pantura di Pondok HATI, Selasa (1/12) sore. Wanita itu bernama Ida Purwami. Kalangan pondok karib menyapanya Ustadzah Iid.

Salah satu ruangan ditunjuk olehnya. Langkah kami bersamaan menuju tempat itu. Di dalamnya, sudah ada 6 remaja pria yang sibuk menimbang biji kedelai yang telah direbus. Mereka juga mengenakan masker sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19. Ketika berat timbangan sudah diketahui, kedelai itu dituang ke alas karung bersih.

“Ini salah satu program pendidikan dari pondok. Kami mengajari para santri membuat tempe. Produknya bernama Tempe Santri. Tujuannya untuk memberi Life Skill kepada santri,” ungkap Ustadzah Iid sembari melihat kinerja para santri dalam bekerja.

Para santri Pondok HATI sedang membuat tempe. Selain diajari ilmu akademik, para santri juga diajari life skill untuk bekal ketika lulus pendidikan. (Deni Ahmad Wijaya/Koran Pantura)

Sesaat kemudian, seorang perempuan lain masuk ke dalam ruangan itu. Namanya Ratih Habiba Amalia yang juga tenaga pendidik di Pondok HATI. Keduanya adalah penanggungjawab program pembelajaran entreprneur tersebut.

Program tersebut melibatkan 16 santri yang terdiri dari 3 tim. Setiap tim beranggotakan 5-6 orang. Untuk satu hari produksi, ditugaskan 1 tim. Mereka adalah para siswa kelas XI dan XII. “Mayoritas dari kelas XII dengan 11 anak dan sisanya kelas XI,” ungkap Ustadzah Iid.

Pemberian materi tambahan di pondok itu berawal dari dorongan H. Hasan Aminuddin agar tenaga pendidik di Pondok HATI memberikan pelajaran skill bisnis kepada para santri. Hasan melihat bahwa komoditas tempe sangat digemari masyarakat sebagai lauk harian.

“Bapak (Hasan Aminuddin,red) melihat salah satu yang dikonsumsi banyak masyarakat adalah tempe. Terus kenapa gak buat sendiri. Kalau ikan kan masih ambil dari laut, sedangkan tempe kan bisa buat sendiri,” bebernya.

Mengenai pemasaran, awalnya justru tempe tersebut hanya untuk kebutuhan dapur atau logistik pondok saja. Namun, lambat laun pasar luar juga digarap. Sebelum berhasil memproduksi tempe yang layak jual, para santri beberapa kali bereksperimen.

“Ini full biji kedelai asli tanpa campuran. Kulit arinya juga dibuang. Setelah jadi, kami memang mengutamakan kebutuhan dapur dulu. Pondok mempromosikan ke luar, termasuk pak Hasan. Akhirnya semakin banyak peminat,” ungkapnya.

Ustadzah Ratih juga ikut bersuara. Terutama mengenai teknis produksi. Setiap hari para santri menghabiskan 30 kilogram kedelai. Seluruhnya diolah dan menjadi 130 potong. Setiap potong dijual Rp 5 ribu dengan berat 450 gram.

“Normalnya omzet Rp 650 ribu per produksi. Tiap hari produksi kecuali Sabtu, karena jadwal dengan guru. Karena dari produksi sampai jadi tempe butuh waktu 36 jam dari penempatan di loyang, maka hari libur menjual pada Selasa,” papar Ratih.

Sejauh ini, bungkus tempe santri dari plastik. Namun Bupati Probolinggo Hj P Tantriana Sari juga pernah memberi saran agar diupayakan ramah lingkungan. “Kami mulai produksi juga yang dibungkus daun pisang, supaya lebih ramah lingkungan,” ucapnya.

Selain untuk kebutuhan dapur pondok, tempe santri juga diminati oleh kalangan Pemerintah Desa (Pemdes), Muspika kecamatan, Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) hingga kalangan dokter di RSUD Waluyo Jati.

“Pertama kami komunikasi dengan para dokter. Karena tempenya cocok, kami berencana untuk bekerjasama secara instansi. Jadi memasok kebutuhan tempe untuk RSUD Waluyo Jati. Tapi ini masih wacana,” bebernya.

Mengenai pemilihan santri yang terlibat, memang diakui tidak semua mendapatkan kesempatan yang sama. Mayoritas ialah kelas XII yang tahun depan sudah lulus sekolah. Mereka yang dipilih juga dari kalangan yang kurang mampu dari sisi ekonomi.

“Misalnya mereka ini yang punya cita-cita meneruskan ke perguruan tinggi tapi kurang mampu, nah mereka ini yang kami libatkan. Tapi kami akan regenerasi jika ilmu anak-anak sudah mumpuni, maka giliran santri lainnya,” terang Ratih.

Soal pendapatan, diberlakukan bagi hasil, yakni dari laba bersih sebesar 50 persen ke pondok, 20 persen untuk honor santri, 20 persen investasi, dan 10 persen untuk perawatan alat. “Itu sudah disepakati bersama,” ucapnya.

Muhammad Safdanal Akfan adalah salah seorang santri yang terlibat. Siswa kelas XII itu sudah ikut berkecimpung selama 3 pekan atau waktu pembuatan tempe perdana. Ia mengaku bangga karena menjadi bagian dalam program pembelajaran Life Skill tersebut.

“Pertama kali kesannya bangga. Karena dipercaya, dikasih amanah baru. Sebagai santri saya sangat bangga,” ungkap remaja 18 tahun asal Desa Clarak, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo tersebut.

Ia masih sangat ingat pesan dari H. Hasan Aminuddin untuk mengoptimalkan menyerap ilmu, mengamalkan dan mendakwahkannya ke masyarakat. Begitu juga Akfan memperlakukan ilmu industri tempe tersebut.

“Ilmu ini tidak hanya untuk kami sendiri, tapi untuk ditularkan. Jika nanti lulus, saya ingin membuka usaha sendiri dan menampung pemuda desa untuk mengurangi pengangguran. Ketika kembali ke desa, saya akan menularkan ilmu ini kepada masyarakat sekitar,” tuturnya. (awi/iwy)


Bagikan Artikel